Setengah Abad INALUM: Transformasi Operasional, Finansial, dan Komitmen Hijau dari Toba hingga Pesisir Malaka

Sebarkan:

Seorang karyawan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) mengoperasikan forklift untuk menyusun batangan aluminium siap kirim di kawasan Kuala Tanjung, Sumatra Utara. (Foto: Dok. INALUM)
BATU BARA - PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) resmi membukukan kinerja keuangan dan operasional terkuat sepanjang 50 tahun berdirinya perusahaan. Secara finansial, anggota Grup MIND ID tersebut berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 10 persen pada tahun 2025 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 

Capaian historis tersebut terangkum dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang diselenggarakan di Kantor INALUM, Gedung Energi, Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta, pada Senin (19/6/2026) lalu.

Corporate Secretary PT INALUM, Mahyaruddin A.R., mengungkapkan bahwa laba bersih konsolidasian perseroan tercatat melonjak 15 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sementara nilai EBITDA tumbuh sebesar 17 persen. 

Di sisi operasional, volume produksi aluminium mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time-high) dengan torehan 280.082 metrik ton (mt) atau naik sekitar 2 persen (yoy). Lonjakan ini didampingi oleh volume penjualan yang mencapai 280.141 mt, meningkat sekitar 15 persen (yoy).

"Pencapaian Tahun Buku 2025 merupakan hasil dari konsistensi transformasi operasional, peningkatan efisiensi, serta kolaborasi seluruh insan INALUM dan dukungan penuh Grup MIND ID," ujar Mahyaruddin.

Capaian masif di sektor hilir ini, menurut Mahyaruddin ditopang oleh penyelesaian Proyek Pot Upgrading, yang sukses meningkatkan kapasitas produksi terpasang perseroan menjadi sekitar 274.000 ton per tahun. Peningkatan ini dilakukan melalui pemutakhiran teknologi tungku reduksi ke arus 235 kA pada 170 tungku di Potline 2.

Kinerja gemilang ini turut diiringi perolehan Tingkat Kesehatan kategori "AA" dengan klasifikasi "Sehat", serta Final Rating idAA-/Stable dan Standalone Rating idA+(sa) dari PEFINDO. Pada aspek tata kelola, pengadopsian prinsip ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) INALUM diproyeksikan melonjak dari 81,01 persen menjadi 87,54 persen seiring implementasi rekomendasi perbaikan yang berkelanjutan.

Bersamaan dengan capaian rekor performa bisnis tersebut, produsen aluminium nasional ini ikut mempertegas penerapan paradigma baru industri ekstraktif. Paradigma ini mengintegrasikan aspek profitabilitas dengan komitmen investasi hijau melampaui kepatuhan regulasi (beyond compliance), membentang dari wilayah hulu Danau Toba hingga hilir pesisir pantai Selat Malaka.

"Kinerja terbaik sepanjang sejarah perusahaan menjadi bukti bahwa strategi penguatan daya saing dan hilirisasi yang dijalankan telah memberikan hasil yang nyata," katanya.

Namun, keberhasilan sebuah entitas industri di abad ke-21 tidak lagi dinilai semata-mata dari seberapa penuh gudang penyimpanan produk jadi atau seberapa tinggi kurva keuntungan finansial, melainkan dari seberapa kecil jejak ekologis yang ditinggalkan di atas permukaan bumi.

Lahir dan mulai beroperasi sejak tahun 1976, INALUM telah melewati berbagai transformasi struktural yang dinamis dalam sejarah korporasi nasional: resmi dinasionalisasi menjadi perusahaan BUMN utuh pada 2013, bertransformasi menjadi Holding BUMN Industri Pertambangan pada 2017, hingga akhirnya melakukan split off menjadi anak usaha operasional di bawah naungan MIND ID.

Sepanjang perjalanan panjang melintasi dekade tersebut, komitmen lingkungan INALUM terus berevolusi ke tingkat tertinggi. Komitmen korporasi dalam menjaga kelestarian bumi tersebut ditegaskan oleh Direktur Strategic Support & Human Capital INALUM, Benny Wiwoho. Benny Wiwoho menjelaskan bahwa agenda konservasi merupakan pilar penting dari komitmen INALUM dalam mewujudkan ekosistem bisnis yang berkelanjutan.

