AHAI… GUBERNUR (dan) SONTOLOYO

Sebarkan:

Penulis Choking Susilo Sakeh. (foto/dok)
SEANDAINYA yang  dijewer dan diusir gubernur adalah pelatih cabang olahraga (cabor) yang tidak menghasilkan medali pada PON Papua 2021,  sungguhlah itu jeweran yang masuk akal bahkan bermartabat. Namun ketika yang dijewer, diusir dan dipecat adalah Choki Aritonang,pelatih tim Biliard bersertifikat Nasional. dimana caborbilliard meraih lima Medali Perak dan tujuh Medali Perunggu  --  dan alasan pengusirannya pun karena si pelatih ini tidak mau tepuk tangan saat gubernur berpidato  --  sesungguhnya itu adalah sontoloyo!

Kalau gubernur mengingatkan insan olahraga, bahwa pembinaan atlet itu pakai uang rakyat dan karenanya jangan main-main, sesungguhnya itu keren dan bahkan bermartabat. Tapi kalau kemudian gubernur terlupa, bahwa diajuga digaji oleh rakyat dan segala aktivitasnya pakai uang rakyat  --  dan karenanya menjadi gubernur itu jangan main-main  -- maka sesungguhnya itu adalah sontoloyo!

Jika gubernur terlalu sering marah-marah tanpa alasan yang prinsipil dan substansial serta pada akhirnya terus-menerus mengundang kegaduhan, sementara itu tak pernah terdengar prestasi dan  hasil kerjanya yang layak diberi tepuk tangan, maka sesungguhnya itu adalah sontoloyo!

Andaipun gubernur tak mampu menghitung sudah berapa jumlah uang rakyat yang dipakai untuk membayar gaji dan segala aktivitasnya selama lebih tiga tahun menjabat, dan kemudian membandingkan jumlah uang rakyat tersebut dengan prestasi yang sudah dicapainya untuk kemashlahatan rakyat, maka itu sesungguhnya adalah sontoloyo!

Maka, ahai…

Sontoloyo

Dan kata ‘Sontoloyo’, menurut Buku Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa Kemendikbud RI, maknanya adalah konyol, tidak beres, bodoh (dipakai sebagai kata makian). 

Arkian, kata ‘sontoloyo’ tersebut semula adalah sebutan untuk pengembala ratusan ekor bebekdi pedesaan Jawa. Mereka menggembalakan bebeknya secara berpindah mengikuti musim panen padi. Konon, profesi sontoloyo ini bisa menyulitkan orang lain, misalnya saat ratusan bebek ini menyeberangi jalan atau bahkan bebek-bebek ini memakan padi yang  belum dipanen. Orang-orang yang kesal, kemudian memaki dengan kalimat makian : “Dasar sontoloyo!!!”.

Sudah pastilah bahwa sontoloyo itu bukan kosakata cakap anak Medan. Kalaupun kemudian ada anak Medan yang mengucapkan kata sontoloyo ini, maka makna makian yang dimaksudkannya sama dengan kata-kata makian khas anak Medan. Dengan demikian, pada kata sontoloyo yang diucapkan anak Medan tersebut, jelas sekali tidak ada sedikitpun bermakna ‘rasa sayang’.

Jika kemudian kata ‘sontoloyo’ ini dilontarkan Gubsu Edy Rahmayadi kepada Pelatih Billiard Choki Aritonang, taklah mengherankan karena memang begitulah perilaku kepemimpinan Gubsu Edy Rahmayadi  yang bertolak belakang dengan moral ‘Sumut Bermatabat’. 

Aku sudah berulangkali mengkritisi prilaku kepemimpinan Gubsu Edy Rahmayadi yang kontroversial dan membikin kegaduhansejak masa-masa awal kepemimpinannya di Sumut tersebut. Melalui berbagai tulisan kolom di media cetak dan media online, maupun meme dan tulisan di media sosial, beberapa judul tulisanku  diantaranya “Gubernur Kaleng-kaleng”, “Gubernur Koyok-koyok”, “Gubernur Pembuat Gaduh”, “Gubernur Penuh Dendam” dan lain sebagainya.

Namun hingga memasuki tahun keempat saat ini, tak terlihat ada perubahan perilaku Edy Rahmayadi yang positif untuk ‘Sumut Bermartabat’, jargon yang terus menerus digaungkannya. Celakanya, Edy pun tak punya prestasi kerja yang bisa membanggakan warga Sumatera Utara.

Indeks Inovasi Daerah tahun 2021 yang dikeluarkan Mendagri berdasarkan SK Mendagri No. 002.6-5848 tahun 2021 tertanggal 23 Des.2021 misalnya, mengelompokkan Sumatera Utara di dalam kelompok “Provinsi Inpvatif” dengan skor indeks 39,41 dan  berada di urutan ke-25 dari 34 provinsi yang ada. Hanya ada delapan provinsi meraih Predikat ‘Sangat Inovatif’. 

Prihal pemimpin yang gemar marah-marah tanpa alasan jelas atau marah-marah karena merasa tak dihormati, aku lagi malas membahasnya. Namun secara umum, pemimpin yang memang tak bisa menghasilkan prestasi apapun,  punya kecenderungan untuk suka marah-marah tanpa alasan.

Akhirnya, kalau kemudian dunia maya diramaikan dengan nada ejekan dan membully prilaku Gubsu Edy Rahmayadi menjewer kuping Pelatih Biliard tersebut, atau munculnyatagar #jewerkupinggubsuedymaupun aksi demo mahasiswa dan protes berbagai kalangan terhadap prilaku Gubsu Edy Rahmayadi;  sesungguhnya itu adalah karakter  rakyat Sumatera Utara yang memang sudah bermartabat sejak dari dulu, dan : Rakyat Sumut yang Bermartabat,menolak perilaku sontoloyo pimpinannya.

Maka, ahai…

-----------------

*Penulis adalah Jurnalis Senior, menetap di Medan.



Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini