Bobby Nst, Gerindra & Ijazah Gibran

Sebarkan:

Catatan : Choking Susilo Sakeh

ADA dua pernyataan Gubernur Sum. Utara, Bobby Nasution, akhir-akhir ini, yang menarik untuk dibaca berkaitan dengan kondisi politik bangsa saat ini. Pertama, tentang Gerindra sebagai partai politik yang kini menjadi pilihan Bobby Nasution. Dan kedua, tentang Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai ijazah Gibran. 

Tentang Gerindra sebagai parpol pilihannya, Bobby Nasution bahkan sempat menyatakannya dua kali. Pertama, sebelum MK memutuskan masalah gugatan ijazah Gibran, (“Bobby Nasution Tegaskan tetap di Gerindra : Cukup Sekali Pindah Partai”, RMOLSumut, 5 Okt.2026). Dan Kedua, setelah terbitnya keputusan MK, (“Gubsu Bobby Tekankan Tetap di Gerindra Meski Jokowi Sudah Jadi Kader PSI : Ya Tidak Harus”, TribunMedan, 9 Okt. 2026). 

Kedua pernyataan Bobby Nasution dalam tenggang waktu berbeda itu, isinya sama persis : Menegaskan tetap memilih menjadi kader Gerindra, meski mertuanya Joko Widodo telah menjadi kader PSI. Bobby Nasution membenarkan, sebelumnya dia menjadi kader sebuah partai lain, namun dia dipecat.

Sebagaimana diketahui, saat maju pada Pilkada Medan tahun 2020, Bobby Nasution diusung oleh PDIP berpasangan dengan Aulia Rahman dari Gerindra. Namun saat Pilkada Sumut tahun 2024, Bobby Nasution diusung oleh Gerindra berpasangan dengan Surya dari Golkar. Bersamaan itu, Bobby Nasution juga mendukung pasangan Prabowo/Gibran pada Pilpres 2024. Dan dukungan Pilpres itulah, yang menjadi faktor penyebab Bobby Nasution dipecat dari keanggotaan PDIP.

Jika pada akhirnya Bobby Nasution memilih Gerindra sebagai partai politik pilihannya saat ini, sesungguhnya bukan sesuatu yang istimewa dan  mengherankan, Jika kita amati jejak politik keluarga Jokowi, mertua Bobby Nasution, kita dengan mudah menyimpulkan bahwa ideologi pollitik keluarga Jokowi adalah pragmatisme-transaksional. Maka, pilihan Bobby Nasution kepada Gerindra adalah pilihan paling rasional pada saat ini.

Bahwa benar, partai pemenang nasional pada Pileg 2024 adalah PDIP. Sedangkan untuk tingkat Sumatera Utara, partai pemenang Pileg 2024 adalah Golkar. Namun, Gerindra adalah partai penguasa, partai pengusung Prabowo sebagai pemenang Pilpres 2024. Dengan demikian, Bobby Nasution memilih untuk ‘menjadi bagian’ dari Gerindra, partai politik milik penguasa, jelas berlatar sikap pragmatisme-transaksional.

Dengan ideologi politik semacam itu, kitapun dengan mudah membaca apa yang sesungguhnya dicari Bobby Nasution dari Gerindra. Sebagaimana diketahui, pada priode 2020-2024 adalah Walikota Medan. Di masa kepemimpinannya, banyak proyek berskala besar digarap Bobby Nasional. Diantaranya Revitalisasi Lapangan Merdeka, Revitalisasi Kebun Bunga, Revitalisasi Stadion Teladan, Proyek Pembangunan Lampu Pocong yang dinyatakan total loss, Proyek Pembangunan Gedung UMKM, Proyek Islamic Center, Penataan Kawasan Kesawan termasuk Revitalisasi Gedung Warenhuis, Proyek Pembangunan Flood-way, Proyek Pembangunan Reservoir Air, dan beberapa lainnya. 