"Melalui berbagai program pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, kami berupaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan generasi mendatang," ujar Benny Wiwoho.

Sepanjang 2025, INALUM sudah merealisasikan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) secara terintegrasi dan terukur dampaknya. Program prioritas mencakup pemberian beasiswa kepada 145 penerima, pelatihan bagi 110 guru, penanaman 15.000 pohon mangrove, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di tiga lokasi, serta penyaluran pendanaan bagi usaha mikro dan kecil. 

Program-program ini dijalankan melalui pendekatan Strategic Empowerment dan Strategic Engagement yang selaras dengan praktik terbaik internasional.

Infografis/Peta data sebaran program konservasi di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba sepanjang tahun 2025. Sinergi antara PT INALUM dan Perum Jasa Tirta I (PJT-1) ini mencakup penghijauan lahan kritis seluas lebih dari 1.000 hektar yang tersebar di tujuh kabupaten penyangga utama. (Foto: Dok. INALUM)
Hulu Danau Toba: Menjaga Hidrologi Melalui Pemulihan Ekosistem

Di balik rekor ratusan ribu ton aluminium yang diproduksi di tungku-tungku reduksi hilir Kuala Tanjung, mata rantai industri aluminium hijau (green aluminium) INALUM secara mutlak bergantung pada pasokan energi bersih yang bersumber dari wilayah hulu pedalaman Sumatera Utara, tempat Danau Toba membentang bak kawah purba raksasa. 

Air dari Danau Toba yang mengalir menuju Sungai Asahan, arusnya dimanfaatkan oleh tiga bendungan utama—Bendungan Pengatur, Siguragura, dan Tangga—untuk memutar turbin-turbin PLTA Paritohan berkapasitas maksimum 603 Megawatt (MW). Tanpa ketersediaan debit air Danau Toba yang melimpah dan stabil, pasokan energi bersih terbarukan untuk menggerakkan tungku reduksi peleburan tidak akan terpenuhi.

Atas dasar ketergantungan ekologis tersebut, INALUM memandang Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba bukan sebagai wilayah operasional semata, melainkan sebagai aset bersama yang wajib dilestarikan lintas generasi. Bergerak mendahului degradasi lingkungan, INALUM menerapkan pendekatan preventif sukarela melalui integrasi infrastruktur hijau dan pengayaan plasma nutfah secara intensif.

Pusat dari gerakan pemulistem hulu ini berada di Taman Keanekaragaman Hayati (Taman Kehati) PT INALUM di Perumahan Paritohan. Sejak tahun 2022 hingga 2026, Taman Kehati ini bertransformasi menjadi laboratorium hidup berskala besar untuk membudidayakan tanaman-tanaman endemik Toba yang mulai langka di habitat aslinya. 

Berdasarkan data konservasi internal perseroan, inventarisasi penanaman berjalan ketat dan berkala, meliputi:

  • Kemenyan (Styrax paralleloneurum): Pohon yang memiliki nilai sosiologis, budaya, sekaligus penopang ekologis hulu Toba. Telah ditanam sebanyak 1.000 pohon pada tahun 2023 dan diperkaya kembali dengan tambahan 300 pohon pada tahun 2025.
  • Sampinur (Dacrycarpus imbricatus): Komoditas penguat hidrologi tanah hulu, ditanam sebanyak 10 pohon pada tahun 2023, melonjak signifikan menjadi 30 pohon pada tahun 2024, dan ditambah 30 pohon lagi pada tahun 2025.
  • Pohon Sotul (Sandoricum koetjape): Budidaya tanaman buah lokal endemik Sumatra, direalisasikan sebanyak 20 pohon pada tahun 2023 serta penambahan 20 pohon pada tahun 2025.
  • Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC): Rempah legendaris khas suku Batak yang menjaga rantai makanan mikro, ditanam intensif sebanyak 50 pohon pada tahun 2023, 40 pohon pada tahun 2024, dan 20 pohon pada tahun 2025.
  • Anturmangan & Suren (Toona sureni): Vegetasi utama penyangga air tanah. Anturmangan diperkuat sebanyak 90 pohon kumulatif hingga tahun 2025, sedangkan Suren mendominasi vegetasi baru lewat penanaman 30 pohon pada tahun 2024 dan 35 pohon pada tahun 2025.

