SIBOLGA - Pihak kepolisian untuk sementara belum dapat memastikan sumber dan penyebab ledakan yang terjadi di tangkahan Baringin di Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Sibolga, Sumatera Utara (Sumut). Begitu juga pihak kepolisian belum dapat memastikan apakah ledakan tersebut terkait aksi terorisme.
Sebagaimana diketahui, pada Senin pagi (24/1) sekitar pukul 09.30 WIB, ledakan dasyat terjadi dari sebuah gudang di dalam tangkahan tersebut mengakibatkan tujuh orang warga (jumlah korban bertambah tiga orang dari empat orang sebelumnya) mengalami luka-luka dan sejumlah rumah serta benda-benda lainnya rusak.
Bahkan akibat ledakan itu, sebanyak 14 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di sekitar lokasi terpaksa diungsikan ke tempat aman oleh pihak pemerintah daerah setempat.
"Saat ini, tim dari laboratorium forensik Polda Sumut bekerja sama dengan Polres Sibolga masih melakukan olah TKP dan mengumpulkan sisa-sisa residu ledakan untuk bisa menentukan apa yang menyebabkan ledakan dan dari mana sumbernya," ungkap Kapoldasu, Irjend Pol RZ Panca Putra Simanjuntak dalam keterangannya kepada awak media usai meninjau lokasi ledakan.
Namun demikian, Panca menduga kuat ledakan itu kemungkinan besar terjadi karena bahan kimia Amonium Nitrat (NH4NO3) di dalam gudang dan tidak terkait dengan aksi terorisme.
Hal itu berdasarkan hasil laporan yang ia terima dan peninjauan langsung yang ia lakukan di lokasi kejadian, termasuk keberadaan bahan kimia di dalam gurang tangkahan.
Amonium Nitrat itu sendiri diketahui merupakan salah satu bahan yang kerap dipergunakan untuk merakit/membuat bom, khususnya bom ikan untuk kepentingan penangkapan ikan di laut.
"Tapi demikian, kita akan tetapi dalami. Terutama dari mana itu dan bagaimana bisa meledak, itu masih dikerjakan," tutur Panca.
Sementara untuk menguak keberadaan bahan kimia itu, Panca yang dalam keterangannya tersebut didampingi Komandan Korem 023/KS, Kolonel (Inf) Febriel Buyung Sikumbang, Kapolres Sibolga, AKBP Taryono Raharja, Wakil Wali Kota Sibolga, Pantas Maruba Lumban Tobing dan lainnya berharap sikap kooperatif dan kerja sama dari pemilik gudang, khususnya pemegang kunci gudang yang meledak.
"Karena yang megang gudang itu bukan yang punya tempat (tangkahan), tapi orang lain. Atau dengan kata lain, pemegang gudang itu mengontrak dari pemilik tangkahan," beber Panca.
Sementara terkait keberadaan bahan pembuatan bom ikan itu, Panca berharap sekaligus mengingatkan dan memohon dukungan serta kerja sama dari seluruh elemen masyarakat, khususnya yang berada di Kota Sibolga sekitarnya, agar jangan menggunakan hal-hal yang terkait dengan pengerusakan ekosistem lingkungan laut, seperti bom ikan.
Menurutnya, penggunaan bom ikan sangat berdampak tidak baik terhadap ekosistem lingkungan, termasuk juga nantinya hasilnya sangat berdampak tidak baik kepada anak cucu.
"Mohon ini kepada masyarakat agar jangan menggunakan itu (bom ikan). Dan sekalian, percayakan kasus ini, mudah-mudahan kita bisa menyelesaikannya dengan secepatnya," pungkas Panca. (jhonny/mm)

