Medan, Wajah Kota yang Semakin Berantakan

Sebarkan:

Catatan : Choking Susilo Sakeh

ENTAH apa saja yang sudah dikerjakan oleh Rico Wa’as, Walikota Medan priode 2024-2029, selain cuma koyok-koyok saja sepanjang hari. Pun, entah sudah berapa banyak duit rakyat dihabiskan untuk menggaji Rico Wa’as, selama sekitar 16 bulan menjadi Walikota Medan, tapi tak jelas apa masalah Kota Medan yang sudah diselesaikannya dengan koyok-koyoknya itu. 

Dan, entah sudah berapa banyak rakyat maupun wakil rakyat mengkritisi kinerja Rico Wa’as sebagai Walikota Medan, namun tak juga terlihat upayanya untuk meningkatkan kinerjanya menjadi lebih baik.

Yang pasti, wajah Kota Medan semakin ke sini semakin berantakan saja. Terkini, ada sekitar 2.886 pohon kayu berusia di atas 10 tahun yang telah tumbuh kokoh di median jalan maupun di pinggiran jalan, habis ditebangi secara serentak. Ribuan pepohonan tersebut, konon, memang harus dikorbankan untuk syahwat membangun koridor Bus Rapit Transit (BRT) Medan. 

Maka, jika engkau masuk ke inti kota Medan dari arah Simpang Amplas, bersiap-siaplah menyediakan waktu yang lebih lama, juga bahan bakar kenderaan yang lebih banyak serta kesabaran tingkat dewa. Sebab, pekerjaan penebangan pepohonan disertai pengerukan badan jalan di bagian sebelah kiri itu, sangat cukup untuk mengundang kemacetan yang mengagumkan.

Begitu pula jika kau masuk ke inti Kota Medan dari arah Kampung Lalang, juga dibutuhkan persiapan yang sama persis. Pekerjaan penebangan pepohonan dan pengerukan badan jalan di bagian tengah (median jalan), sudah pastilah sangat mampu mengundang kemacetan yang aduhai.

Padahal, sebelum dimulainya proyek BRT tersebut, kita pun sudah cukup faham tentang bagaimana berantakannya kondisi Kota Medan. Jalanan yang macet, baik karena kondisi dan kualitas badan jalan yang jelek maupun pengelolaan parkir yang amburadul, sudah menjadi sesuatu yang asyik di dalam menikmati kemacetan  setiap harinya di Kota Medan.

Apalagi jika kemudian muncul guyuran hujan deras berkepanjangan. Buruknya sistim drainase, mengakibatkan gampangnya terjadi genangan air dan banjir di banyak tempat di Kota Medan. Pada giliran berikutnya, banjir dan genangan air tersebut akan menjadi sumber kemacetan tersendiri pula. 

Lebih dari semua itu, maka berbagai proyek “cenderung mangkrak” peninggalan Walikota Medan sebelumnya, Bobby Nasution, telah menjadi ciri khas dan warna tersendiri bagi wajah Kota Medan yang semakin berantakan tersebut.

*

Begitu Rico Wa’as dilantik menjadi Walikota Medan pada 20 Februari 2025, maka semua proyek fisik 'cenderung mangkrak' Pemko Medan yang digagas dan dikerjakan oleh Walikota Medan sebelumnya, Bobby Nasution, kini sepenuhnya menjadi tanggungjawab Rico Wa’as. Maka, bagaimana kelak masa depan proyek-proyek tersebut, sepenuhnya sangat tergantung kepada Rico Wa’as. 

Yang pasti, semua proyek tersebut dibangun dari duit rakyat, baik yang bersumber dari APBD maupun APBN. Apakah kelak tetap akan di-mangkrakkan atau diselesaikan secepatnya, kesemuanya pastilah disertai dengan tuntutan pertanggungjawaban.

Proyek fisik tersebut diantaranya adalah Revitalisasi Lapangan Merdeka, Revitalisasi Lapangan Kebon Bunga, Revitalisasi Stadion Teladan, Pembangunan Gedung UMKM, Pembangunan Islamic Center, Kolam Retensi, Floodway Asam Kumbang, Underpass Jalan Jawa/HM Yamin, Fly Over Gatsu/Ringroad, Penataan Kawasan Kesawan termasuk Revitalisasi Gedung Warenhuis, serta beberapa lainnya.

Beberapa diantaranya telah diresmikan meski pengerjaannya masih belum tuntas dan masih bermasalah. Misalnya Lapangan Merdeka Medan. Basement lantai 1 dan 2, praktis tidak bisa dipergunakan bahkan kondisinya semakin berantakan. Begitu pula jogging track yang dibangun mengelilingi lapangan, kualitasnya sangat sembrono. Hal sama juga terjadi pada Stadion Teladan Medan. Sudah diresmikan, namun masih belum layak dipergunakan karena beberapa bagian masih belum tuntas. Akan halnya Kebon Bunga, meski telah diresmikan dan dinyatakan siap, namun diragukan kualitas teknisnya pada beberapa bagian bangunannya. 

Beberapa proyek lainnya, tak jelas apakah telah bermanfaat atau tidak. Misalnya Kolam Retensi di Jalan dr Mansyur, juga Gedung Warenhuis Jalan Hindu. Sedangkan beberapa lainnya, tak jelas bagaimana kelak masa depannya. Misalnya Gedung UMKM di Jalan dr Mansyur, juga Islamic Center di Marelan. Sedangkan satu proyek lainnya, yakni Pembangunan Lampu Pocong, telah dinyatakan hilang dari perbincangan warga Kota Medan.

Bagaimana kelak nasib berbagai proyek warisan Bobby Nasution ini, mau tak mau harus mendapatkan kepastian dari Rico Wa’as. Selama ini tak terlihat adanya keberanian Rico Wa’as, terutama di dalam mengkaji keberadaan proyek-proyek tersebut terutama dari aspek teknis dan anggaran, sebagai langkah lanjutan untuk bagaimana kelak proyek tersebut ke depannya. Dan selama tidak ada keberanian tersebut,  maka berbagai proyek-proyek itu tetap memberi andil besar di dalam membentuk wajah Kota Medan yang kini semakin berantakan.

Dan, konon, menjelang hari ulang tahun ke 436 Kota Medan pada 1 Juli mendatang, mudah-mudahan  tak ada hujan deras yang turun berkepanjangan. Cobalah kita bayangkan sebuah pemandangan berikut ini : Rico Wa’as yang  biasa tetap tampil necis itu, sedang asyik berkoyok-koyok di tengah suasana Kota yang semakin berantakan karena banjir. Sebuah pemandangan yang sesuai dengan tagline yang layak untuk Rico Wa’as : “tiada hari tanpa koyok-koyok”.

Mangkanya…

-------------------------

*Penulis adalah Jurnalis, warga Medan.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com