Bantuan Bibit Jagung Toba Tahun 2021, Dikira Untung Nyatanya Buntung

Sebarkan:
Kondisi jagung bantuan tahun 2021 di Desa Parhabinsaran, Kecamatan Uluan Kabupaten Toba. (foto/ist)
TOBA (MM) - Masih segar dalam ingatan masyarakat Kabupaten Toba, Provinsi Sumatra Utara, program Peningkatan Ekonomi Nasional (PEN) tahun 2021, pasca Pandemi Covid -19 dengan memberikan bantuan bibit jagung kepada petani sekitar 50 ton yang dibagikan di beberapa kecamatan, salah satunya di Desa Parhabinsaran, Kecamatan Uluan, yang penanamannya dibuka langsung Bupati Toba Poltak Sitorus. 

Puluhan hektare lahan masyarakat Desa Parhabinsaran dijadikan kebun jagung, mengingat bibit yang diberikan merupakan merek bibit yang sering digunakan masyarakat dengan hasil panen yang maksimal yaitu Pioner. Diharapkan akan meraup keuntungan tetapi nyatanya malah buntung. 

Sogar, salah satu warga desa mengapresiasi program Pemerintah Kabupaten Toba dengan bantuan bibit jagung di tahun 2021 lalu, untuk meningkatkan ekonomi petani dalam menanggulangi dampak dari Pandemi Covid-19, agar dampak pandemi berkurang dirinya menanam lahannya seluas lebih kurang 12 rante, Rabu (9/8/2023). 

Dengan luas lahan yang ditanam jagung sudah terbayang dibenaknya apabila panen nantinya akan mendapat keuntungan belasan juta, ternyata semua itu hanya angan yang tidak kesampaian. 

"Biasanya lahan seluas 12 rante hasil panen jagung pipil kering perantenya 300 kg jadi untuk 12 rante 3.600 kg dengan harga perkilogramnya Rp.5000.- maka hasil yang saya dapatkan seharusnya Rp. 18.000.000,-  sementara panen yang didapat saat itu 100 kg perantenya seluruhnya 1.200 kg dengan nilai jual Rp.6.000.000. Jadi total kerugian yang saya dapat sekitar Rp.12.000.000," kata Sogar. 

Lanjut dia, dengan kerugian sebesar itu bagi saya sebagai petani membuat sulit memejamkan mata di malam hari. Terlebih kondisi ekonomi yang terlalu sulit saat pandemi, bagaimana lagi dengan masyarakat petani di kabupaten ini yang mendapat bantuan bibit jagung tersebut yang mayoritas mengalami gagal panen. 

"Secara garis besarnya, ada 50 ton bibit jagung yang dibagikan berarti 50.000 kg dapat ditanam 2.500 hektar lahan, hasil panen perhektare (25 rante) dikali 300 kg hasilnya Rp.7.500 dikalikan Rp5000 menjadi Rp.37.500.000 dikalikan luas lahan seluruhnya 2.500 hektare menghasilkan pendapatan petani Toba dengan hasil maksimal Rp. 93.750.000.000," katanya. 

"Apabila dirata-ratakan dengan hasil yang saya dapat 100 kg perantenya sama dengan yang didapat teman petani lainnya, maka kerugian yang didapat adalah, untuk perhektarnya 100 kg dikali 25 rante menjadi 2.500 kg dikalikan 5000 sama dengan Rp. 12.500.000 dikali 2.500 hektare  keseluruhan lahan sama dengan Rp. 31.250.000.000,- maka kerugian yang didapat petani saat itu Rp.93.750.000.000 dikurang Rp.31.250.000.000 sama dengan Rp.62.500.000.000," pungkas Sogar sedih. 

Atas kejadian ini petani di Kabupaten Toba menjadi trauma dengan bantuan bibit dari pemerintah. Bukannya mendukung petani untuk semakin sejahtera malah memberikan bibit yang diduga menyalahi standard kelayakan untuk ditanam. (Nimrot Acon Sirait)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com