![]() |
| Masda duduk bersila di lantai papan rumahnya sembari memeluk lima anaknya. (foto:mm/ist) |
ENAM anak berlari keluar dari rumah papan 4x6 meter di Dusun Aek Rias, Desa Sipakpahi, Kecamatan Kolang. Suara sandal jepit beradu dengan tanah. Dari mobil sewaan yang berhenti di ujung jalan setapak, Masda Lina Simamora (38) turun perlahan dengan tangan menahan perut. Satu per satu anaknya ia peluk.
Ia tidak menangis karena sakit. Ia menangis karena pulang. Selama hampir sebulan, enam anaknya hanya bisa menunggu kabar tentang ibunya.
Dua minggu sebelum dirujuk ke Medan, Masda mengira nyeri di perutnya hanya masuk angin biasa. Ia tetap berangkat ke ladang bersama suaminya, Periangan Sianturi (46). Mereka petani tanpa tabungan, tanpa aset yang bisa dijual cepat. Di Dusun Aek Rias yang menempel di punggung Bukit Barisan, sakit adalah urusan yang ditunda.
Kalau sakit, obat warung. Kalau parah, orang pintar. "Saya pikir nanti juga hilang. Anak enam, kalau saya berobat, siapa yang masak?" kata Masda lirih.
Nyeri itu tidak hilang. Tiga hari ia tahan. Perutnya seperti diremas, badannya tak bisa tegak, malamnya tak bisa tidur. Pada hari keempat, Periangan memutuskan membawa istrinya turun gunung.
Jarak dari Aek Rias ke Puskesmas Kolang sekitar 20 kilometer. Periangan membonceng Masda dengan motor, menahan di setiap lubang agar guncangan tidak menambah nyeri. Di Puskesmas, dokter jaga memeriksa dan menulis surat rujukan. Kondisinya tidak bisa ditangani di sana.
Ambulans Puskesmas membawa mereka ke RSUD Pandan di ibu kota kabupaten. Di ruang periksa, vonis jatuh: Usus bocor. Infeksi sudah mulai menyebar di rongga perut. Harus segera dioperasi, dan operasinya tidak bisa di Pandan. Harus ke Medan, lebih dari 300 kilometer ke utara. "Saat dokter bilang harus ke Medan, saya langsung lemas. Ongkos saja kami tidak punya. Mau pinjam ke siapa?" kenang Periangan.
Itulah titik yang sering menjadi akhir cerita bagi keluarga seperti mereka di pedalaman Tapanuli. Mereka terjebak dilema klasik warga miskin pedalaman. Dirujuk berarti selamat, berangkat berarti utang. Biaya operasi usus bocor bisa belasan hingga puluhan juta rupiah.
Yang mereka punya hanya satu lembar kartu di dompet lusuh Periangan: Kartu Indonesia Sehat atas nama Masda Lina Simamora. Peserta Jaminan Kesehatan Nasional segmen Penerima Bantuan Iuran, yang iurannya dibayar penuh oleh Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah.
Kartu itu yang kemudian menggerakkan sistem. Petugas BPJS di RSUD Pandan mengaktifkan rujukan berjenjang. Berkas administrasi diurus di tempat. Tanpa uang muka, tanpa deposit, tanpa penjamin. Masda diberangkatkan malam itu juga dalam ambulans rujukan Pandan-Medan.
Setibanya di RSU Mitra Sejati Medan, kondisi Masda semakin menurun. Rasa nyeri membuatnya hanya bisa meringkuk di atas tempat tidur. Wajahnya pucat, bibirnya kering, sementara infeksi terus mengancam. Dokter meminta operasi dilakukan secepatnya.
Periangan mengaku saat itulah ia benar-benar takut kehilangan istrinya. Sebelum pintu ruang operasi ditutup, ia menggenggam tangan Masda erat-erat. Tidak banyak kata yang keluar. Mereka hanya saling menatap.
![]() |
| Masda dipapah anak-anaknya di depan rumah (kiri) dan Masda bersama suaminya memperlihatkan Kartu Indonesia Sehat. (foto/ist) |
"Saya bilang sama dia, kuat ya. Anak-anak masih menunggu di rumah," kenang Periangan.
Masda hanya mengangguk pelan. Air matanya mengalir tanpa suara ketika petugas mulai mendorong tempat tidurnya menuju ruang operasi.
