Anies, RH dan Tenun Kebangsaan

Sebarkan:
Aulia Andri, Ketua Seknas PMP Sumut. (foto/ist)
DALAM berbagai diskusi dengan Pak Rahudman Harahap (RH), saya kerap ditanyai soal sosok Anies Baswedan. RH berkali-kali bilang ke saya, bahwa sosok Anies salah satu figur calon Presiden RI yang punya karakter dan prestasi kerja. Saya kemudian berupaya merasionalisasi sosok Anies. Gubernur DKI Jakarta ini memang punya banyak pendukung dan hatters. Walaupun menurut saya, banyak juga yang membencinya tanpa alasan.  

RH, tokoh sentral Partai Nasdem Sumut, kemudian meminta saya membaca banyak hal tentang Anies. Dia kemudian menyebut bahwa Anies merupakan sosok negarawan yang punya peluang besar memimpin republik ini. Bagi saya, hal itu keniscayaan. RH kemudian menyuruh saya membaca sebuah tulisan Anies.  

"Anda baca dulu sekelumit pikiran Anies di Kompas. Disana kita akan lihat dan rasakan kejernihan ia melihat persoalan bangsa ini, republik ini," kata RH kepada saya.   

Saya kemudian mendapati  sebuah artikel di Harian Kompas, tahun 2012. Disana saya melihat artikel opini yang ditulis Anies Baswedan berjudul "Ini Soal Tenun Kebangsaan. Titik!". Artikel tersebut menyampaikan gagasan dan pikiran Anies mengenai kebangsaan. Lihatlah, frase awal tulisan itu berbunyi, "Republik ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas. Tidak juga untuk melindungi mayoritas. Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa! Tak penting jumlahnya, tak penting siapanya. Setiap orang wajib dilindungi. Janji pertama Republik ini: melindungi segenap bangsa Indonesia. Saat ada warga negara yang harus mengungsi di negeri sendiri, bukan karena dihantam bencana alam tetapi karena diancam saudara sebangsa, Republik ini telah ingkar janji. Akhir-akhir ini nyawa melayang, darah terbuang percuma ditebas saudara sebahasa di negeri kelahirannya. Kekerasan terjadi dan berulang. Lalu berseliweran kata minoritas, mayoritas di mana-mana. Bangsa ini harus tegas: berhenti bicara minoritas dan mayoritas dalam urusan kekerasan. Kekerasan ini terjadi bukan soal mayoritas lawan minoritas. Ini soal sekelompok warga negara menyerang warga negara lainnya. Kelompok demi kelompok warga negara secara kolektif menganiaya sesama anak bangsa. Mereka merobek tenun kebangsaan!"  

Tulisan Anies itu sungguh menyentuh hati saya. Lantas, setelah membaca tulisan Anies itu, RH kemudian bilang ke saya.  

"Dia seorang penenun kebangsaan. Perawat kebhinekaan di republik ini. Maka, Anda jangan heran kalau saya bersimpati padanya," terang RH. Bagi saya, sikap RH menjadi menjadi semacam sinyal bahwa ia mempunyai pandangan jernih terhadap Anies Baswedan.  

Suatu malam, RH kembali mengajak saya berdiskusi. Kali ini, kami juga bertemu dengan Ramadhan Pohan. Mantan politisi Partai Demokrat ini menjelaskan banyak hal pada saya dan RH tentang Anies Baswedan. Ia mengaku mengenal Anies sejak sama-sama kuliah di Amerika.  

"Anies bekerja di jalan sunyi. Ia tak butuh publikasi. Ia bekerja dibantu west wings-nya yang tak perlu populer. Anda harus tahu soal itu," kata Ramadhan.  

Dari Ramadhan, saya juga kemudian banyak tahu soal "behind story" Anies yang pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, namun kemudian dicopot. Dia kemudian juga menceritakan relasi-relasi kerja Anies selama memimpin Jakarta. Diskusi antara RH, Ramadhan Pohan dan saya, kemudian melahirkan banyak gagasan. Ramadhan berjanji akan menyampaikan dan mendiskusikan gagasan-gagasan RH kepada Anies.   

Usai pertemuan dengan RH dan Ramadhan, saya menuliskan sebuah kalimat, "Kenduri Tenun Kebangsaan". Alangkah menariknya jika Anies dapat hadir ke Sumut, bertemu dan merajut silaturahmi dengan semua kelompok di Sumut. Saya meyakini, RH dengan ketokohannya, akan mampu menghadirkan seluruh tokoh masyarakat, agama, dan adat di Sumut, untuk bertemu dan menenun (silaturahmi) kebangsaan bersama Anies. Sedang, Ramadhan, dengan relasi individunya dengan Anies akan dapat meyakinkan hal itu terwujud.  

Oh ya, di awal pagi ketika menuliskan ini, saya mendapati sebuah berita di Tempo bahwa Puan Maharani, Ketua DPR RI dari PDI Perjuangan, tidak menutup kemungkinan akan berpasangan dengan Anies Baswedan di Pilpres 2024. Dalam sebuah wawancara di televisi, Mbak Puan menyatakan membuka peluang tersebut.  

"Mungkin saja (duet dengan Anies), enggak ada yang tidak mungkin di politik. Semua dinamika itu bisa terjadi. Ya tinggal kita lihat lagi tahun depan lah bagaimana ceritanya, cerita-cerita politik," kata Puan Maharani.  

Ah, saya kok jadi girang sendiri pagi ini. Membayangkan duet Anies-Puan atau sebalikya membakar semangat saya. Dalam hati saya berdoa, semoga Pak Anies dan Mbak Puan sehat selalu. Negeri ini membutuhkan mereka. 

Penulis: Aulia Andri, Ketua Seknas PMP Sumut, Wakil Ketua PC Nadhlatul Ulama Medan.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini