Syaiful Syafri: Kepemimpinan Komjen Agus Adrianto Model Kebhinekaan sebagai Kekuatan

Sebarkan:

Agus Andrianto menyapa masyarakat Sumatera Utara dalam suatu kegiatan. (foto/dok/ist)
MEDAN - Berbicara tentang Kepemimpinan Pemersatu Keberagaman, Drs. Syaiful Syafri mengajak para mahasiswa dapat mempelajari Kepemimpinan Komjen Pol. Agus Andrianto semasa menjabat  Kapolda Sumut tahun 2018 - 2019, lalu.

Masa itu juga masa tahun politik, beragam isu terus berkembang. Mulai dari Pilpres, intoleransi, hingga berita berita hoax. Tak sedikit pula masyarakat yang kurang paham terkontaminasi hingga berdemonstrasi atas ajakan orang orang yang tidak bertanggung jawab.

Namun tahun 2018 dan 2019, sebagai tahun politik tetap kondusif, dan Pilpres serta Pileg berjalan dengan tertib. Hal ini tentunya atas kepiawaian Kapolda Sumut Agus Andrianto yang menerapkan Kepemimpinan model Kebhinekaan yang menjadikan  kekuatan, dan ketahanan sosial.

"Konsep Kebhinekaan, pendekatan Sosial dan kemanusiaan, pendekatan profesi hingga pendekatan komunitas, sambung Syaiful Syafri yang juga mantan Pj Bupati Batubara 2008 ini, masyarakat diberi penjelasan secara persuasif oleh Agus Andrianto, sehingga berbagai komponen masyarakat memahami situasi bangsa yang sebenarnya, bukan dari berita berita hoax," kata Syaiful Syafri dalam Seminar Nasional dengan tema "Kepemimpinan Mempersatukan Keberagaman" melalui zoom meeting, Selasa kemarin di Medan.

Sementara itu, DR Parapat Gultom M.Eng Dosen Pasca Sarjana USU selaku ilmuan, menjelaskan bahwa untuk mempersatukan

keberagaman, diperlukan 5 strategi yakni, jangan lupa sejarah,  pro aktif mengembangkan diri, mengembangkan shop skill, peduli masalah masalah sosial, berjiwa NKRI, sehingga terbangun kebhinekaan yang tunggal ika.

Seminar Nasional dengan Topik Kepemimpinan Pemersatu Keberagaman, dilaksanakan Komunitas Mahasiswa Peduli Bangsa yang di Ketuai Julpan Siregar Mahasiswa FKIP UMSU, Sekretaris Syahrul Ramadhan Mhs Fakultas Tehnik, dan Bendahara Dimas, sedangkan Moderator, Ridho Alfiansyah, Mahasiswa FKIP.

Menurut Julpan, Seminar dilaksanakan dampak dari berita berita yang bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa, khususnya di Sumatera Utara, seperti suara Toa/ sound sistem mesjid ketika azan, presiden tiga priode, penundaan pilpres, dan lainnya,  yang diikuti kalangan Mahasiswa berbagai Perguruan Tinggi, kata Julpan.

DR Moch Yusri M.Si Ketua Pusat Kajian Strategis UMSU menjelaskan bahwa keberagaman, merupakan identitas bangsa Indonesia yang bersatu dalam NKRI,  tetapi menjadi sebuah tantangan, karena potensi kelautan, pulau, suku, agama, dan budaya yang membutuhkan sosok Pemimpin seperti Komjen Pol Agus Andrianto, masa bertugas di Sumut.

Guru Besar Unimed Prof DR Efendi Napitupulu, menyatakan bahwa untuk mempersatukan keberagaman, diperlukan jiwa kreatif dari para mahasiswa, membangun komunikasi yg baik, berkolaborasi, sekaligus membina karakter diri sendiri dari para mahasiswa, dan dapat mencontoh  kebijakan yang pernah diperbuat Kapoldasu, Agus Andrianto.

Seminar Nasional dengan topik Pemersatu Keberagaman  ditutup secara resmi oleh Kepala Lembaga Layanan Dikti Sumut, Prof. Dr. Ibnu Hajar, M.Si dengan ucapan rasa bangganya kepada panitia. (red/ril)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini