![]() |
| Salah satu supermarket kudes usai dijarah massa. (foto:mm/jhonny simatupang) |
Penjarahan terjadi di Alfamart dan Indomaret, Jalan R Suprapto. Sementara sejumlah pusat perbelanjaan modern lainnya telah dikepung massa, namun keburu dijaga ketat oleh aparat keamanan dari unsur TNI.
Belum diketahui apa alasan massa melakukan penjarahan. Beredar informasi simpang siur dimana disebut-sebut massa sudah tidak memiliki uang untuk belanja bahan makanan yang sudah mulai mengalami kenaikan drastis, sementara bantuan tak kunjung datang.
Selain itu ada juga informasi yang menyebut, tempat-tempat perbelanjaan modern tersebut tidak peka situasi karena tidak membuka usaha mereka di tengah situasi bahan pangan yang mulai menipis.
"Itu infornasi simpang siur yang kita dengar-dengar pak. Jadi, kita nggak tau apa penyebab pastinya,, pak" tutur I Sitompul, salah seorang warga Sibolga yang sedang menyaksikan penjarahan Almart Suprapto, Sabtu (29/11/2025).
Sementara itu, warga lainnya Aritonang menyebut, penjarahan itu akibat provokasi oleh warga dari luar Sibolga yang masuk ke Kota Sibolga. Sehingga sejumlah warga Sibolga terikut-ikut melakukan penjarahan. "Sebelumnya mereka juga sudah melakukan penjarahan salah satu swalayan di Kota Pandan," tuturnya.
Pada penjarahan Alfamart Suprapto, terpantau seisi Alfamart habis dijarah massa, termasuk komputer Alfamart tersebut. Ironisnya, bagi siapa warga yang diketahui memvideokan aksi itu akan diserang massa. Selanjutnya, beredar kabar bahwa pusat pasar tradisionil Sibolga, Pasar Nauli, akan dijarah massa. Namun, sejumlah warga telah siaga berjaga-jaga.
Jumlah dan Kisah Pilu Korban Bencana
Akibat bencana alam banjir dan longsor yang melanda Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) pada 25-27 November 2025 lalu itu, berdasarkan data sementara yang berhasil dihimpun medanmerdeka.com dilapangan, untuk Kota Sibolga tercatat 38 warga Jalan Murai ditemukan meninggal dunia tertimbun tanah longsor dan diduga masih ada sekitar 5-15 orang lagi yang belum ditemukan.
Kemudian 10 orang meninggal dunia tertimbun tanah longsor di Gang Perjuangan, 1 orang di Jalan Beo, 3 orang di Rumah Makan Uci Tangga Seratus, dan 1 orang di Aek Parira Sibolga Julu.
Sementara dari peristiwa tanah longsor di Jalan Murai, terdapat kisah pilu dibaliknya. Selain ada yang kepala tertusuk kayu dan tubuh terbelah dunia, ada juga seorang ibu yang baru 3 jam melahirkan anak ditemukan meninggal dunia dengan posisi sedang memeluk anak pertana yang baru dilahirkannya tersebut.
"Ibu dan anak yang ditemukan itu bang, adalah keponakan saya. Ponakan tersebut sebelumnya melahirkan di Puskesmas, tapi karena mendengar ada banjir dan longsor, dia minta pulang. Namun nahas, baru sekitar 3 jam dia seledai melahirkan dan pulang, disitu longsor terjadi," kata warga Jalan Murai, Irsan.
Irsan mengatakan, peristiwa longsor yang menerjang sedikitnya 15 rumah di Jalan Murai itu terjadi pada 26 November 2025 sekira pukul 19.00 WIB. Selain rumah, longsor itu juga turut merusak dan menimbun sejumlah makam warga sekitar. "Saya sendiri, untuk antisipasi, terpaksa mengungsi ke rumah keluarga di Jalan Pari, Sibolga," tuturnya.
Kisah pilu juga terjadi pada peristiwa longsor yang menyebabkan 10 orang meninggal dunia di Gang Parjuangan, Parombunan, Kecamatan Sibolga Selatan tersebut. Awalnya, diketahui 2 orang anak tewas tertimbun longsor di salah satu rumah di daerah itu. Sejumlah warga bersama petugas kemudian melakukan upaya evakuasi. Namun nahas, longsor kembali terjadi dan menimbun 8 orang yang sedang melakukan upaya evakuasi tersebut.
"Di Gang Perjuangan itu, ada 10 orang meninggal karena tertimbun longsor. Awalnya 2 orang jadi bertambah karena terjadi longsor susulan," kata sopir ambulans salah satu piskesmas di Sibolga.
Sementara itu juga, berdasarkan data sementara Polres Tapanuli Tengah (Tapteng) yang dipublikasikan mereka per 28 November 2025, terdata 47 orang warga ditemukan meninggal dunia akibat banjir dan longsor. 11 orang di antaranya ditemukan di Kecamatan Pandan, 26 orang di Kecamatan Tukka, 1 orang di Kecamatan Sarudik, 2 di Kecamatan Barus, dan 7 orang di Kecamatan Sitahuis.
Sedangkan jumlah korban luka tercatat sebanyak 507 orang (2 warga Kec Pandan, 505 warga Kec Tukka) dan hilang sebanyak 51 orang (6 di Kec Pandan, 3e di Kec Tukka, dan 12 orang di Kec Badiri).
Masih Terisolir
Akibat bencana alam banjir dan longsor, wilayah Sibolga dan Tapteng masih terisolir. Hal itu diakibatkan masih terputusnya akses jalan dari dan ke Kota Sibolga-Tapteng, ditambah terputusnya jaringan listrik dan internet. Belum lagi terputusnya jaringan air PDAM ke rumah-rumah warga. Keadaan ini belum diketahui kapan akan normal kembali. (jhonny simatupang)


