![]() |
| Peserta Journalist Training and Fellowship in Medan berfoto bersama seluruh peserta dan narasumber.(foto/ist) |
Kegiatan tersebut diikuti sejumlah wartawan dari berbagai daerah di Sumatera Utara, termasuk jurnalis media online medanmerdeka.com, Awal Yatim.
Pelatihan dibuka langsung Ketua AJI Medan Tonggo Simangunsong dengan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Head of Field Office IOM Medan Katheleen Lina, Protection Associate UNHCR Medan Oktina Hafanti, serta National Information Officer United Nations Information Centre (UNIC) Siska Widyawati.
Ketua AJI Medan Tonggo Simangunsong mengatakan jurnalis membutuhkan pemahaman yang mendalam dalam melakukan peliputan isu migrasi dan pengungsi.
Menurutnya, wartawan tidak hanya dituntut menulis peristiwa semata, tetapi juga memahami latar belakang sosial, budaya, hingga kondisi politik negara asal para migran dan pengungsi.
“Jurnalis tidak cukup hanya menulis peristiwa, tetapi juga harus memahami konteks dan latar belakang dari isu migrasi itu sendiri,” ujar Tonggo.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta diajak memahami isu migrasi sebagai persoalan kemanusiaan yang kompleks, bukan sekadar konflik sosial atau data statistik semata.
Selain itu, wartawan juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan diksi yang tepat dalam pemberitaan isu migrasi, termasuk menjaga privasi korban dan mengedepankan empati dalam proses peliputan.
Meski demikian, peserta tetap diingatkan agar produk jurnalistik yang dihasilkan tidak kehilangan fungsi kritis media sebagai pengawas atau watchdog. Kegiatan “Journalist Training and Fellowship in Medan” ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta dan narasumber. (awal yatim)


