![]() |
| Keberadaan Bagan ikan dan pulau-pulau di perairan laut teluk Sibolga dan Tapteng terlihat kabur. Disebabkan kabut asap menyelimuti wilayah Sibolga dan Tapteng. (foto:mm/jhonny simatupang) |
Sementara itu, hasil pengamatan sejumlah stasiun meteorologi di Sumatera Utara pada Kamis, 15 Oktober 2026, menunjukkan jarak pandang berkisar 1–3 kilometer.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III FL Tobing, Tapteng, Ali Mustofa, SP, mengatakan penurunan jarak pandang berkaitan dengan fenomena udara kabur akibat sebaran asap dari sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengguna transportasi darat dan laut.
“Dalam beberapa pekan terakhir, penurunan jarak pandang akibat asap terjadi di wilayah Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah,” kata Ali dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/10/2026).
Dalam keterangan resmi bernomor B/ME.02.04/116/FLZ/X/2026, Stasiun Meteorologi FL Tobing menyebutkan adanya titik panas atau hotspot di wilayah Sumatera Utara bagian selatan. Asap dari Jambi, Sumatera Selatan (Sumsel), Kepulauan Bangka Belitung, dan Kalimantan juga berpotensi terbawa angin hingga mencapai Sibolga dan Tapteng.
Satu titik panas terdeteksi di Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Kondisi tersebut berkaitan dengan penurunan jarak pandang yang berfluktuasi antara 5 dan 8 kilometer.
Namun, jarak pandang kemudian menurun menjadi sekitar 4–5 kilometer setelah sebaran asap dari Jambi, Pekanbaru, dan Palembang memasuki wilayah Sibolga dan Tapteng.
Berdasarkan citra satelit Himawari-9 pada 13 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, sebaran asap telah terpantau di kedua wilayah tersebut.
Pemantauan berikutnya pada 14 Oktober 2026 menunjukkan tiga titik panas dengan kategori sedang di Sumatera Utara, yang terdeteksi di wilayah Labuhanbatu dan Tapanuli Selatan (Tapsel).
Adapun analisis citra satelit pada Kamis, 15 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB, menunjukkan adanya sebaran asap di wilayah Sumut. Berdasarkan analisis angin permukaan, angin bertiup dari timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara.
Pola pergerakan angin tersebut mengindikasikan bahwa asap yang menyelimuti Sumut berpotensi berasal dari wilayah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan yang terbawa massa udara. Namun, sumber asal asap belum dapat dipastikan hanya berdasarkan pola angin.
“Penentuan sumber asal asap secara pasti memerlukan analisis lebih lanjut dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer dan data pendukung lainnya,” ujar Ali.
Kualitas udara perlu diwaspadai
Selain penurunan jarak pandang, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumut pada 15 Oktober 2026 dilaporkan berada dalam kategori sedang hingga tidak sehat.
Hasil pengamatan Stasiun Meteorologi Kualanamu, Stasiun Meteorologi Aek Godang, dan Stasiun Meteorologi Silangit pada pukul 09.00 WIB juga menunjukkan jarak pandang berkisar 1–3 kilometer.
Ali mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi udara berkabut dan berasap. Pengendara kendaraan bermotor diminta mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, serta menyalakan lampu kendaraan sesuai kebutuhan. Pengguna transportasi laut juga perlu memperhatikan kondisi jarak pandang sebelum melakukan perjalanan.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar rumah, warga dianjurkan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap.
Warga juga diminta menutup pintu dan jendela rumah ketika udara berasap. Apabila mengalami sesak napas, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan pernapasan, masyarakat diimbau segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran terbuka yang dapat memperburuk kondisi asap serta tetap menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
Ali juga mengimbau pemerintah daerah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polri untuk mengantisipasi dampak sebaran asap serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Masyarakat diminta mengikuti perkembangan informasi cuaca dan kondisi atmosfer melalui kanal resmi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (MKG) Wilayah I Medan, termasuk akun media sosial @infobmkgsumut. Informasi juga dapat diperoleh melalui layanan telepon 082168043653 atau surat elektronik bbmkg1@bmkg.go.id.
“Fenomena ini perlu menjadi perhatian karena sebaran asap tidak hanya dipengaruhi sumber kebakaran di sekitar wilayah Sumatera Utara, tetapi juga dapat berasal dari daerah lain dan terbawa pergerakan angin hingga mencapai kawasan pesisir barat Sumatera Utara,” ujar Ali. (jhonny simatupang)