Di luar areal domestik Paritohan, pengelolaan DTA Danau Toba dijalankan secara sinergis oleh INALUM bersama Perum Jasa Tirta I (PJT-1) melalui jejaring konservasi yang mencakup area penanaman pohon seluas lebih dari 1.000 hektar pada tahun 2025. Kerja kolaboratif ini tersebar di tujuh kabupaten penyangga utama, yaitu Simalungun, Toba, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Karo, Dairi, dan Samosir.

Tidak hanya vegetasi permukaan, pendekatan teknik sipil ramah lingkungan juga dikerahkan demi mempertahankan volume hidrologis air tanah Danau Toba. Kolaborasi lintas instansi ini sukses mengonstruksi infrastruktur tangkapan air berupa 10.000 unit lubang biopori, 500 unit sumur resapan, dan 15 unit sumur injeksi.

Tidak sampai di situ. Untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang, aspek ketahanan sosial diperkuat dengan pembentukan 18 unit Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai benteng utama sosialisasi pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di lingkar DTA. 

Di hilir pendidikan, program edukasi menyentuh 15 sekolah peduli lingkungan, disokong penuh oleh operasional 3 unit Kebun Bibit Rakyat (KBR) dengan kapasitas produksi mandiri mencapai 150.000 bibit per tahun. Upaya perlindungan ini berjalan selaras dengan mandat Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Benteng Mangrove dan Perlindungan Koridor Avifauna Dunia

Jika garis kebijakan hulu berfokus pada kelestarian hidrologi Toba, maka di kawasan hilir, perhatian lingkungan INALUM tertuju pada wilayah pesisir Kabupaten Batu Bara. Wilayah ini merupakan garis depan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim global, ancaman kenaikan permukaan air laut, serta abrasi nyata dari Selat Malaka.

Di titik rawan inilah ekosistem mangrove hadir sebagai benteng. Hutan pesisir ini tidak hanya berfungsi secara fisik menahan empasan ombak laut, melainkan juga bertindak sebagai paru-paru hijau (blue carbon) penangkap emisi gas rumah kaca yang sangat efektif, sekaligus tempat pemijahan (spawning ground) alami bagi biota laut.

Melalui program konservasi maritim, INALUM menginisiasi program unggulan bertajuk "Pohon Asuh". Skema unik ini dirancang melalui pendekatan adopsi mangrove, di mana karyawan internal maupun pihak ketiga dapat ikut serta mendanai dan memantau pertumbuhan bibit mangrove secara berkala. 

Langkah mandiri ini sukses memecahkan masalah klasik program penghijauan pesisir nasional yang kerap kali mati pasca-seremonial akibat ketiadaan pemeliharaan di lapangan.

Data operasional menunjukkan bahwa aksi nyata tersebut mewujud dalam penanaman 15.000 bibit mangrove di titik-titik kritis pesisir Kabupaten Batu Bara. INALUM menggandeng kelompok tani hutan lokal sebagai garda terdepan, meliputi Kelompok Tani Hutan (KTH) Lestari Pesisir di Dusun Kuala Sipare (Desa Medang), Himpunan Masyarakat Nelayan Indonesia (HMNI) Kabupaten Batu Bara, serta pengayaan jenis tanaman oleh Kelompok Tani Cinta Mangrove (KTCM) di Desa Perupuk.

Berdasarkan hasil survei burung yang dirilis oleh Yayasan Warisan Hidup Sumatera (WHIS), wilayah pesisir pantai timur Sumatera Utara—terutama Kabupaten Batu Bara—merupakan koridor penting berskala internasional bagi habitat burung terancam punah sekaligus lokasi persinggahan utama jalur migrasi (flyway) burung air dunia. 

Dari total survei mendalam di 53 lokasi sebaran yang membentang dari Kabupaten Langkat hingga Kabupaten Batu Bara, tim ahli konservasi berhasil mengidentifikasi sebanyak 148.978 individu burung air dan 618 individu burung terestrial.

