Brigjen Pol Sabarudin Ginting, Anak Kisaran Jadi Banteng di Bumi Anoa

Sebarkan:

Kepala BNNP Sulawesi Tenggara Brigjen Pol. Sabarudin Ginting saat bersama Ketua PWI Asahan Indra Sikoembang, di Kendari, Sabtu (5/2/2022). (foto:ismanto/mm)

"Anak Kisaran ini. Anak Kisaran ini. Jangan main-main". Kata-kata ini berulangkali diucapkan Brigjen Pol. Sabarudin Ginting ketika bertemu sejumlah pengurus dan anggota PWI Asahan, di ruang kerjanya, di Kantor Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) Sulawesi Tenggara, Kendari, Sabtu (5/2/2022). 

Bukan bermaksud menunjukkan kesombongan. Melainkan sebagai ungkapan sebuah kebanggaan menjadi anak yang lahir dan tumbuh besar di kota Kisaran, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Anak Kisaran yang sukses diperantauan. 

Kunjungan PWI Asahan yang diketuai Indra Sikumbang pada kesempatan itu, dalam rangkaian mengikuti acara Hari Pers Nasional (HPN) yang di selenggarakan, di Kendari. 

Sabarudin merupakan salahsatu putera terbaik Asahan. Lahir di Kisaran pada 55 tahun silam. Tepatnya 29 Nopember 1966.  Anak ke-5 dari 9 bersaudara. Sejumlah jabatan penting di tubuh Polri pernah disandangnya.  Dintaranya, sebagai Kapolrestabes Palembang dan Dirreskrimsus Polda Sumatera Selatan (Sumsel). 

Karirnya berawal ketika memutuskan mengikuti tes masuk AKABRI bagian kepolisian—sekarang berubah nama menjadi Akademi Kepolisian (Akpol). Dengan segala keterbatasan, khususnya soal keuangan, ia nekat pergi bersama 25 rekan seangkatan di SMA Negeri 1 Kisaran ke Medan pada tahun 1986 silam.

Pilihannya menjadi polisi terpatri karena putus harapan masuk ke perguruan tinggi. Dia menilai gaji orangtuanya sebagai anggota Polri pada masa itu, tak cukup mampu membiayai uang perkuliahan.“Masuk Akabri-kan enggak bayar. Kemudian, ayah saya adalah anggota Polri. Itulah kenapa saya ikut tes Akabri,” tutur Sabarudin. 

Masih terang diingatannya ketika mengikuti serangkaian tes di Komando Daerah Militer (Kodam) I Bukit Barisan, di Medan. Ia terpaksa tidur dan menginap di masjid yang ada di markas Kodam karena tak punya uang. 

Tidak hanya itu. Untuk biaya pendaftaran dan lainnya ditopang teman-temannya. “Bisa dibilang, waktu itu menumpang hidup sama kawan. Dan satu lagi. Awalnya, Ayah tidak saya kasih tau kalau ikut tes Akabri, ” kenangnya.

Nasib baik berpihak kepadanya. Berkat tekad dan kegigihannya, Ia lulus tes di Medan dan Tahap Pemantauan Akhir (Pantaukhir) Akabri di Magelang. Dan resmi mulai berdinas di Korps Kepolisian RI pada 1989. 

Kendati demikian, Sabarudin mengaku bukanlah siapa-siapa. Itu ia ucapkan ketika disinggung bagaimana bisa sukes dalam meniti karir sampai seperti saat sekarang ini. “Fokus,” jawabnya. 

Artinya, sambung dia, fokus ketika pertama kali mendapatkan penugasan-penugasan oleh Polri. Dengan fokus, dia bisa memahami dan mendalami filosofi setiap kegiatan, pekerjaan dan penugasan-penugasan yang sedang dijalankan. “Intisari penugasan  di kepolisian adalah yang paling penting. Itu akan kita dapatkan kalau kita fokus,” katanya.

Dan menjadi hal terpenting lain baginya, sebagai penegak hukum harus memiliki nurani. Ia meyakini bahwa hukum yang ditegakkan memiliki posisi keadilan yang kuat ketika menggunakan nurani. 

Atas berbagai prestasi yang diraih, saat ini dia dipercaya menjabat sebagai kepala BNNP Sulawesi Tenggara sejak Nopember  2020 lalu. Sebagai leading sector, kebehasilan  pemberansan  narkoba di Bumi Anoa berada di pundak jenderal bintang satu itu. 

Sabarudin kini telah menjadi “Banteng” di perantauan. Tapi bukan seperti syair lagu Anak Medan, yang menjadi “Kambing” di kampung halaman. Ia tetaplah "Banteng" dimanapun berada. Baik itu di Kisaran maupun diperantauan. (ismanto panjaitan/mm)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini