WALIKOTA MEDSOS MEDAN

Sebarkan:

Choking Susilo Sakeh. (foto/ist)
SEJAK Minggu malam hingga saat ini, semua akun media sosial milik warga Medan nyaris diramaikan dengan masalah banjir yang melanda ibukota Provinsi Sumut ini. Minggu malam kemarin memang diawali dengan hujan, cenderung deras selama lebih tiga jam. Dan hujan, hingga kini masih saja suka turun, meski memakai waktu jeda.

Tak cuma air di beberapa sungai yang meluap. Drainase kota pun semakin tak mampu berfungsi. Akibatnya, Kota Medan babak belur. Tak ada lagi narasi genangan air. Sebab, yang terjadi adalah genangan banjir. Genangan tak hanya muncul di kawasan langganan banjir. Tapi banyak kawasan yang puluhan tahun tak pernah kebanjiran, kini harus rela ikut menikmati asyiknya kebanjiran.

Yang membuat semakin asyik, warga pun mengaitkan dengan proyek perbaikan drainase dengan pemasangan saluran U-ditch. Pada beberapa tempat, proyek ini sudah selesai dikerjakan. Dan di beberapa tempat lainnya, sedang dalam tahap pengerjaan.

Inti keluhan warga : Kalau banjir yang melanda Kota Medan ternyata semakin parah dari sebelumnya, untuk apa proyek U-ditch ini?

Konon, untuk proyek drainasi dan perbaikan jalan Kota Medan ini, Pemko Medan menyiapkan anggaran Rp 1 Triliun. Dan DPRD Medan juga telah mengetok palu untuk mengesahkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Medan tahun 2022 tersebut (Kompas.com, 2/12/2021).

Tapi, ya begitulah, pengerjaan U-Ditch sepertinya tanpa pengawasan, padahal banyak warga telah memprotesnya. Amburadul, dan membikin masalah baru. “Kita melihat hampir 90 persen yang mengerjakan proyek ini tidak memiliki pengalaman. Pengerjaan pemasangan U-Ditch amburadul,” ucap Hendra DS, Anggota Komisi IV DPRD Medan saat menggelar rapat dengan Kepada Dinas PU Kota Medan Topan Obaja Ginting, Senin, 24 Febr. 2022 (dnaberita.com, 25/1/2022).

Menurut Hendra DS, pengerjaan proyek drainase senilai Rp70 miliar ini mestinya harus menjadi contoh yang baik, dimana pada tahun 2022 ini Pemko Medan menganggarkan lebih dari Rp 500 miliar untuk proyek ini. “Kalau proyek 70 miliar saja tak beres, bagaimana yang 500 miliar nanti.”

Walikota Medsos

Andai kita rajin menyimak akun media sosial Walikota Medan Bobby Nasution ataupun akun milik Pemko Medan, maka terbaca adanya upaya untuk menjadikan Bobby Nasution sebagai sosok Walikota Medan yang energik, penuh ide, tangguh dan siap menyelesaikan masalah yang ada. Dan sesungguhnya, hal semacam ini sah-sah saja adanya.

Dalam konteks ini, aku harus memberi salut kepada tim kreatif dan tim media yang menangani Bobby Nasution. Bayangkan, dari sosok seorang anak muda yang nyaris tanpa prestasi apapun, diupayakan untuk dicitrakan seakan- akan sebagai sosok “Walikota Medan nan Tangguh Perkasa”.

Tapi, sosok Walikota Medan itu ada di dunia nyata, bukan di dunia media sosial. Berbagai permasalahan yang dihadapi sebagai Walikota Medan adalah nyata, bukan sekedar fantasi atau imajinasi di dalam dunia maya ataupun permainan game online. Dengan demikian, penanganan masalah yang ada, pun harus nyata. Tak bisa sekedar koyok-koyok di media sosial.

Masalah banjir adalah fakta di dunia nyata, terjadi dan dialami warga Kota Medan. Genangan air berubah menjadi genangan banjir, adalah nyata diderita warga. Banjir kali ini yang semakin membesar dibanding banjir sebelumnya, pun adalah nyata dinikmati warga. Demikian pula pengerjaan U-Ditch drainase yang amburadul, juga nyata dan bisa disaksikan warga setiap saat.

Tentu rakyat masih mengingat pada masa-masa kampanye Pilkada Medan 2019 lalu, bahwa penanganan banjir menjadi salah satu janji penting yang ditawarkan Bobby Nasution. Wajarlah jika kemudian warga Medan berharap banyak kepada Bobby, Ketika kini ia telah resmi menjadi Walikota Medan. Wajar pula jika warga Medan membayangkan, bahwa dalam mengatasi masalah banjir ini, kelak Bobby tidak hanya mengandalkan APBD Medan. Tetapi Bobby Nasution akan mampu menarik anggaran dari pusat, terutama dalam hal normalisasi beberapa aliran sungai yang membelah Kota Medan.

Sampai di sini, wajar pula kalau kemudian banyak warga Medan kecewa terhadap Bobby Nasution. Sama dengan Walikota Medan sebelumnya, ternyata hingga kini Bobby Nasution masih mengandalkan hanya APBD Medan untuk penanganan banjir di Medan.

Tapi, sudahlah. Saat banjir melanda Kota Medan beberapa hari ini, aku juga sedikit kecewa dengan tim kreatif dan tim media yang menangani Bobby Nasution.

Di tengah suasana banjir ini, tim ini terkesan gagap menyajikan narasi yang bisa tetap mendukung sosok Bobby yang akan dicitrakan. Kecuali hanya menyajikan pernyataan “minta maaf” Bobby, juga “mencari-cari” biang kerok banjir ke fihak lain-lain.

Sekedar mengingatkan, mayoritas warga Kota Medan adalah pembaca yang cerdas dan berkelas. Mereka mampu membaca dengan baik, bahwa setangguh apapun Bobby Nasution yang coba dicitrakan di media sosial, pada akhirnya akan diuji dengan fakta di lapangan.

Jadi, ayo, jangan cuma jadi Walikota Medsos…

*Penulis adalah Warga Kota Medan.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini