LPG 3 Kg Langka, Sejumlah Oknum Diduga Terlibat Oplosan

Sebarkan:
Salah satu kendaraan pengangkut LPG melintas di kawasan Deliserdang, Sumut. (foto:mm/ist)
MEDAN (MM) – Pengurangan kuota LPG 3 kg terhadap warga kurang mampu berdampak terhadap kelangkaan LPG bersubsidi di lapangan yang membuat harga melambung tinggi hingga Rp20 ribu per tabung. 

Kondisi ini diperparah maraknya dugaan LPG oplosan dari 3 Kg ke 12 Kg. LPG subsidi yang sejatinya untuk warga kurang mampu kini dioplos “mengalir” ke sejumlah usaha. Kuat dugaan permainan curang ini justru melibatkan oknum perwira Polda Sumut.

Kelangkaan LPG 3 Kg dirasakan warga Desa Sei Rotan, Kecamatan Percut Seitua, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Dari pantauan media di lapangan Rabu kemarin, LPG 3 Kg yang harga HET Rp16 ribu kini melambung Rp20 ribu. 

Sebagaimana diketahui, harga di pasarn untuk tabung 5,5 Kg harga HET Rp120 ribu dan 12 Kg harga di kisaran Rp220 ribu. Sementara harga oplosan 12 Kg dipatok Rp170-Rp180 ribu. 

Sedangkan modal oplosan 12 Kg modal (4 tabung) sebesar Rp64 ribu dijual Rp170-Rp180 ribu, berarti ada keuntungan Rp100 ribu lebih/tabung. LPG oplosan ini biasanya dijual ke sejumlah usaha, baik restoran, PKL hingga bengkel las yang kebutuhannya setiap hari.

“Biasanya untuk 3 Kg di harga Rp16 hingga Rp 17 ribu, sekarang sudah mencapai Rp20 ribu. Itupun barangnya susah dicari,” kata Syahrial. 

Namun anehnya sambung Syahrial, setiap hari truk warna merah selalu mengantar LPG 3 Kg ke pangkalan ke pemilik berinsial NN, di Gang Mandor Jono dan pangkalan milik SY, di Jalan Medan Batang Kuis. “Kalau kami beli dibilang tidak menjual eceran. Anehnya kendaraan yang keluar dari pangkalan itu selalu membawa tabung 12 Kg, bukan 3 Kg,” ujar Syahrial, bertanya.

Sementara itu, pemilik pangkalan SY yang dikonfirmasi mengaku juga sulit mendapatkan LPG 3 Kg. “Kalau kelangkaan epiji bukan cuma di sini sampai di Kota Medan dan kota-kota lainnya,” jelas SY, sembari mengkalim jika kebutuhan LPG warga di lingkungannya terpenuhi.

Konfirmasi juga dilakukan ke pangkaaan NN di Gang Mandor Jono. Ternyata pria bercelana coklat berjaket hitam juga melakukan investigasi terkait dugaan oplosan LPG. 

Menurut dia, pangkalan NN diduga mengoplos. Namun untuk membuktikan itu semua sulit karena dijaga ketat sehingga tidak bisa masuk untuk mengambil poto maupun rekaman video. “Gudangnya dikunci rapat,” sebut pria itu.

Menurutnya NN masih pemain kecil. Masih banyak pemain “kakap’ di Sumut tak tersentuh hukum karena dibekingi penegak hukum. “NN itu upetinya cukup bagus, dia bukan pemain berondok-berondok. Banyak oknum perwira di lingkungan Polda Sumut diduga kuat menikmati duit NN,” sebutnya. 

Permainan serupa juga dilakukan pangkalan di Sei Belutu yang kini berganti nama dan pindah ke wilayah Amplas. Sedangkan di kawasan KIM Medan pemainnya OKP yang dibekingi TNI/Polri. “Kalau ini skala mainnya untuk daerah belawan dialah jonggolnya,” sebutnya. 

Bahkan, saat ini ada  dua pangkalan di kawasan Tanjung Morawa, Deliserdang diduga oplosan yang juga milik oknum Polri bertugas di Polda Sumut. Selain itu di kawasan Jalan Veteran Marelan.

“Gudang-gudang mereka ini bukanlah pangkalan resmi. Pangkalan itu hanya kedok, mereka mendapatkan elpiji 3 Kg dari berbagai PT yang merupakan Distributor PT Pertamina. Dan inilah salah satu yang menyebabkan kelangkaan elpiji, karena hamper 70 persen distributornya juga diduga memasok elpiji ke para pengoplos,” sebut sumber.  

Sambung sumber, pihaknya siap membongkar jaringan pengoplosan ini ke media dengan harapan para pelaku diberantas sehingga tidak menyusahkan masyarakat kecil. (abdoel)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com