Ini 5 Gejala Omicron Paling Banyak Dikeluhkan

Sebarkan:

ilustrasi/net.
JAKARTA - Varian Omicron mulai mendominasi kasus COVID-19 di Indonesia. Bahkan kasus COVID-19 akibat Omicron ini diprediksi akan lebih tinggi dibandingkan varian Delta.

Berbeda dengan varian Delta, orang yang terinfeksi Omicron tidak menunjukkan gejala COVID-19 'klasik' yang lebih umum seperti demam atau kehilangan kemampuan indra penciuman.

Menurut ilmuwan utama dalam studi ZOE Covid, Prof Tim Spector, gejala yang muncul setelah terinfeksi varian Omicron lebih mirip dengan gejala pilek biasa. Ini banyak terjadi pada orang-orang yang sudah mendapatkan vaksinasi COVID-19.

"Omicron mungkin jauh lebih mirip dengan varian ringan yang kita lihat pada orang yang telah divaksinasi," kata Prof Spector yang dikutip dari laman Independent UK, Kamis (10/2/2022).

"Dan itu akan menghasilkan gejala seperti pilek yang tidak akan dikenali orang sebagai Covid, jika mereka hanya mempercayai saran resmi pemerintah," lanjutnya.

Untuk memastikannya, epidemiologi dan informatika kesehatan University College London Profesor Irene Petersen menyarankan untuk segera melakukan tes COVID-19 jika mengalami gejala yang mirip dengan flu.

"Hidung meler dan sakit kepala adalah gejala dari banyak infeksi, tetapi mungkin juga merupakan gejala pertama - dan satu-satunya gejala - dari Covid. Oleh karena itu, jika Anda memiliki gejala-gejala ini, saya menganjurkan untuk melakukan tes," ujarnya.

Untuk lebih waspada lagi, berikut 5 gejala varian Omicron yang paling banyak dikeluhkan pasien:

Sakit Kepala

Menurut penelitian ZOE, sakit kepala menjadi gejala Omicron yang lebih umum dibandingkan gejala klasik dari COVID-19 yaitu demam dan kehilangan kemampuan indra penciuman.

Studi tersebut menunjukkan bahwa sakit kepala akibat COVID-19, termasuk varian Omicron, cenderung terasa nyeri sedang hingga berat. Rasanya seperti ditekan, berdenyut, atau menusuk yang terjadi di kedua sisi kepala.

Kondisi ini bisa terjadi selama lebih dari tiga hari dan cenderung menjadi resisten terhadap obat penghilang rasa sakit biasa, sebagaimana dilansir dari detik.com.

Pilek

Pilek juga menjadi salah satu gejala yang paling sering dikeluhkan pasien COVID-19, terutama yang terinfeksi varian Omicron. Menurut studi ZOE, saat angka COVID-19 tinggi, kemungkinan pilek akibat infeksi virus tersebut juga tinggi.

Namun, pilek juga mungkin disebabkan oleh virus lain atau karena alergi. Hal inilah yang membuat banyak pasien COVID-19 sulit membedakan apakah itu pilek karena gejala Corona atau bukan.

Bersin

Sebelumnya, bersin kurang umum dikeluhkan orang sebagai gejala dari virus Corona. Namun, berdasarkan penelitian ZOE bersin ternyata menjadi salah satu gejala COVID-19 pada orang yang sudah divaksinasi.

"Meski banyak orang dengan COVID-19 mungkin bersin, tetapi itu bukan gejala yang pasti karena bersin sangat umum," kata studi tersebut.

Sakit tenggorokan dan batuk termasuk gejala yang khas pada Omicron. Selengkapnya di halaman berikut.

Sakit Tenggorokan

Banyak pasien COVID-19 Omicron juga mengeluhkan gejala sakit tenggorokan. Gejala mirip seperti saat seseorang mengalami pilek atau radang tenggorokan.

Sakit tenggorokan akibat COVID-19 cenderung ringan dan berlangsung tidak lebih dari lima hari. Menurut data ZOE, hampir setengah dari pasien COVID-19 mengalami sakit tenggorokan. Gejala ini lebih sering terjadi pada orang dewasa berusia antara 18-65 tahun.

Batuk terus-menerus

Gejala lainnya adalah batuk yang terus-menerus. Dalam konteks ini, 'terus-menerus' berarti batuk yang terjadi berkali-kali sehari, selama setengah hari atau lebih.

Batuk akibat COVID-19 biasanya tergolong batuk kering, tidak mengeluarkan dahak atau lendir. Batuk terus-menerus ini cenderung muncul sekitar beberapa hari setelah sakit dan biasanya berlangsung selama sekitar empat atau lima hari.(red/mm)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini