![]() |
| Makam Sutan Sinomba di Ulu Sontang, Bagari Sei Aur, Kecamatan Sei Aur, Pasaman Barat. (foto:mm/doni setiawan) |
PERKAMBUNGAN Ulu Sontang di Nagari Sei Aur, Kecamatan Sei Aur, menyimpan sebuah kisah sejarah yang tak lekang oleh waktu. Di tengah hamparan alam yang asri, berdiri sebuah makam sederhana namun sarat makna. Makam dengan panjang sekitar empat meter itu diyakini sebagai peristirahatan terakhir Sutan Sinomba, tokoh perintis sekaligus pendiri kampung.
Bagi masyarakat Ulu Sontang, pusara tersebut bukan hanya sekadar tanah kubur, melainkan penanda jejak perjuangan dan pengorbanan leluhur. Di sanalah mereka merasa terhubung dengan akar sejarah yang membentuk identitas kampung hingga kini.
“Keberadaan makam ini adalah bukti sejarah panjang perkampungan kami. Ini bukan sekadar situs, tetapi identitas dan kebanggaan yang diwariskan untuk anak cucu,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat dengan penuh haru.
Sutan Sinomba dikenang sebagai sosok yang berani membuka lahan dan merintis kehidupan masyarakat di masa lampau. Dari kerja keras dan keberaniannya, lahirlah sebuah perkampungan yang kelak dikenal sebagai Ulu Sontang. Nilai-nilai kepemimpinan, kebersamaan, dan gotong royong yang ia tanamkan, hingga kini masih menjadi pedoman hidup warga.
Bagi generasi muda, nama Sutan Sinomba bukan hanya cerita masa lalu. Ia adalah simbol kebanggaan yang meneguhkan identitas mereka sebagai bagian dari Pasaman Barat. Melalui kisahnya, anak-anak diajarkan untuk mengenal asal-usul kampung halaman, sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah kelahiran.
Setiap kali warga melewati makam leluhur itu, mereka seakan diingatkan akan perjalanan panjang kampung mereka dari masa ke masa. Tidak sedikit pula yang datang berziarah, mendoakan, sekaligus mengenang jasa sang perintis.
Pemerhati budaya menilai, makam Sutan Sinomba bukan hanya penting bagi masyarakat Ulu Sontang, tetapi juga bagi Pasaman Barat secara keseluruhan. Situs ini bisa dikembangkan sebagai ruang edukasi dan destinasi budaya yang memperkenalkan sejarah lokal kepada masyarakat luas.
“Di tengah derasnya arus modernisasi, situs seperti makam Sutan Sinomba adalah penanda identitas. Jika dirawat dengan baik, ia bisa menjadi tempat belajar tentang nilai kepemimpinan dan keteguhan hati para leluhur,” ungkap seorang pemerhati budaya.
Hingga kini, makam Sutan Sinomba tetap terjaga, menjadi saksi bisu perjalanan panjang masyarakat Ulu Sontang. Bagi warga, keberadaannya adalah pengingat akan asal-usul dan pengikat kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan sejarah yang masih lestari, Ulu Sontang bukan sekadar sebuah kampung, melainkan ruang hidup yang menyimpan identitas, kebanggaan, sekaligus harapan untuk masa depan.(doni setiawan)


