Catatan : Choking Susilo Sakeh
ADA 11 tim sepakbola nasional dari negara Asean plus Australia -- termasuk Indonesia, tentunya. Jika personil setiap tim berjumlah 30 orang, maka total jumlah pemain plus official sebanyak 330 orang. Ditambah lagi dengan ratusan perangkat pertandingan dan pengurus sepakbola, baik dari PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) maupun AFF (Asean Football Federation). Maka minimal ada 500 orang yang terlibat dalam perhelatan sepakbola tingkat Asean usia 19 tahun, yang berseliweran di pinggiran Kota Medan selama 14 hari.
Berlangsung sejak 1 hingga 14 Juni 2026, timnas dari negara-negara Asean itu berlaga dibagi ke dalam tiga grup. Total tersaji 21 kali pertandingan. Akan halnya timnas Indonesia, bertanding sebanyak lima kali yakni tiga laga di fase grup, satu laga di semi final dan satu lagi terakhir perebutan juara ketiga. Hasil akhirnya, Australia sebagai Juara Pertama, Thailand sebagai Juara Kedua, Indonesia sebagai Juara Ketiga dan Kamboja sebagai Juara keempat.
Dari sekian banyak pertandingan tersebut, tentulah ada ratusan ribu penonton yang hadir untuk menyaksikannya. Jumlah penonton terbanyak adalah saat laga Indonesia melawan Vietnam di fase grup A, serta laga perebutan tempat ketiga antara Indonesia melawan Kamboja dan lagi final antara Australia melawan Thailand.
Di luar semua itu, perhelatan ini juga mengundang minat puluhan outlet UMKM yang diberi ruang menjajakan produknya di lokasi seputaran stadion. Lalu, ada juga puluhan pedagang yang membuka lapak di pinggiran jalan menuju lokasi. Dan pastinya, ada belasan pedagang musiman yang menjajakan aneka aksesoris dan jersey tim peserta, terkhusus tentunya timnas Indonesia.
Tentu saja, puncak orgasme para penggila bola adalah saat dengungan suara yel-yel atau lagu penyemangat digemuruhkan secara massal -- seringkali ditingkahi bunyi-bunyian baik berupa alat musik pukul atau alat tiup -- saat ada duel yang gagah, terutama saat tim kesayangannya mencetak gol ke gawang lawan. Bahkan kemudian, kepuasan itu bisa berlanjut hingga berwujud dalam bentuk konvoi kendaraan di jalanan.
Dan semua prosesi yang muncul dari sebuah pertandingan sepakbola, begitulah atmosfir dan sensasi elegan dari sebuah laga sepakbola.
Atmosfir maupun sensasi keren dari perhelatan U-19 se Asean yang berakhir pada 14 Juni 2026 itu, pada akhirnya seakan menjadi mesin pemanas bagi para penggila bola untuk menyaksikan puluhan laga sepakbola babak penyisihan Piala Dunia 2026 yang dimulai pada 12 hingga 28 Juni 2026.
*
Sungguh, atmosfir dan sensasi sepakbola itu sangat menggairahkan!
Itulah yang tercipta saat PSSI, melalui inisiatif Gubernur Sumut Bobby Nasution menggelar Piala AFF U-19 di Stadion Utama Sumut dan Stadion Madya Atletik -- dua stadion yang dibangun di era Gubsu Edy Rahmayadi -- di Kawasan Sport Center Kuala Namu, Deliserdang.
Lokasi itu berjarak sekitar sekitar 20 kilometer dari inti kota Medan, atau sekitar lima kilometer dari perbatasan Kota Medan/Kab. Deliserdang. Artinya, ribuan warga Kota Medan harus menyediakan waktu maksimal sekitar satu jam, bergerak menuju lokasi pertandingan untuk bisa menikmati atmosfir dan sensasi beraroma internasional tersebut.
Kenapa atmosfir dan sensasi itu tidak terjadi di Kota Medan? Kenapa perhelatan sepakbola internasional sehebat AFF tak dihelat di Kota Medan? Bukankah Kota Medan punya catatan penting dalam sejarah panjang sepakbola Indonesia?
Jawabannya sangat sederhana sekali : dibutuhkan seorang Walikota Medan yang tak kebanyakan cakap, tak merasa si paling taat aturan, kreatif, tidak mentang-mentang tapi rendah hati, dan mau belajar sejarah. Jika Kota Medan bisa kembali menemukan Walikota semacam ini, maka dipastikan atmosfir dan sensasi sepakbola yang mendatangkan gairah itu, barulah bisa Kembali berlangsung di Kota Medan.
Andai yang terjadi sebaliknya -- yakni jika Walikota Medan tak seperti yang dibutuhkan -- maka untuk bisa menikmati perhelatan sepakbola yang kaya atmosfir dan sensasi itu bisa hadir di Kota Medan, cumalah sebatas mimpi dan koyok-koyok saja.
Mangkanya…
----------------------------------
*Penulis adalah Jurnalis, warga Medan.