Di luar ruang bedah, Periangan duduk sendirian di bangku lorong rumah sakit. Dengan sandal jepit yang sama ia pakai sejak berangkat dari Kolang. Ia berkali-kali menundukkan kepala sambil menggenggam dompet lusuh yang berisi Kartu Indonesia Sehat milik istrinya. Di dalam dompet lusuh itu tak ada uang yang cukup untuk membayar operasi. Hanya selembar Kartu Indonesia Sehat yang saat itu menjadi seluruh harapan keluarga mereka.
Beberapa jam kemudian, dokter akhirnya keluar dari ruang operasi. "Operasinya berjalan baik," katanya. Kalimat singkat itu membuat lutut Periangan seolah kehilangan tenaga setelah berjam-jam dihantui kemungkinan terburuk.
Operasi berhasil. Dokter menjahit bagian usus yang bocor dan membersihkan infeksi di rongga perut. Beberapa hari berikutnya menjadi masa yang tak kalah berat. Masda masih harus menjalani perawatan intensif sebelum kondisi perlahan membaik.
Hampir sebulan mereka tinggal di Medan, menumpang di rumah singgah dekat rumah sakit, bersama keluarga pasien lain.
Periangan mengaku sering terjaga bukan karena lapar, melainkan cemas. Di kampung, enam anaknya dititipkan bergantian ke keluarga. Yang sulung baru tamat SMA dan sudah mencoba bekerja serabutan. Lima adiknya masih sekolah. "Saya pikirkan anak-anak di kampung. Kalau terjadi apa-apa dengan istri saya, bagaimana mereka nanti," ujarnya.
Kini Masda belum pulih total. Ia berjalan pelan, belum bisa mengangkat beban berat, dan masih harus kontrol rutin ke RSUD Pandan. Tapi ia sudah bisa kembali menanak nasi dan mencuci.
![]() |
| Masda usai menjalani operasi usus bocor di RSU mitra Sejati Medan. (foto:mm/ist) |
Pulang adalah kemenangan
Kisah Masda memperlihatkan bagaimana JKN bekerja ketika sebuah keluarga di pedalaman nyaris kehilangan harapan. Di Desa Sipakpahi, keluarga Masda memang dikenal sebagai salah satu yang paling rentan. Rumahnya kecil, dinding papan yang sudah lapuk, tidak layak untuk delapan orang.
Kepala Desa Sipakpahi, S. Hutabarat, mengatakan keluarga Masda memang termasuk penerima PBI karena kondisi ekonominya. Saat dirujuk ke Medan, desa tidak mampu membantu biaya pengobatan, tetapi seluruh pelayanan rumah sakit ditanggung BPJS.
Sementara, di RSUD Pandan, tempat vonis awal ditegakkan, Direktur dr. Janri Aoyagie Nababan, mengatakan kasus Masda menunjukkan sistem rujukan berjenjang berjalan sesuai fungsinya. Menurutnya, peserta PBI maupun mandiri memperoleh pelayanan medis yang sama sesuai indikasi.
Di ruang tunggu rumah sakit daerah, stigma pasien BPJS dipersulit masih sering terdengar. Namun, kasus Masda menunjukkan rujukan berjenjang bekerja seperti yang dirancang. Puskesmas mendeteksi, rumah sakit daerah menstabilkan, rumah sakit rujukan menindak.
Sistem itulah yang menjembatani 300 kilometer antara Aek Rias dan Medan. Bukan uang tunai, bukan koneksi, melainkan kepesertaan yang aktif dan rujukan yang berjenjang. Program JKN dibangun di atas prinsip gotong royong. Iuran peserta yang mampu dan dukungan pemerintah bagi peserta PBI seperti Masda, memungkinkan masyarakat tetap memeroleh layanan kesehatan meski tidak memiliki biaya.
"Program harus bisa dirasakan sampai desa-desa," kata Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito baru-baru ini.
Bagi Masda, kalimat besar tentang perlindungan semesta itu hadir dalam bentuk paling sederhana. Selembar kartu plastik yang ia simpan bertahun-tahun di dompet, tanpa pernah dipakai, sampai perutnya seperti diremas di ladang.
Sore itu di Aek Rias, setelah semua anaknya selesai berebut peluk, Masda duduk di lantai papan. Di luar, suara jangkrik mulai naik dari kebun.
"Kalau tidak ada kartu itu, mungkin saya sudah tidak ada," katanya sambil menatap anak-anaknya. "Bukan saya saja yang diselamatkan. Mereka juga."
Di balik selembar kartu itu, bekerja prinsip gotong royong. Mereka yang mampu membantu yang lemah, negara hadir untuk yang membutuhkan, dan harapan tetap hidup hingga ke pelosok desa.(jhonny simatupang)




