Donald Trump Kerahkan Kapal Induk ke Timur Tengah, Perang AS vs Iran Bakal Meletus?

Sebarkan:
Perang AS vs Iran sepertinya sulit dihindari. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap mengirimkan kapal induk USS Gerald R Ford ke Timur Tengah. (Foto: seaforces.org)
JAKARTA – Perang AS vs Iran sepertinya sulit dihindari. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap mengirimkan kapal induk terbesarnya, USS Gerald R Ford, ke Timur Tengah, sebagai bagian dari peningkatan tekanan Washington terhadap Iran terkait program nuklir dan rudal balistiknya.

Berbicara di Gedung Putih pada Jumat (13/2/2026) waktu setempat, Trump menyebut bahwa USS Gerald R Ford akan meninggalkan Karibia menuju Timur Tengah dalam waktu sangat dekat, di tengah ketegangan yang masih tinggi setelah perundingan tidak langsung di Oman pekan lalu. “Jika kita membutuhkannya, kita akan menyiapkannya. Kekuatan yang sangat besar,” ujar Trump, dilansir Al Jazeera. 

USS Gerald R Ford merupakan kapal induk bertenaga nuklir yang mampu menampung lebih dari 75 pesawat militer. Kapal Induk ini setidaknya butuh waktu perjalanan sepekan dari Karibia menuju Timur Tengah, 

Kehadiran Kapal Induk USS Gerald R Ford akan semakin menumpuk kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah. Kapal induk terbaru dan terbesar di dunia itu akan bergabung dengan USS Abraham Lincoln.

Dalam beberapa pekan terakhir, kapal induk Abraham Lincoln, sejumlah kapal perusak berpemandu rudal, jet tempur, dan pesawat pengintai, telah dikerahkan Trump ke Timur Tengah.

Belakangan, Trump juga menyebut bahwa perubahan pemerintahan di Iran akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi.

“Selama 47 tahun, mereka hanya berbicara dan berbicara. Sementara itu, kita telah kehilangan banyak nyawa,” katanya, seperti merujuk pada tindakan keras Teheran terhadap protes antipemerintah baru-baru ini yang menewaskan ribuan orang.

Komentar Trump muncul beberapa hari setelah ia bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington. Netanyahu mengatakan mengharapkan kesepakatan yang baik, namun keberatan jika perjanjian apa pun tidak turut membatasi program rudal balistik Iran. Teheran sendiri secara terbuka menolak tekanan AS untuk membahas isu rudal tersebut.

Netanyahu berulang kali menyerukan tindakan militer lanjutan sejak perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu. Amerika Serikat sempat terlibat singkat dengan menyerang tiga fasilitas nuklir Iran dalam operasi militer yang dijuluki “Midnight Hammer”. Saat itu, Trump mengatakan bahwa serangan AS telah sepenuhnya melumpuhkan fasilitas nuklir tersebut.

Trump meyakini negosiasi terkait program nuklir kali ini akan berhasil. Namun, ia memperingatkan bahwa akan terjadi “hari yang buruk" bagi Iran jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan.

Negara-negara Arab Teluk telah memperingatkan bahwa setiap serangan berpotensi memicu eskalasi menjadi konflik regional baru di kawasan yang masih terguncang oleh perang Israel di Gaza.

Perundingan Pertama AS dan Iran

Perundingan tidak langsung antara AS dan Iran menjadi yang pertama digelar sejak konflik Juni, yang menghentikan putaran negosiasi sebelumnya mengenai kemungkinan pengganti Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) — kesepakatan yang ditinggalkan Trump pada masa jabatan pertamanya.

JCPOA, yang dicapai antara Iran, AS, dan sejumlah negara Eropa, mengharuskan Teheran membatasi program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.

Setelah Trump secara sepihak menarik AS dari kesepakatan itu pada 2018, Iran kemudian mulai memperkaya uranium melebihi batas yang ditetapkan dalam perjanjian, meski berulang kali membantah klaim Barat bahwa mereka berupaya mengembangkan senjata nuklir.

Saat kembali menjabat untuk kedua kalinya pada Januari, Trump awalnya berupaya mendorong kesepakatan nuklir baru dengan Iran. Namun, ia kemudian mengadopsi kebijakan tanpa pengayaan uranium (zero-enrichment) yang sejak lama ditolak oleh negosiator Iran sebagai tidak realistis.

Di tengah upaya negosiasi terbaru, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi mengalami kesulitan mendapatkan persetujuan Iran untuk melakukan inspeksi terhadap lokasi-lokasi yang menjadi sasaran dalam perang 12 hari tersebut.

Grossi, yang memimpin IAEA, mengatakan kepada Konferensi Keamanan Munich bahwa para inspektur telah kembali ke Iran setelah perang 12 hari, tetapi belum dapat mengunjungi lokasi-lokasi yang diserang.

Ia menyebut dialog dengan Iran sejak kembalinya para inspektur tahun lalu sebagai tidak sempurna, rumit, dan sangat sulit, tetapi tetap ada.(mm/era)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com