Korban Geng Motor, Kesaksian Istikhara: Biadab, Kelak Anakku yang Lahir di Kandungan tak Mengenal Siapa Bapaknya...

Sebarkan:
Korban Geng Motor, Istikhara (23) bersama sepasang buah hatinya menuntut pelaku pembunuh suaminya dihukum seberat-berantya. (foto:mm/awal yatim)
"Melihat suamiku dibacok mereka (Geng Motor) aku menjerit minta tolong. Kudekati suamiku yang sempat berlari memegang lukanya yang banyak mengeluarkan darah. Suamiku bilang dingin, lalu tak sadarkan diri," kenang Istikhara (23) sembari memangku sepasang buah hatinya yang masih kecil-kecil dalam perbincangan bersama medanmerdeka.com, Jumat (22/4/2022)  sore di rumah kakaknya di Jalan Kail, Lk 5, Kelurahan Sai Mati, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan.

Tak terasa air mata Istikhara sudah membasahi kedua kelopak matanya yang masih tampak sembab karena menahan tangis dan luka mendalam melihat ayah dari anak-anaknya dibantai secara sadis komplotan Geng Motor, Kamis 21 April 2022, dini hari kemarin.

"Biadab kali mereka (Geng Motor)  yang membuat anak-anak ini menjadi yatim. Belum lagi anak yang kukandung kelak tidak mengenal siapa bapaknya," kata Istikhara dengan nada lirih.  Sulit rasanya melepas trauma yang dialaminya, apalagi luka goresan aspal di wajah putrinya Kahiyang (5) dan Rally (3) hingga kini masih membekas.

Kepergian suaminya Retno Suwito (26) untuk selama-lamanya ternyata sudah menunjukkan tanda-tanda beberapa hari sebelum meninggal dunia. Sebelumnya ayah dari anak-anaknya tesebut merupakan kepala keluarga yang periang dan baik hati serta sayang sama keluarga. Namun beberapa hari sebelum menjemput ajal, Retno sapaan akrab tampak pendiam. "Aku sempat tanya mengapa selalu diam, dia jawab tidak ada masalah. Sekarang aku baru paham, rupannya itu tanda-tanda suamiku mau pergi," ujarnya.

Menurut Istikhara, musibah yang mereka alami terjadi ketika dia dan suaminya serta adik angkatnya Rasyid hendak mengisi BBM di SPBU di Jalan Pasar 3, Marelan. Setelah mengisi BBM, suaminya Retno minta tukaran motor. Retno kemudian naik motor Scorpio, sedangkan Rasyid bersama Istikhara dan kedua anaknya naik Vario. Keduanya janji tukaran kendaraan di Simpang Titipapan.

Setibanya di jembatan Titipan, Retno tiba-tiba melajukan kendaraan, sehingga membuat istrinya heran. Rasyid kemudian mengejar Retno. "Saya sempat tanya, kenapa abang kencang kali bawa motor," tanya istrinya. Oleh Retno dijawab, jika dirinya hendak dipukul sekelompok pria mengendarai motor yang marah mendengar suami knalpot motor Scorpio milik Rasyid.

Kemudian Retno dan Rasyid melanjutkan perjalan menuju pulang, namun setibanya di Simpang Kantor, Kecamatan Medan Labuhan, mereka kembali berhenti untuk minum jamu. Saat itulah, sekumpulan remaja Geng Motor melewati mereka. Namun beberapa diantaranya berbalik arah mendekati Retno dan istrinya.

Rento dan Rasyid lalu bergegas meninggalkan warung jamu. Namun kelompok Geng Motor memburu mereka menuju Jalan Iliyas, Sei Mati. Setibanya di perlintasan rel kereta api, sepeda motor Varia Retno dipepet dan ditendang sehingga ia dan anak-anaknya terjatuh. Retno masih sempat menyuruh istri dan anak-anaknya membawa motor.

Malam itu suaminya masih sempat melakukan perlawanan, sembari minta pertolongan warga. Namun sejumlah Geng Motor mengayunkan senjata tajam ke dada kiri suaminya yang seketika itu juga tak berdaya. Para pelaku lalu kabur meninggalkan suaminya yang sempoyongan menaham luka di dada. "Aku menjerit minta tolong. Suamiku merasa kedinginan dan lalu tak sadarkan diri," kenang Istkhara, menangis meminta keadilan agar para pelaku dihukum seberat-beratnya. (awal yatim)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini