Rico Wa’as, Walkot Rasa Kepling

Sebarkan:

Catatan : Choking Susilo Sakeh

BAYANGKAN, seorang Walikota Medan marah-marah  merepet seperti nenek-nenek, saat sidak ke sebuah kantor pemerintahan di jajaran Pemko Medan. Menjadi menggelikan, ketika peristiwa tersebut dijadikan sebagai materi untuk akun media sosial. Sidak ternyata bukan sebagai upaya mencari penyelesaian masalah substantif agar kinerja aparat Pemko Medan semakin membaik. Tapi cuma sekedar mencari momen dramatis, untuk mendapatkan sebanyak mungkin “like, coment & share” dari nitizen.

Hal sama juga terjadi saat Walikota Medan meninjau pengerjaan pembangunan drainase sepanjang 100 meter, atau pembangunan trotoar sepanjang 500 meter, misalnya. Kepingin terkesan memberi nasihat, yang muncul malah sikap nyinyir seperti nenek-nenek. Dan menggelikan, semua itu lebih dimaksudkan sebagai materi pada akun media sosial, dengan mencari momen dramatis untuk mendapatkan sebanyak mungkin “like, coment & share”, ketimbang sebagai sebuah kegiatan pengawasan.

Pada akhirnya, apa dan bagaimana ucapan maupun tindakan seorang walikota, sangat ditentukan oleh sejauhmana kualitas kepemimpinan yang dimilikinya. Dan kualitas kepemimpinan itu, sangat ditentukan oleh sejauhmana tingkat kecerdasan yang dimilikinya. Baik berupa kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) maupun kecerdasan spiritual (SQ). 

Seorang walikota yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang nyaris sempurna, tentu bisa menjaga dan memilih kata-kata yang layak dan terhormat saat berinteraksi dengan bawahannya maupun dengan warganya. Seorang walikota yang memiliki tingkat kecerdasan yang nyaris sempurna, tidak akan memanfaatkan momen-momen interaksinya dengan bawahan dan warganya, sebagai salah satu cara membentuk citranya yang seakan-akan positif. 

Seorang walikota yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual, akan mampu memilih dan memilah mana pekerjaan yang layak dilakukan oleh seorang walikota dan layak pula untuk diperlihatkan kepada bawahannya dan warganya, baik sebagai contoh teladan maupun dalam upaya merangsang partisipasi masyarakatnya.

Maka, tentu saja terlihat menggelikan, jika ada seorang walikota mengeluarkan ucapan atau melakukan tindakan yang semestinya cukup dilakukan oleh seorang Kepling misalnya. Apalagi jika kemudian ucapan dan tindakan walikota saat berinteraksi dengan bawahan atau masyarakat itu, lebih dimaksudkan cuma sebagai konten di akun media sosialnya.

*

Ada banyak pekerjaan besar yang semestinya menjadi prioritas Walikota Medan Rico Wa’as, ketimbang sekedar merepet di kantor kelurahan atau nyinyir saat mengunjungi lokasi pengerjaan pembangunan drainase sepanjang 100 meter. Pekerjaan besar itu berupa tindak lanjut dari beberapa proyek warisan Walikota Medan sebelumnya, Bobby Nasution, yang hingga kini tak jelas penyelesainnya.  Selain itu, banyak pula pekerjaan yang masih terus-menerus mengharapkan perhatian serius Pemko Medan, diantaranya adalah masalah sampah, juga banjir dan macet.

Beberapa proyek pembangunan di masa Bobby Nasution yang mestinya ditindaklanjuti oleh Rico Wa’as, diantaranya  Revitalisasi Lapangan Merdeka yang anggarannya bersumber dari APBD Kota Medan dan APBD Sumatera Utara. Pekerjaan Tahap I berasal dari bantuan anggaran Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tahun 2022 dengan pagu anggaran Rp 97 Miliar, manajemen konstruksi Rp 2,5 miliar. Pengerjaan yang dilakukan yaitu penggalian tanah untuk sedalam enam meter untuk basement dari rencana sekitar delapan meter. Selain itu bor pile sebanyak 1.818 titik, capping team 1.090 meter.

Pekerjaan tahap II dan selanjutnya menggunakan APBD Kota Medan. Di tahun 2023, biaya sebesar Rp 313 miliar. Anggaran 2024 sebesar Rp 181 miliar.  Ditargetkan selesai di bulan Desember 2024. Total Anggaran dari APBD Sumut sebesar Rp 100 miliar, dan APBD Medan sebesar Rp 497 miliar.

Pencanangan revitalisasi Lapangan Merdeka oleh Presiden Joko Widodo, Kamis (07/07/2022). Sedangkan peresmian Revitalisasi Lapangan Merdeka Medan seluas 4,88 hektare itu, dilakukan  oleh Wali Kota Medan, Bobby Afif Nasution Rabu (19/02/2025). Namun hingga kini, Lapangan Merdeka masih bermasalah, terutama pada Basement lantai 1 dan 2.