Semua proyek tersebut menghabiskan anggaran triliunan rupiah. Sebahagian besar berasal dari APBD Medan, ditambah sedikit bantuan APBN dan APBD Sumut. Yang kemudian menjadi masalah, sebahagian besar diantaranya, hingga kini masih tak jelas kelanjutannya : apakah tuntas secara teknis dan hukum, atau kelak menjadi proyek mangkrak. Terkhusus menyangkut Revitalisasi Lapangan Merdeka Medan, yang dinilai banyak kejanggalan oleh BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) RI.

Belum lagi masalah-masalah lainnya. Semisal isu “Blok Medan” yang muncul pada persidangan korupsi mantan Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba, di PN Ternate pada 31 Juli 2024 lalu. (“Seluk Beluk Blok Medan : Dugaan Keterlibatan Keluarga Jokowi dalam Bisnis Tambang, Respon Istana Negara”, Majalah Tempo, 6 Agustus 2024). 

Dengan kondisi politik nasional saat ini yang relatif penuh dinamika, ditambah dengan peran dan pengaruh politik keluarga Jokowi yang dinilai semakin meredup di dalam peta politik nasional saat ini, maka mau tak mau Bobby Nasution harus mencari partai politik ideal dengan menggunakan jurus pragmatisme-transaksional. 

Soal apakah kemudian pilihan itu bisa membantu Bobby Nasution jika peta politik nasional berubah total, itu soal lain. Begitu pula, apakah kelak Bobby Nasution menjadi kader Gerindra yang setia, itu juga soal lain. Yang penting, untuk sementara, pilihan politik Bobby Nasution memilih Gerindra adalah pilihan yang paling realistis.

*

Dan memilih Gerindra, tak berarti harus berhenti jadi Termul!

Dalam menyikapi keputusan MK soal ijazah setara milik Gibran, sikap Bobby Nasution sama persis dengan para pendukung Jokowi. (“Mas Gibran Setahu Saya Sarjana”, RMOL.ID, Minggu 11 Okt.2026). 

Putusan MK No. 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 pada 6 Oktober 20326 dalam  kasus ijazah Gibran setara SMA, dalam pertimbangan hukumnya MK menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah, sertifikat atau diploma dari luar negeri yang setara dengan SLTA sederajat, sebagaimana diatur dalam Pasal 169 huruf (r) dan Pasal 227 huru (l) UU No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

Menyangkut Surat Keterangan (Suket) Penyetaraan No. 9149/D.DI/KS/2019 yang diterbitkan Dirjen Dikdasmen Kemendikbud RI untuk digunakan Gibran saat pendaftaran menjadi Cawapres, dinilai MK tidak dikuatkan dengan dokumen ijazah/sertifikat/diploma, melainkan hanya berupa ‘Sertifikat of Attendance’ (bukti kehadiran).

Berkaitan dengan heboh soal ijazah setara SMA milik Gibran tersebut, Bobby yakin kakak iparnya merupakan lulusan sarjana, dan karenanya pastilah memiliki ijazah setara SMA. Padahal, yang dipermasalahkan hingga digugat ke MK tersebut, adalah ijazah setara SMA berbentuk Suket Penyetaraan yang disampaikan Gibran pada saat mendaftar sebagai Cawapres pada Pilpres 2024 sebagai pendamping Prabowo sebagai Capres. 

Bobby Nasution terlihat berupaya mengalihkan sudut bahasan, dari membahas Suket Penyetaraan ke status Sarjana yang disandang Gibran. Dan itu, tentu sah-sah saja. Yang paling penting bagi Bobby Nasution pada saat ini, adalah :  Bobby Nasution harus menjadi kader Gerindra, sekaligus menjadi ‘penjaga’ bagi Keluarga Jokowi!

Mangkanya…

-------------------

*Choking Susilo Sakeh adalah Jurnalis Utama, warga Sum. Utara.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com