Menariknya, data kuantitatif menunjukkan titik akumulasi atau populasi terbesar dari pergerakan migrasi burung air dunia tersebut justru terkonsentrasi kuat di Kabupaten Batu Bara. Di antara ratusan ribu kepakan sayap tersebut, tercatat kehadiran spesies migran dan menetap dengan nilai konservasi sangat tinggi (high conservation value), antara lain:

  • Bangau Bluwok: Terdeteksi sebanyak 175 individu.
  • Kedidi Besar: Terdeteksi sebanyak 2.750 individu.
  • Trinil Nordmann: Terdeteksi sebanyak 69 individu.
  • Gajahan Timur: Terdeteksi sebanyak 2 individu.
Kehadiran kawanan burung langka dunia dalam jumlah kolosal di area pesisir Kabupaten Batu Bara ini mengonfirmasi satu fakta ekologis penting: geliat aktivitas industri peleburan aluminium berskala masif yang dijalankan INALUM di wilayah penyangga ternyata sama sekali tidak mendegradasi atau mengganggu kenyamanan dan kelangsungan ekosistem fauna migran tersebut.

Merawat Kehidupan dari Hutan hingga Pantai

Ka-Grup Layanan Strategis INALUM, Daniel Hutahuruk menambahkan bahwa melalui berbagai program konservasi yang dijalankan secara konsisten, INALUM berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasional perusahaan. 

Tanggung jawab ekologis yang diemban INALUM melangkah jauh, melampaui pemenuhan kepatuhan formal terhadap regulasi administratif standar. Berdasarkan landasan hukum yang ketat—mulai dari Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi hingga Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Nomor 1375 Tahun 2025 tentang PROPER—perseroan telah berhasil mengintegrasikan tata kelola keanekaragaman hayati secara struktural ke dalam strategi bisnis inti korporasi.

Melalui program komprehensif Pemetaan Spesies Flora dan Fauna, petugas konservasi INALUM bersama para peneliti ekologi secara berkala menyisir area koridor hijau Sungai Asahan hingga ke areal rawa pesisir pantai timur Sumatera. 

Petugas melakukan pencocokan setiap data temuan spesies di lapangan dengan Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) serta instrumen perlindungan hukum domestik. Identifikasi berkala ini krusial untuk memetakan satwa dengan status terancam (endangered) atau kritis (critically endangered) agar bentuk intervensi habitat di lapangan berjalan presisi.

Perlindungan keanekaragaman hayati ini difokuskan pada kawasan pesisir rawan gangguan seperti Pantai Sejarah dan Pantai Perjuangan di Kabupaten Batu Bara. Melalui kombinasi program pembatasan kerusakan habitat, penetapan zonasi pelestarian, dan edukasi bagi masyarakat pesisir agar menghentikan perburuan liar satwa endemik, INALUM berupaya memutus rantai kepunahan lokal.

Menjaga mata rantai kehidupan dari rimbunnya hutan hulu Paritohan hingga batas air asin pantai Batu Bara adalah metode perseroan dalam memastikan kekayaan hayati Nusantara tidak tergilas oleh laju roda ekonomi nasional.

"Upaya ini merupakan wujud tanggung jawab korporasi untuk menciptakan nilai yang tidak hanya berdampak positif bagi keberlanjutan bisnis, tetapi juga bagi kehidupan masyarakat dan kelestarian lingkungan sekitar," ujarnya.. 

Seluruh portofolio hijau ini—mulai dari ribuan pohon endemik di Taman Kehati Paritohan, puluhan ribu infrastruktur tangkapan air di tujuh kabupaten sekeliling Danau Toba, hingga adopsi skema Pohon Asuh di pesisir pantai Malaka—merupakan lembaran catatan konservasi sukarela (beyond compliance) yang sedang dibangun perseroan sebagai warisan berharga untuk generasi mendatang. 

Semua itu membuktikan bahwa kekuatan ekonomi dan kelestarian alam mampu berjalan beriringan, dalam satu detak jantung produksi. (Ismanto Panjaitan)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com