Begitu juga Penataan Kawasan Kesawan. Anggaran dari APBN tahun 2022, mencapai Rp 93,3 miliar.  Pengerjaan proyek dimulai pada 8 Juli 2022 dan selesai pada 29 November 2023. Penataan Kawasan Kota Lama Kesawan dilaksanakan oleh Direktorat Pengembangan Kawasan Permukiman melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sumatera Utara Ditjen Cipta Karya. Beberapa titik yang ditata antara lain Jalan Ahmad Yani, Jalan Ahmad Yani VII-Gedung Warenhuis, Jalan Perdana, Jalan Balai Kota, Jalan Pulau Pinang, dan Jalan Perniagaan. Selain itu, revitalisasi juga dilakukan pada Gedung Warenhuis. Proyek ini sudah diresmikan. 

Khusus Gedung Warenhuis, pada tahun 2025 Pemko Medan menganggarkan Rp 16,3 miliar untuk pembangunan sarana dan prasarana pendukung. Sebelumnya, pada tahun 2023 dan 2024, Pemko Medan menganggarkan Rp 37 miliar untuk Revitalisasi Gedung Warenhuis tersebut. Namun hingga kini, Gedung ini belum juga difungsikan.

Kemudian Revitalisasi Stadion Teladan Medan. Anggaran berasal dari APBD Medan dan APBN. total anggaran renovasi Stadion Teladan Medan Rp545 miliar. di antaranya Rp280 miliar dari APBN meliputi pekerjaan bangunan utama stadion, dan Rp265 miliar dari APBD Medan untuk pembangunan sarana dan prasarana fisik kawasan stadion. Dari APBD tahun 2025, disediakan  anggaran sebesar Rp37 miliar untuk Fasade Stadion Teladan, Rp 6,7 miliar untuk sarana dan prasarana, dan Rp 44 miliar untuk furniture. Peletakan batu pertama oleh Wali Kota Medan Bobby Nasution pada Selasa (6/2/2023). Hingga kini proyek belum selesai. 

Selanjutnya Gedung UMKM Square USU. Anggaran sebesar Rp 105 miliar, bersumber dari APBD Pemko Medan dengan skema multiyears pada tahun 2023 dan 2024. Kemudian anggaran sebesar Rp 19 miliar pada tahun 2025, untuk pembangunan sarana dan prasarana Gedung. Hingga kini, bangunan ini belum selesai.

Termasuk juga pembangunan Islamic Center. Proyek seluas lahannya 22 hektare ini, merupakan proyek multiyears yang sudah dimulai sejak tahun 2022 dan ditargetkan selesai 2024. Anggaran yang digelontorkan hingga 2024 mencapai Rp 432 miliar, diperuntukkan untuk penataan tanah dan pembangunan masjid. Tambahan Anggaran 2025 sebesar Rp 99 Miliar, untuk pembangunan sarana dan srasarana pendukung Islamic Centre. Yakni pekerjaan persiapan, pekerjaan menara, dan pekerjaan masjid. Hingga kini, tak jelas bagaimana nasib proyek Islamic Center ini.

Dan, tentu saja Proyek Drainase pemasangan U-Ditch. Pemko Medan menganggarkan sejumlah dana untuk proyek drainase, termasuk peningkatan dan pembangunan sistem drainase. Anggaran ini dialokasikan untuk mengatasi masalah banjir dan meningkatkan kualitas infrastruktur drainase di kota Medan. Tidak diperoleh data, sudah berapa banyak anggaran yang dihabiskan untuk proyek ini. Namun, hingga kini banjir dan genangan air tetap saja terjadi di banyak kawasan di Kota Medan. Apalagi Pemko Medan memang tidak punya peta drainase Kota Medan.

Selain penyelesaian segera beberapa proyek warisan Bobby Nasution tersebut, maka ada beberapa masalah penting yang semestinya harus terus menerus menjadi perhatian seorang Walikota Medan. Yakni masalah banjir, juga sampah dan macet.

Masalah banjir, terutama pada musim-musim hujan seperti sekarang ini, semestinya menjadi prioritas utama bagi Walikota Medan. Terutama menyangkut fungsi drainase, yang sepertinya kurang bermanfaat sama sekali pada saat turun hujan sepanjang satu jam misalnya. 

Pun masalah sampah. Kita masih sangat gampang menemukan tumpukan sampah di sembarang tempat di Kota Medan. Begitu pula soal macet. Untuk ketiga masalah ini  --  banjir, sampah dan macet  --  kita terlihat tak cuma kewalahan, tapi juga terkesan kalah.

Pada akhirnya, prihal membuat konten dengan gaya merepet dan nyinyir saat sidak ke kantor lurah atau ke lokasi proyek, serahkan saja kepada bawahan terkait. Bisa OPD, bisa Camat atau bahkan juga para Kepling.

Dan sebagai pimpinan tertinggi di Kota Medan, Walikota Medan Rico Wa’as mestinya  mampu mencari kegiatan-kegiatan besar dan penting untuk kemashlahatan warga Kota Medan, ketimbang sekedar merepet di kantor lurah atau nyinyir di lokasi proyek drainase 100 meter tersebut.

Mangkanya…

------------------------------------

*Choking Susilo Sakeh; Jurnalis Utama, warga Kota Medan

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com