Ultah ke 436 Kota Medan : Ma’af, Kami Salah Memilih!

Sebarkan:

Catatan : Choking Susilo Sakeh.

SELAMAT pagi, selamat ultah, Bung!

BERANGKAT dari keputusan DPRD Medan pada Maret 1975, maka hari lahir Kota Medan ditetapkan pada 1 Juli 1590. Ketetapan ini didasarkan pada saat Guru Patimpus membuka lahan di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Meski demikian, beberapa peneliti menyebutkan Kota Medan sudah ada jauh  sebelum  keberadaan Guru Patimpus tersebut.

Jikalau mengikuti tradisi yang dilakukan Pemko Medan di dalam merayakan ultah Kota Medan pada setiap tanggal 1 Juli, terlepas  kapan persisnya keberadaan Kota Medan, maka Kota Medan akan berusia ke 436 tahun pada 1 Juli 2026 nanti. 

Sebuah usia yang wow...

Bagi sebuah kota, semestinyalah usia 436 tahun itu adalah sebuah usia yang sudah cukup matang, sangat mapan dan senantiasa mengundang decak kagum para warganya maupun para pengunjung kota. Sebuah kota berusia 436 tahun, semestinya menunjuk kepada sebuah kota yang rapi, kuat, indah, sejuk nyaman dan sudah selesai dengan soal-soal sepele seperti masalah sampah, drainase, kondisi dan kualitas jalan, parkir, pedagang kaki lima, kemacetan lalulintas, bangunan cagar budaya, trotoar untuk pejalan kaki, tingkat polusi yang rendah, dan seterusnya dan seterusnya.

Pada sebuah kota yang telah berusia 436 tahun, semestinya sudah selesai dengan hal-hal berkaitan keseharian warganya. Sebab, pemerintahan kota  telah mempunyai sistim dan cara kerja yang memang sudah teruji ratusan tahun. 

Intinya, sebuah kota berusia 436 tahun adalah kota yang menawarkan kenyamanan tidak saja bagi walikota dan jajarannya, tapi juga bagi seluruh warganya maupun para pendatang. Sebab, kenyamanan adalah kebutuhan dasar para orang-orang yang waras, apa dan siapapun dia.

Kenyataannya?

Ternyata, kita sangat gampang  menemukan dan menceritakan bagaimana amburadulnya kondisi Kota Medan saat ini. Dari semua aspek yang berkaitan dengan hajat hidup warganya, sepertinya tak ada yang layak diberi acungan jempol. Berbagai pajak dan retribusi yang dibayarkan warga Kota Medan, terasa seakan sia-sia karena tak terlihat jelas apa manfaatnya. 

Dan biang kerok dari kesemua kebrengsekan Kota Medan tersebut, tentulah bermula dari kinerja Walikota Medan Rico Wa’as yang, jangan-jangan, memang sangat tidak layak untuk diberi amanah dan gaji sebagai seorang Walikota Medan.

*

Selamat ultah, bung! 

Pada priode 26 Februari 2021-20 Februari 2025, Kota Medan mendapatkan sosok Bobby Nasution sebagai Walikota Medan, setelah Bobby Nasution meraih sebanyak 393.327  suara pada pemungutan suara Pilkada Medan 2020 tanggal 9 Desember 2020. Selanjutnya, untuk priode 20 Februari 2025 hingga kini, jabatan Walikota Medan diisi oleh Rico Wa’as setelah meraih sebanyak 297.498 suara pada pemungutan suara Pilkada Medan tanggal 27 November 2024. Perolehan suara Rico Wa’as ini, merupakan perolehan suara terkecil sepanjang lima kali dilaksanakannya Pilkada Medan.

Apakah Bobby Nasution dan Rico Wa’as memang sosok yang dibutuhkan di dalam menjawab tantangan yang ada di Kota Medan? 

Ada beberapa kesamaan antara Bobby Nasution dan Rico Wa’as, sebelum keduanya terpilih menjadi Walikota Medan. Diantaranya, sama-sama masih berusia muda, sama-sama tidak punya jejak rekam beraktivitas di Medan atau nyaris tidak dikenal warga Medan, sama-sama tidak punya pengalaman berorganisasi terutama di bidang politik maupun pemerintahan. 

Meski punya jejak rekam yang minus sedemikian, keduanya bisa memenangkan Pilkada Medan karena sama-sama punya ‘ordal’ (orang dalam) -- salah satu aspek penting dalam pemilu di negeri ini. Ordal-nya Bobby Nasution, ya, siapa lagi kalau bukan mertuanya, Jokowi, yang saat itu menjabat sebagai Presiden. Sedangkan ordal-nya Rico Wa’as adalah Bobby Nasution, Walikota Medan saat itu, yang memang menginginkan Rico Wa’as sebagai penggantinya.

Perbedaan yang sangat mencolok dari keduanya -- dengan membandingkan masa jabatan Bobby Nasution selama tiga tahun dan 360 hari serta masa jabatan Rico Wa’as selama sekitar 16 bulan -- adalah soal keberanian. Bobby Nasution, tentunya dengan dukungan penuh dari ordal-nya, cukup berani menggagas banyak proyek fisik di Medan dengan menarik anggaran dari Pusat untuk membantu anggaran dari APBD Medan yang terbatas. 

Namun Bobby Nasution memiliki kelemahan yang fatal. Yakni, keberaniannya tanpa kendali. Bobby Nasution terkesan tidak memberi peluang bagi aspek pengawasan, baik internal maupun eksternal, terhadap semua proyek fisik yang digagasnya. 

Dampaknya sama-sama kita ketahui saat ini. Beberapa proyek yang sudah diresmikan dan dioperasionalkan, namun kualitas teknisnya diduga bermasalah. Beberapa lainnya sudah diresmikan, namun belum bisa dipergunakan karena sesungguhnya memang belum selesai. Beberapa lainnya tak jelas kapan selesainya. Bahkan, ada satu proyek yang hampir rampung namun kemudian dinyatakan sebagai ‘proyek total loss”.

Akan halnya Rico Wa’as, hingga sekitar 16 bulan menjadi Walikota Medan, nyaris tak terlihat sama sekali keberaniannya, baik di dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada terutama menyelesaikan masalah yang diwariskan oleh Bobby Nasution.

Hingga kini, ketrampilan Rico Wa’as yang menonjol sebagai Walikota Medan, cumalah sebagai juru omon-omon, tukang koyok-koyok!.

*

Selamat ultah, Bung. Dan, ma’af, kami telah salah memilih walikota! 

Usia panjang Kota Medan adalah sejarah pergulatan panjang tentang keberagaman. Jika berangkat dari temuan Situs Kotta Cinna di Marelan, maka Kota Medan adalah sebuah kota pelabuhan yang ramai  dan menjadi pusat kosmopolitan sejak abad ke-11. Artinya, pada masa itu Kota Medan sudah dihuni oleh beragam etnis dan kultur.

Keberagaman tersebut kemudian melahirkan karakteristik, juga kultur, yang khas dari ‘Anak Medan’. Karakter khas Anak Medan itu diantaranya keras, spontan, terbuka dan tidak suka basa-basi, luwes, setia kawan, ulet, setia dan penuh toleransi. Yang paling keren, adalah gengsi tinggi dan pantang tak hebat. Karakter dan kultur khas itulah, yang kemudian melahirkan slogan “Medan Kota Sejuta Ketua”.

Kota berkarakter khas seperti Medan, tentunya punya masalah dan tantangan yang khas pula. Maka, untuk bisa memimpin Kota Medan dengan tepat, tentulah dibutuhkan sosok dengan karakteristik yang khas pula. 

Saya pernah menulis, bahwa Bachtiar Djafar adalah satu contoh figur yang tepat di dalam memimpin Kota Medan. Dan karenanya, dia dianggap sebagai Walikota Medan yang berhasil. Anak Medan dengan dengan latar belakang perwira menengah Kopasus tersebut, mencatatkan banyak prestasi untuk Kota Medan, selama sepuluh tahun memimpin Kota Medan. Karakternya yang keras, tegas, namun terbuka dan humanis, menjadikan Bachtiar Djafar dan Kota Medan pada masa itu menjadi kota yang sangat diperhitungkan. 

Lantas, bagaimana dengan Rico Wa’as, juga Bobby Nasution?

Sesungguhnya, Bobby Nasution dan Rico Wa’as pada dasarnya adalah ‘anak rumahan’ atau ‘anak mama’. Indikasi awalnya, adalah terbatasnya lingkungan pergaulan sosialnya. Namun, saat Bobby Nasution menduduki jabatan politik sebagai Walikota Medan, dia mendapat dukungan ordal yang sangat kuat pada saat itu. Dukungan ordal itu bahkan sudah dimulai sejak dari awal-awal masa Pilkada Medan 2020, sampai kemudian Bobby Nasution menyelesaikan jabatannya sebagai Walikota Medan pada Februari 2025.

Dengan dukungan ordal yang sedemikian perkasa tersebut, akhirnya berbagai kelemahan Bobby Nasution  sebagai ‘anak rumahan’ tersebut bisa diminimalisir atau bahkan ditiadakan.  Walaupun kemudian, dukungan ordal yang perkasa itu jugalah yang membuat berbagai program fisik Bobby Nasution terkesan nyaris tanpa pengawasan dari fihak yang berkompeten.

Akan halnya Rico Wa’as, hingga kini semakin memperlihatkan ketidakberdayaannya sebagai ‘anak rumahan’ di dalam memimpin Kota Medan. Rico Wa’as sesungguhnya bukan sosok yang tetap dan dibutuhkan di dalam menjawab berbagai permasalahan yang ada di Kota Medan. Sialnya, Rico Wa’as tidak punya ordal yang bisa diandalkan untuk mendukung kinerjanya sebagai Walikota Medan.

Dan lebih sial lagi, hingga kini Rico Wa’as tak juga mampu merangkul mayoritas warga Medan untuk mendukungnya. Padahal, ordal paling jitu itu adalah tatkala mayoritas warga Medan menjadi pendukung militan Rico Wa’as sebagai Walikota Medan.

Hingga memasuki bulan ke-16 saat ini, puncak ketidakbecusan Rico Wa’as sebagai Walikota Medan adalah pada saat penanganan banjir November 2025, serta pada saat menerbitkan surat edaran tentang babi. Saat terjadinya banjir sejak  26 November 2025 malam itu, Rico Wa’as gagal mengendalikan jajarannya, gagal memahami karakteristik banjir yang terjadi di wilayahnya, dan gagal memahami psikologis para warganya yang menjadi korban banjir. Setidaknya, selama tiga hari di awal terjadinya banjir, Kota Medan bagaikan tidak memiliki pemerintahan. Dan warga korban banjir mesti berjuang sendiri mengatasi penderitaannya. 

Akan hal penerbitan surat edaran tentang babi yang kemudian memunculkan protes dan ‘kegaduhan’ antar warga, itu bisa terjadi selain karena Rico Wa’as memang tak mampu mengendalikan jajarannya, Rico Wa’as juga tak mampu memahami makna keberagaman yang di Kota Medan, serta minimnya pemahamanannya tentang pemerintahan. 

Pada akhirnya, selamat ultah. Ma’af, kami telah salah memilih!

Mangkanya…

----------------------------------

*Choking Susilo Sakeh adalah Jurnalis, warga Medan.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com