![]() |
| Choking Susilo Sakeh. (foto/mm) |
PARA Pocong berbentuk lampu itu, masih tegak berdiri berjejer perkasa di kanan-kiri beberapa ruas jalan Kota Medan. Sepertinya, para Pocong ini menganggap ultimatum Walikota Medan lebih sebulan lalu cumalah lelucon belaka. Bah, gitu ya?
Boleh jadi, Walikotaku (baca : Walikota Medan Bobby Nasution) memanglah lucu : gemar melucu, dan suka yang lucu-lucu. Cobalah kita simak episode si Pocong berikut ini : Pada 9 Mei 2023, Walikotaku menyatakan Proyek Lampu Pocong sebagai proyek gagal. Uang yang sudah dibayarkan kepada para kontraktor sebesar Rp 21 Miliar dari total anggaran Rp 25,7 Miliar, harus segera dikembalikan. Selain itu, kontraktor harus segera membongkar Lampu Pocong, berikut kursi dan tempat sampah yang menjadi bagian dari proyek tersebut.
Sejak awal, Proyek Lampu Pocong ini memang sudah mendapat protes riuh dari berbagai kalangan warga Kota Medan. Penyebutan kata “Pocong” untuk proyek lampu ini, begitu juga ‘Kursi Ngesot” untuk proyek kursinya, adalah wujud dari beragam protes tersebut.
Namun, semua protes tersebut tak diterge -- maksudnya, tak digubris -- sama sekali oleh Walikotaku. Namun, setelah setelah uang yang dibayarkan mencapai sekitar 90 persen meski pengerjaannya baru mencapai sekitar 50 persen, barulah Walikotaku menyatakan proyek ini sebagai proyek gagal. Lucu dan mampu mengundang geli.
Walikota Medan Bobby Nasution pun tidak perduli dengan berbagai ejekan warga, kenapa baru dinyatakan sebagai proyek gagal setelah uang yang dibayarkan kepada kontraktor sekitar 90 persen dari anggaran. Walikotaku tidak ambil peduli dengan semua kritik dan ejekan tentang Pocong yang dinyatakan gagal tampil itu. Dan ketidakpedulian itu, menjadikan Walikota terlihat semakin lucu.
Memang Lucu
Pada akhirnya, tak salahlah jika warga Kota Medan menganggap Walikota Bobby Nasution memang lucu : gemar membuat lelucon dan suka hal-hal yang lucu-lucu. Dan tak salah pulalah jika kemudian Kota Medan dikelolanya dengan lucu-lucuan.
Banyak proyek digarap serentak saat ini. Tapi, tak satupun ada tanda-tanda akan tuntas dengan hasil mengagumkan. Ada Lapangan Merdeka yang tak jelas mau dijadikan cagar budaya jenis apa, dan entah kapan selesainya proyek bernama revitalisasi itu. Ada penataan Kawasan Kesawan, sudah berbulan-bulan masih saja berantakan. Ada si Pocong, lampu dengan kelucuannya yang khas. Kesemua proyek ini, sungguh mengundang kegelian tiada tanding.
Pun, ada banyak janji yang diucapkan, dari sejak masa kampanye Pilkada Medan hingga saat ini. Tapi, semuanya wallahu a’lam bissawab. Akun medsos Bobby Nasution atau Pemko Medan sejak dilantik menjadi Walikota Medan pada 26 Februari 2021 hingga saat ini, bisa menjadi saksi dari berbagai janji-janji tersebut. Dan kesemua janji-janji “akan” dan “jika” tersebut, juga mampu mengundang kegelian tiada tara.
Begitu pula seni klenengan, mesti tetap disajikan pada setiap malam minggu di halaman kantor Walikota. Kesenian -- juga kebudayaan -- adiluhung penuh makna yang dilahirkan dari kreativitas tinggi seorang seniman dan budayawan, tak dibutuhkan di kota ini. Begitu pula sarana dan prasarana penunjangnya, pun harus dienyahkan dan tak boleh hadir di kota ini.
Pada akhirnya, Walikotaku sepertinya sangat sadar, bahwa warganya perlu dihibur dengan lelucon demi lelucon. Jalanan yang macet, sulitnya lapangan kerja, harga-harga sembako terus melonjak naik dan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari, bisa membuat warga kota gampang stres dan tersulut emosinya. Karenanya, warga kota harus setiap saat dihibur dengan berbagai kebijakan dan program yang bisa mengundang kelucuan.
Dan soal lucu melucu ini, Walikotaku memang lucu!
Mangkanya…
-------------------
*Penulis adalah Jurnalis; menetap di Medan.


