![]() |
| Rusli Zainudin bongkar sisi gelap manusia modern lewat lagu hipdut Budak Cinta. (Dok. Istimewa) |
Kepada awak media di Jakarta, Selasa (13/10/2026), Rusli mengatakan lagu tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan kreatifnya. Ia memandang karya musik bukan sekadar pencapaian produktivitas, tetapi juga dokumentasi pengalaman hidup yang mempertemukan profesi, keluarga, tanggung jawab, dan kecintaannya terhadap musik. “Lagu ini penting buat saya karena saya masih diberi kesehatan untuk terus berkarya,” ujar Rusli.
Dirilis pada 5 Oktober 2026 di berbagai platform musik digital, “Budak Cinta” tercatat sebagai lagu ke-25 Rusli yang dirilis secara resmi di platform digital. Sementara berdasarkan perhitungan pribadinya, lagu tersebut merupakan karya ke-29 sepanjang perjalanan bermusiknya. Saat ini, lagu tersebut juga memasuki tahap produksi video musik.
Di balik judul yang terkesan romantis, “Budak Cinta” menyampaikan kritik terhadap gaya hidup manusia modern. Makna perbudakan dalam lagu ini tidak terbatas pada hubungan asmara, tetapi juga menggambarkan kondisi seseorang yang kehilangan kebebasan karena tuntutan pekerjaan, keterbatasan waktu, ambisi, dan tekanan sosial.
“Saya kadang merasa seperti budak waktu, budak pekerjaan. Pulang malam, capek, tetapi hasilnya terasa begitu-begitu saja. Lagu ini sebenarnya sindiran terhadap kehidupan saya sendiri,” ungkapnya.
Melalui pengalaman tersebut, Rusli mengajak pendengar mengevaluasi kembali hal-hal yang dikejar dalam hidup. Menurutnya, keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh pencapaian materi, tetapi juga kemampuan menikmati kebahagiaan sederhana bersama keluarga dan orang-orang terdekat.
“Jangan sampai kita diperbudak oleh sesuatu yang justru merugikan hidup kita sendiri. Mari mencari hidup yang nyaman, indah, dan bahagia,” tuturnya.
Dari sisi musikal, “Budak Cinta” menjadi ruang eksplorasi Rusli melalui konsep Hipdut, perpaduan dangdut, hip-hop, nuansa Melayu, dan sentuhan ritme Latin. Konsep ini dipilih untuk menghadirkan warna musik yang segar sekaligus merepresentasikan pertemuan berbagai unsur budaya.
Rusli awalnya membayangkan lagu tersebut dalam balutan Melayu modern. Namun, setelah melalui proses aransemen bersama Denny MK, komposisinya berkembang menjadi perpaduan sejumlah genre.
“Saya langsung merasa iramanya pas sekali dengan karakter vokal saya. Nada-nadanya masuk dan membuat saya nyaman bernyanyi,” katanya.
Bagi Rusli, Hipdut bukan semata-mata upaya mengikuti tren, melainkan bentuk perkembangan musik Indonesia yang dipengaruhi keberagaman budaya dan genre.
“Menurut saya ini justru otentik. Ada Melayu, ada pop, ada hip-hop, ada rap. Itulah musik Indonesia sekarang,” ujarnya.
Ia mengakui proses memadukan berbagai unsur musik membutuhkan ketelitian agar karakter setiap genre tetap terjaga. Karena itu, aransemen dilakukan dengan mencari keseimbangan antara ritme, karakter vokal, dan kenyamanan saat didengarkan.
“Kami tidak ingin merusak dangdut atau hip-hop. Yang kami cari adalah titik temu supaya semuanya menyatu secara ritmis dan tetap nyaman didengar,” jelasnya.
Dalam perjalanan bermusik, Rusli juga terbuka terhadap kritik dan masukan pendengar. Ia mengaku terus belajar mengembangkan teknik vokal, mengenali karakter suaranya, serta memahami proses membangun sebuah lagu.
“Dulu saya menyanyi apa adanya. Sekarang saya mulai memahami teknik bernyanyi, mengenali karakter vokal sendiri, dan lebih mengerti bagaimana sebuah lagu dibangun,” katanya.
