Muhaimin Iskandar Minta Pesantren Beradaptasi dengan Perubahan di Era 5.0

Sebarkan:

Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar. (foto/ist)
JAKARTA – Perubahan yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini begitu cepat dan mengubah seluruh sendi kehidupan masyarakat. Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar mengatakan, semua orang harus bisa beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi, termasuk kalangan pesantren.

”Saat ini zamannya internet on things, semua serba internet. Wajar sampai pidato saja tak lepas dari HP. Lebih murah, tak perlu kertas, tak perlu ngeprint. Sebentar lagi pabrik printer dan kertas bisa tidak laku karena semua cukup di HP,” ujar Gus Muhaimin saat membuka Lokakarya dan Pengukuhan Pengurus Forum Pengasuh Pesantren Puteri (Fasantri) dengan tema “Optimalisasi Peran Pengasuh Pesantren Puteri di Era 5.0” di Jakarta, Senin (20/12/2021). 

Ia berpesan agar pesantren menyiapkan  kader ekonomi di masa 5.0 ini dengan menyiapkan pelaku-pelaku ekonomi baru, serta menyiapkan kader-kader yg bisa menjaga ketahanan masyarakat di tantangan krisis pasca pandemi.

Karena itu Fasantri ini menjadi forum ibu-ibu yang memiliki pesantren, ibu nyai ibu nyai yang memiliki pesantren putri jumlahnya jutaan itu bisa terjaga dan terselamatkan.

Selain itu, pesantren juga harus mempersiapkan literasi kontektual yang menyiapkan orang-orang yang mampu menjaga para santri dari kekerasan dunia luar. Ia berharap pascapandemi pesantren mampu menjadi kekuatan ekonomi baik untuk anak didiknya maupun masyarakat. "Karena kekuatan ekonomi ini melahirkan pelaku aktor ekonomi yang kuat," tuturnya.

Dikatakan Gus Muhaimin, dengan maraknya penggunaan internet di seluruh aspek kehidupan manusia maka mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri akan tertinggal. Bahkan, Gus Muhaimin mengatakan bahwa studi di Jepang menyebutkan bahwa akan terjadi ketidakpastian yang kompleks dan ambigu di era 5.0 Society. 

”Ambigu karena ketidaksiapan masyarakat dan tradisinya. Disisi lain ambigu terjadi dua dunia, dunia yang lama dan dunia baru dalam satu titik yang semakin tidak pasti. Di Jakarta anak-anak muda sudah tidak bertemu secara fisik, tidak bertetangga. Menghubungi anak cukup lewat DM IG,” katanya. 

Persoalannya, di dalam satu masyarakat yang ambigu, tidak jarang masyarakat justru mengambil sampah teknologi sementara kemajuan dan produktivitas dari teknologi itu tidak diambil. 

"Contoh lebih banyak di IG acting daripada yang mengambil manfaatnya sehingga limbah, sampah teknologi, kultur nilai, sistem sosial yang menghasilkan masyarakat yang tidak produktif. Mereka banyak menghamburkan energinya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Misalnya menggunakan medsos bukan untuk memberikan nilai tambah, tapi hanya menghabiskan energi,” tuturnya. 

Selain maraknya penggunaan internet, kemajuan teknologi informasi juga tidak bisa dibendung. Berbelanja cukup menggunakan handphone. Bahkan, perkembangan terbaru mata uang tidak lagi hanya dengan mata uang negara seperti dolar atau rupiah, tapi mata uang antardunia maya. 

Kemajuan teknologi ini, kata Gus Muhaimin, membuat semua hal menjadi lebih efisien, cepat, dan mudah. 

”Di dunia yang sudah artificial ini, semua sudah tidak konkret, tapi maya. Dunia maya menjadi dunia nyata. Kita harus siapkan sebaik-baiknya. Kalau tidak kita akan kelabakan dalam menyiapkan generasi yang lebih produktif, memiliki daya tahan untuk menghadapi persaingan global,” tuturnya. 

Di era Society 5.0, tutur Gus Muhaimin, dunia pendidikan memerlukan kecakapan 4 C, yakni critical thinking atau keterampilan berpikir kritis, creativity, communication atau kemampuan berkomunikasi, dan collaboration atau bekerjasama. (*)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini