15 Tahun Pemekaran Batubara, Miris! Wajah Limapuluh Tak Tersentuh Pembangunan

Sebarkan:
Sejumlah warga membersihkan drainase yang tersumbat dan mengakibatkan banjir di Simpang Empat Limapuluh, Batubara. (foto:mm/zein)
LIMAPULUH (MM) - Kelurahan Limapuluh Kota, Kecamatan Limapuluh, digadang-gadang menjadi Ibu Kota Kabupaten Batubara. Bahkan areal pertapakan perkantoran bupati seluas 50 hektare telah disiapkan. Namun malang, 15 tahun dimekarkan Limapuluh sama sekali tak tersentuh pembangunan.

"Kabupaten Batubara ini sudah dimekarkan dari kabupaten induk Asahan 15 tahun lalu. Usia 15 tahun ini sudah remaja yang sudah cantik dan pandai bersolek. Namun jauh yang dari kita harapkan, bahkan lebih buruk," kata Kahiril Anwar (59), tokoh masyarakat Limapuluh, Minggu (8/5/2022).

Hal ini dirasakan Anwar, seperti buruknya infratruktur jalan dan drainase menuju Pasar Limapuluh, yang berada di samping rumahnya. Bertahun-tahun drainase di lingkungan tempat tinggalnya tak tersentuh pembangunan, bahkan jika dimusim penghujan bak kubangan kerbau. "Entah kemana lagi kami harus mengadu, mungkin tinggal ke Allah SWT," kata Ucok sapaan akrab Khairil Anwar.

Pemandangan tak sedap juga disampaikan Sihite (66), tokoh masyarakat yang membuka usaha di Jalan Perdagangan. Dipaparkan Sihite, mulai dari perempatan Limapuluh hingga Perdagangan hampir seluruh drainase tertutup. "Ini jalan protokol, tapi drainasenya tak berfungsi, bahkan jika hujan semua tergenang," katanya kecewa.

Dari pantauan medanmerdeka.com di lapangan, Kelurahan Limapuluh, Kecamatan Limapuluh, berada di perempatan jalan lintas sumatera (Jalinsum).  Hampir keseluruhan drainase di perempatan jalan nasional dan kabupaten ini tak berfungsi. 

Masing-masing pemilik rumah pertokoan, bahu membahu bergotong rotong membersihkan drainase mencegah terjadinya banjir. Namun upaya warga sia-sia, karena drainse penuh tanah.

Sejak 15 tahun dimekarkan, baru kali ini warga Kelurahan Limapuluh, Kecamatan Limapuluh, meluapkan kekecewaan terhadap kepemimpinan Bupati Zahir. "Jika saya berpendapat, ini bukti Bupati Zahir tak berempati dengan warga Kelurahan Limapuluh," sebut tokoh masyarakat yang enggan namanya dipublikasikan.

Salah satunya, sambungnya, pembangunan Pasar Limapuluh yang jauh berbeda dengan Pasar Simpang Dolok. "Lihat saja, besar dan kualitas pasarnya berbeda. Ada apa dengan Limapuluh," pungkasnya.

Seharusnya sebagai wajah Ibu Kota sudah saatnya Kelurahan Limapuluh, berbenah dan di tata. Mulai dari drainase, trotoar, lampu penerangan jalan hingga kebersihannya diperhatikan. 

"Untuk apa dibangun rumah UMKM dan Dekranasda miliaran rupiah di pelosok-pelosok, namun wajah kota bak kubangan kerbau dan gelap gulita dimalam hari?"  pungkasnya.

Tentu saja pembangunan yang dilakukan ini menjadi pertanyaan di benak warga Kelurahan Limapuluh. "Kalau hanya pembangunan untuk kepentingan pribadi atau golongan, lebih baik kita bersikap di Pemilu mendatang," tegasnya. Berikut potret wajah Limapuluh:

Tokoh Masyarakat Limapuluh, Khairil Anwar (56) keluhkan jalan rusak dan tergenang air karena drainase tak berfungsi. (foto:mm/zein)

Pak Sihite mengalami nasib yang sama karena buruknya drainase di tempat tinggalnya. (foto:mm/zein)

Salah satu warung di Jalan Perintis Kemerdekaan Limapuluh, tak jauh dari gedung DPRD terkenang air di musim penghujan karena buruknya drainase. (foto:mm/zein)

Sejumah pedagang memadati badan jalan karena Pasar Limapuluh tak mampu menampung pedagang. (foto:mm/zein)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini