Catatan : Choking Susilo Sakeh
AKU yakin, kelien sudah tau adeganw berikut ini :
Selasa (28/7/2026) pekan lalu, Walikota Medan Rico Wa’as meninjau kawasan Jalan Paya Pasir, Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan. Pada sebuah momen, seorang warga setempat -- Ibu Ulfa -- mengadu prihal maraknya begal dan matinya lampu penerangan jalan di kawasan tersebut. Saat dialog Ibu Ulfa dengan Walikota Medan Rico Wa’as sedang berlangsung, tiba-tiba Lurah setempat, Syerly, S.Pd., M.AP., yang berada persis di sisi kiri Rico Wa’as, nyeletuk : “Ciyee, curhat dia bah!”
Seketika, video dari adegan singkat tersebut viral di media sosial. Tentunya, sebagaimana lazimnya tradisi di media sosial, beragam tanggapan pun muncul menanggapi adegan tersebut. Dan mayoritas, tanggapan yang muncul adalah tentang ‘buruknya’ prilaku sang lurah. Intinya, sang ibu lurah tersebut menjadi bulan-bulanan bahan ejekan di media sosial.
Adegan Lurah Syerly menyela dialog antara seorang warga dengan Walikota Medan Rico Wa’as, itu terkesan memang sebuah peristiwa yang dramatis. Karenanya, layak jika sangat cepat menjadi viral di media sosial. Bahkan kemudian, tak salah jika Ibu Lurah Syerly mendapat gelar baru, “Bu Lurah Ciyee Ciyee”.
Akibat viralnya adegan tersebut, konon Bu Lurah telah diperiksa oleh Inspektorat Pemko Medan. Sanksinya, ya begitulah, cuma sebatas rekomendasi kepada Camat Medan Marelan selaku atasan Bu Lurah, untuk memberikan sanksi disiplin ringan kepada Bu Lurah Ciyee-ciyee tersebut.
Selintas, terasa layak jika publik menghakimi Bu Lurah. Konon, sangat tak etis seorang lurah memotong pembicaraan yang sedang berlangsung antara atasannya dengan seorang warganya. Tindakan Bu Lurah Syerly itu, dinilai sebagai tindakan konyol.
Kita tidak tahu persis, apa alasan sesungguhnya dari Bu Lurah Ciyee-ciyee melakukan tindakan tersebut, Padahal, tindakannya itu bisa mengakibatkan dia dinilai sebagai lurah yang tak punya etika dan konyol. Atau, jangan-jangan, di internal Pemko Medan, tindakan Bu Lurah tersebut malah dianggap sebagai tindakan patriotik untuk ‘menjaga citra’ Walikota Medan Rico Wa’as.
*
Selama sekitar 17 bulan Rico Wa’as menjadi Walikota Medan, kita pun semakin mengenal gaya dan kinerja kepemimpinan Rico Wa’as sebagai Walikota Medan. Pertama, sudah menjadi perbincangan umum tentang bagaimana rendahnya kemampuan Walikota Medan Rico Wa’as mengendalikan jajarannya. Hal ini disebabkan, terutama oleh lemahnya aspek kepemimpinan seorang Rico Wa’as sebagai Walikota Medan.
Keberanian seorang lurah menyela percakapan Walikota Medan Rico Wa’as tersebut, semakin membenarkan tentang dugaan ‘rendahnya’ wibawa Rico Wa’as di lingkungan Pemko Medan, juga semakin membenarkan rendahnya kemampuan Rico Wa’as mengendalikan jajarannya.
Apalagi cara Bu Lurah Syerly memotong dialog Walikota Medan dengan seorang warganya tersebut, adalah dengan pilihan diksi dan nada bicara penuh ejekan. Dari aspek pemerintahan, sungguh Tindakan Bu Lurah
Syerly tersebut tidak beretika dan konyol. Meski kemudian, bisa dimunculkan pertanyaan : “Kenapa seorang Lurah berani menyela dialog atasannya dengan warga?”
Dan kedua, Rico Wa’as adalah tipikal “Walikota sadar kamera”. Pejabat tipikal semacam ini, sangat memanfaatkan keberadaan kamera yang mesti disediakan sebagai upaya untuk menampilkan ‘sisi terbaiknya’ sebagai pemimpin. Yakni melalui gestur, nada dan cara berbicara -- termasuk materi apa yang mesti diberi tekanan, cara berpakaian, juga cara berinteraksi dengan rakyatnya di saat kamera sedang “on”. Di depan kamera, pejabat tipikal semacam ini sangat cekatan untuk tiba-tiba tersenyum manis, berakting sibuk dengan gestur berwibawa sedemikian rupa.
Target yang akan dicapai dari praktek sadar kamera ini, sangat terang benderang. Yakni, upaya gimik politik untuk kepentingan pencitraan sebagai sosok pejabat yang terkesan bekerja tanpa pamrih untuk kepentingan rakyatnya.
Namun, ada kelemahan dari pejabat tipikal sadar kamera ini. Yakni, besarnya peluang sang pejabat kehilangan kendali, terutama jika respon publik di lokasi terasa luar biasa. Jika seorang pejabat tipikal sadar kamera kehilangan kendali, maka bisa mengakibatkan pejabat bersangkutan menjadi banyak omong dan banyak janji. Pada kondisi semacam ini, sangat diperlukan ada sosok yang bisa ‘mengerem’ sang pejabat sadar kamera yang kehilangan kendali tersebut.
Meski terkesan sikap Bu Lurah Syerly tersebut memang bisa dianggap konyol. Tapi, jangan-jangan, Bu Lurah Syerly telah berinisiatif mengambil peran sebagai ‘tukang rem’ pada saat terjadinya dialog antara Walikota Medan Rico Wa’as dengan seorang warga tersebut. Dengan kata lain, tindakan Bu Lurah Syerly yang terkesan konyol itu, sesungguhnya adalah tindakan patriotik. Yakni, sebagai upaya bawahan menjaga agar Walikota Medan tidak lepas kendali menjadi kebanyakan janji kepada seorang warganya yang sedang curhat tersebut.
Terlepas apakan tindakan Bu Lurah Syerly tersebut sebagai tindakan konyol atau sebagai tindakan patriotik, rasa-rasanya lucu saja jika Rico Wa’as yang sudah lebih setahun menjadi Walikota Medan, tapi masih sibuk bekerja untuk kepentingan kamera “on’, bekerja untuk gimik pencitraan. Pencitraan itu dibutuhkan pada saat kampanye, bukan pada saat telah menjabat.
Saat kamera sedang ‘on’, Rico Wa’as dinilai adalah Walikota Medan yang cerdas, responsif, terbuka, kreatif, gesit dan sigap bekerja untuk rakyat. Tapi, begitu kamera pada posisi ‘off’, maka Rico Wa’as adalah Walikota Medan yang gagap dan tak tau apa yang telah dan mau dikerjakannya untuk kota sebesar Medan ini.
Mangkanya…
------------------------------------
*Penulis adalah Jurnalis; warga Kota Medan.


