ANTARA AMANAH DAN SYAHWAT

Sebarkan:

Penulis: Choking Susilo Sakeh. (ist)
BAHWA benar, toean adalah salah satu putera terbaik Sumatera Utara, dengan prestasi mengagumkan di bidang yang toean tekuni sejak masa muda. Namun, saat toean berkesempatan memimpin Sumatera Utara -- hingga kini sudah berjalan lebih tiga setengah tahun -- toean harus berani mengakui, bahwa tak ada satupun “prestasi” yang toean toreh untuk kemashlahatan rakyat di daerah ini. Bahkan,beberapa “kewajiban’ toean sebagai kepala daerah, pun ada yang tak bisa dilaksanakan.

Sebagai pemimpin Sumut, toean belum berhasil. Sisa waktu masa kepemimpinan toean sekitar setahun empat bulan lagi, tentunya akan lebih terhormat jika toean fokuskan untuk melaksanakan berbagai janji yang telah toean ucapkan. Baik itu janji-janji di saat masa kampanye Pilgubsu kemarin, maupun janji-

janji di saat toean telah menjadi pemimpin. Sungguh, itu jauh lebih terhormat, dibandingkan jika hanya toean pergunakan untuk memenuhi syahwat kekuasaan agar bisa lagi memimpin Sumatera Utara lima tahun ke depan.

Lagipula, bagi para petahana tanpa prestasi yang ingin maju kembali, pastilah membutuhkan biaya jauh lebih besar dibanding calon lainnya. Khususnya di dalam meningkatkan elektabilitas, karena elektabilitas berkaitan dengan tingkat kepercayaan masyarakat. Dan, meningkatkan kepercayaan masyarakat, itu mahal biayanya, toean!

Karenanya, sudahilah syahwat kekuasaan yang mendorong toean untukkembali memimpin Sumut itu...

***

BAHWA benar, selama tiga setengah tahun memimpin Sumatera Utara, toean telah mencoba mengerahkan segala ketrampilan dan kemampuan toean yang ada untuk membangun provinsi ini. Namun, masyarakat hanya melihat apa hasil akhir dari upaya toean itu. Dan faktanya, nyaris tak ada hasil yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat yang toean pimpin.

Boleh jadi, gaya dan cara toean memimpin Pemprov Sumatera Utara itu tidak pas dan tidak nyambung dengan tradisi yang ada di birokrasi pemerintahan provinsi. Sehingga, segala daya upaya toean bagaikan membuang air ke lautan. Toean telah begitu bersemangat membangun Sumatera Utara, tapi aparat pemerintahan provinsi -- mungkin saja -- malah kurang kencang semangatnya.

Artinya, kedigjayaan seorang pemimpin akan menjadi sia-sia, jika sang pemimpin tak mampu mengorganisir bawahannya dengan baik. Toean seakan berjalan sendiri, di tengah berbagai permasalahan Sumatera Utara yang menumpuk dan ruwet. Kondisi semacam ini pastilah sangat menyiksa, toean. Karenanya, sudahilah syahwat kekuasaan yang telah mendorong toean untuk kembali memimpin Sumut itu...

***

MASA Eramas (Edy Rahmayadi/Musa Rajekshah) memimpin Sumatera Utara, akan berakhir pada 5 September 2023, atau sekitar setahun empat bulan lagi. Jika Pilgubsu dilaksanakan serentak pada tahun 2024, maka sejak 5 September 2023 Sumatera Utara akan dipimpin oleh PJ atau Plt atau apapun nama jabatannya.

Namun, tidak tertutup kemungkinan, Pilgubsu akan dilaksanakan pada tahun 2023. Sebab, saat ini Mahkamah Konstitusi (MK) sedang melaksanakan persidangan atas gugatan beberapa kelompok masyarakat terhadap UU yang mengatur Pilkada Serentak tahun 2024 tersebut.

Kapanpun Pilgubsu dilaksanakan, memang saat sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk “mematut-matutkan” dan “menjajakan” diri agar dianggap layak sebagai Calon Gubernur Sumatera Utara (Cagubsu) priode lima tahun ke depan.

Bagi siapapun yang punya minat dan bernafsu untuk menjadi Cagubsu mendatang -- termasuk petahana sekalipun -- mestilah mempersiapkan dana yang tak sedikit. Terutama untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya, sehingga partai politik merasa layak untuk mengusung sosoknya.

Toean, ini adalah sejenis pekerjaan yang berat dan melelahkan, segarang apapun toean. Apalagi bagi para petahana tanpa prestasi.Ketimbang sibuk mematut-matutkan diri, alangkah mulianya jika toean mengerahkan habis-habisan segala dana dan upaya yang ada untuk menyelesaikan sisa masa jabatan yang ada, dengan berbagai program yang bisa mengangkat martabat rakyat Sumatera Utara. Andaipun kelak toean tak lagi bernafsu memimpin Sumatera Utara, mudah-mudahan toean bisa dianggap sebagai “Bapak Sumatera Utara”, tempat dimana semua Cagubsu sowan dan meminta petunjuk dari toean.

Karenanya, sudahilah syahwat kekuasaan yang sangat mendorong toean untuk kembali memimpin Sumut itu...

----------------------

*Penulis adalah Jurnalis, warga Sumatera Utara.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini