Rakernas Apeksi Telah Usai, Banjir Sempakata Tetap Lanjut

Sebarkan:

Catatan : Choking Susilo Sakeh

SUNGGUH memprihatinkan nasib warga Kelurahan Sempakata, Kecamatan Medan Selayang!

Mereka, para warga Sempakata,  adalah bagian dari warga Kota Medan yang ikut membayar gaji Walikota Medan dan seluruh jajaran Pemko Medan, melalui berbagai pajak dan retribusi yang mereka bayar. Namun, mereka tak sempat mengikuti prosesi hura-hura dan hore-hore yang dirancang Rakernas ke-XVIII Apeksi (Asosiasi Pemerintahan Kota Seluruh Indonesia), yang berlangsung pada 28 Juni hingga 4 Juli 2026 di beberapa tempat di Medan. 

Ya, begitulah. Warga Sempakata masih lebih disibukkan untuk mengatasi banjir yang sudah sekian purnama melanda pemukimannya. Semakin memprihatinkan, hingga kini tak pernah sekalipun Walikota Medan Rico Wa’as, menyempatkan waktunya untuk sekedar berkoyok-koyok tentang banjir Sempakata ini. Padahal, koyok-koyok adalah satu-satunya ketrampilan dan kegemaran sang Walikota Medan tersebut.

Kemarin sore, Selasa (7/7-2026), beberapa perwakilan warga Sempakata korban banjir tersebut mengadu kepada Ketua DPRD Medan, Wong Chun Sen Tarigan. Menurut warga, banjir di kelurahan itu terjadi setiap turun hujan. Penyebabnya, saluran pembuangan air yang tersedia tidak mampu menampung debit air hujan yang turun.” (“Solusi Banjir Sempakata Tak Kunjung Ada, Warga Korban Temui Ketua DPRD Medan”, medanmerdeka.com, Selasa 7 Juli 2026).

Kawasan yang rutin dihajar banjir tersebut, terutama adalah Lingkungan II Kelurahan Sempakata. Hujan sedikit saja, sudah cukup mendatangkan banjir.  Ketinggian air berkisar setinggi betis hingga pinggang orang dewasa. 

Meski genangan banjir Sempakata  ini kini semakin parah, namun tak terlihat ada tanda-tanda dari Walikota Medan Rico Wa’as untuk mengatasinya. Boleh jadi,  lokasi banjir semacam ini memang tak asyik : tak ada mik, dan kemungkinan jumlah yang bertepuk tangan hanya sedikit.

Banjir Sempakata adalah salah satu contoh tentang bagaimana buruknya manajemen penanggulangan banjir di Kota Medan. Ada beberapa titik kawasan rawan banjir maupun rawan genangan air lainnya di Kota Medan, meski sekecil apapun debit air hujan yang turun. Semua Kawasan rawan banjir tersebut, bernasib nyaris sama dengan Sempakata : nyaris tak ada solusi, bahkan terkesan  tak terlihat kepedulian Walikota Medan Rico Wa’as selama setahun lebih menjabat sebagai Walikota Medan.

Tak cuma soal banjir. Ada beberapa masalah Kota Medan lainnya, yang terkesan juga tak bisa ditangani secara tuntas oleh Walikota Medan Rico Wa’as. Kondisi jalan yang rusak, misalnya, sangat gampang ditemui di beberapa kawasan di Medan. Begitu pula masalah sampah, setali tiga uang dengan masalah banjir dan jalan rusak.

*

Kalau kita cermati akun medsos Pemko Medan yang memposting paparan Walikota Medan Rico Wa’as di hadapan peserta Rakernas Apeksi XVIII, tentang upayanya saat terjadinya banjir pada November 2025 lalu, sepertinya Kota Medan telah selesai dalam hal mengatasi masalah banjir.

Tapi, ya begitulah, setrampil apapun koyok-koyok seorang Rico Wa’as, ternyata koyok-koyoknya tak pernah mampu menyelesaikan masalah yang ada di Kota Medan. Untuk mengatasi dan menyelesaikan banjir Sempakata misalnya, sungguh sama sekali tak dibutuhkan koyok-koyok.

Berlarut-larutnya banjir Sempakata, begitu pula masalah banjir di beberapa titik lainnya di Medan -- juga masalah jalan rusak, sampah dan lainnya -- menjadi salah satu kelemahan Rico Wa’as di dalam mendata masalah yang ada, mengendalikan jajarannya hingga ke level terbawah, juga di dalam menyusun skala prioritas penyelesaian masalah yang ada.

Bahwa sosok Rico Wa’as saat ini, masih sama seperti di saat-saat awal Rico Wa’as menjabat sebagai Walikota Medan. Yakni, sosok yang lebih gemar koyok-koyok ketimbang menyelesaikan masalah yang ada secara taktis dan strategis. Sekaligus sosok yang lebih sibuk mencari validasi diri, daripada menghasilkan kerja nyata untuk warga Medan yang telah menggajinya sebagai Walikota Medan.

Yak, Rakernas Apeksi XVIII pun telah usai. Sayang sekali, tak ada penjelasan detil dari Pemko Medan tentang berapa jumlah uang rakyat yang dihabiskan Pemko Medan sebagai tuan rumah Rakernas ke-XVIII Apeksi tersebut. Bisa jadi 17 miliar rupiah, atau bahkan lebih besar dari itu. 

Tapi, berapapun persisnya duit rakyat yang dihabiskan untuk kegiatan tersebut, andai saja agenda hura-hura dan hore-hore mau sedikit saja dikurangi, mungkin sebahagian uang rakyat tersebut bisa dipergunakan untuk mengatasi banjir Sempakata. Itu berarti, Rakernas Apeksi telah Usai, maka banjir Sempakata pun semestinya ikut usai juga.

Mangkanya…

---------------------------------

*Choking Susilo Sakeh adalah Jurnalis, warga Medan yang taat membayar pajak dan retribusi.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com