Pengalaman bertahun-tahun menjalani profesi dokter turut memengaruhi cara Rusli memandang kehidupan dan menuangkannya ke dalam karya musik. Berhadapan dengan pasien yang mengalami berbagai kondisi, menurutnya, menumbuhkan empati yang kemudian menjadi bagian dari proses kreatifnya.
“Seorang dokter harus punya empati. Kita menghadapi orang yang sedang kesakitan, sedih, bahkan putus asa. Ada seni dalam memperlakukan pasien, dan itu secara tidak langsung ikut memengaruhi cara saya menciptakan lagu,” tuturnya.
Meski aktif bermusik, Rusli menegaskan profesi dokter tetap menjadi prioritas. Ia menilai tanggung jawab terhadap pasien harus didahulukan ketika dibutuhkan.
“Kalau ada pasien yang membutuhkan pertolongan, tentu profesi dokter harus didahulukan. Itu tanggung jawab yang tidak bisa ditawar,” tegasnya.
Kesibukan tersebut tidak sepenuhnya membatasi kreativitasnya. Rusli kerap memperoleh inspirasi saat dalam perjalanan menuju tempat praktik atau ketika memiliki waktu luang.
“Saya sering mencipta lagu di dalam mobil. Kadang latihan vokal juga saat perjalanan,” ujarnya.
Bagi Rusli, makna cinta yang diangkat dalam “Budak Cinta” juga melampaui hubungan romantis. Cinta, menurutnya, mencakup hubungan dengan keluarga, sesama manusia, alam, serta Sang Pencipta.
Untuk memperkuat pesan lagu, Rusli menyiapkan video musik dengan perpaduan drama, romansa, misteri, dan fantasi. Ceritanya mengikuti perjalanan seorang gadis desa yang menolong seorang pemuda terluka, hingga berkembang menjadi kisah cinta yang diwarnai konflik dan perubahan.
“Saya ingin video ini punya cerita. Jadi orang bukan hanya mendengar lagunya, tetapi juga mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya sampai akhir,” ungkapnya.
Dalam produksi tersebut, Rusli turut terlibat sebagai produser, penulis skenario, sutradara, serta pengarah konsep koreografi. Ia mengaku menjalani latihan hingga dini hari untuk menemukan gerakan yang sesuai dengan karakter musik Hipdut.
“Saya latihan sampai sekitar jam setengah tiga pagi. Karena terlalu lelah, saya sempat terjatuh dan tangan saya terluka. Tapi semua itu bagian dari proses,” kenangnya.
Rusli menyadari persaingan di era digital menuntut musisi tidak hanya menghasilkan karya berkualitas, tetapi juga membangun hubungan dengan pendengar. Ia berharap “Budak Cinta” tidak berhenti sebagai hiburan, melainkan mampu menyampaikan pesan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Saya ingin orang bukan hanya mendengar lagunya sekali, tetapi benar-benar merasakan pesannya dan kembali mendengarkannya di kemudian hari,” katanya.
Baginya, nilai sebuah lagu tidak hanya ditentukan oleh jumlah streaming, tetapi juga oleh kemampuannya membangun hubungan emosional dengan pendengar.
Ke depan, Rusli ingin memperluas jangkauan Hipdut agar dikenal di tingkat nasional hingga internasional. Ia menilai perpaduan dangdut, Melayu, hip-hop, dan karakter musik lokal Indonesia memiliki peluang untuk diperkenalkan kepada audiens yang lebih luas.
“Saya tahu itu masih mimpi besar. Tapi setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kecil. Saya ingin terus berkarya, terus belajar, dan mudah-mudahan suatu saat Hipdut bisa dikenal lebih luas,” ujarnya.
Setelah “Budak Cinta”, Rusli telah menyiapkan sejumlah karya baru untuk dirilis pada waktu mendatang. Baginya, perjalanan bermusik merupakan proses yang terus berkembang, tanpa dibatasi usia maupun profesi.
Melalui lagu tersebut, Rusli tidak hanya menyampaikan kritik terhadap tekanan kehidupan modern, tetapi juga mengajak pendengar menimbang kembali arti kebebasan, kebahagiaan, dan keberhasilan agar tidak terjebak dalam ambisi yang justru mengendalikan hidup mereka sendiri. (Muhammad Fadhli)


