Pak Polisi itu Juga Manusia…

Sebarkan:
Choking Susilo Sakeh. (foto/ist)
MACET total, padat merayap, dan seterusnya dan seterusnya. Itulah antara lain istilah yang muncul di dalam menggambarkan kondisi lalulintas pada saat arus mudik dan arus balik lebaran. Di Sumatera Utara, kondisi semacam itu terjadi di beberapa titik. Misalnya di jalur ke/dari Medan-Berastagi, Tebingtinggi-Siantar, Tebingtinggi-Kisaran, Sipirok, Stabat-Tanjungpura dan beberapa lainnya.

Aku bayangkan, kondisi lalulintas di titik-titik kemacetan tersebut akan sangat brutal dan berantakan andai di lokasi tersebut tidak hadir petugas polisi. Aku pun membayangkan, kondisi lalulintas di jalur mudik dan jalur balik lebaran akan sangat brutal dan berantakan, andai petugas polisi tidak merancang disain arus lalulintas sejak dini : contra flow kek, one way kek, dan seterusnya-seterusnya.

Tanpa kehadiran petugas polisi di titik-titik kemacetan arus lalulintas, maka besar kemungkinan kita akan menyaksikan adegan supir saling serobot, adu maki bahkan tak tertutup kemungkinan adu pukul antar para pengemudi, dan seterusnya dan seterusnya.

***

Selama 4-9 Mei 2022, aku mencoba ikut-ikutan menikmati aroma mudik lebaran melalui jalur darat. Rutenya sederhana saja : Medan-Baganbatu-Pekanbaru-Kotapinang-Kotanopan-Rantauperapat-Medan. Rute Kotapinang-Kotanopan dan Rantauperapat-Medan, kutempuh pada malam hari. Selebihnya perjalanan dilakukan sepanjang siang hari.

Dari amatanku saat perjalanan mudik iseng-iseng ini, aku wajib mengakui besarnya peran petugas polisi di dalam mengatur arus lalulintas mudik ini. Pada titik-titik kemacetan, misalnya jalur yang menyempit di jembatan maupun kawasan pertokoan di ibukota kecamatan, atau di perlintasan kereta api serta persimpangan, kehadiran petugas polisi sangat membantu kelancaran arus lalulintas.

Tak peduli jam telah menunjukkan waktu dini hari. Tak peduli hujan ataupun terik. Para petugas polisi ini seakan mengabaikan udara dingin dinihari, basah kuyup

diterpa hujan atau cuaca terik menyengat. Para petugas polisi ini mengabaikan jadwal silaturahmi lebaran dengan kerabat dan handai tolan. Padahal, merek -- para petugas polisi itu -- bukan robat. Mereka sama seperti kita : manusia, yang punya emosi, rasa lelah dan sedih. Kedinginan saat diguyur hujan atau di saat mengatur lalulintas pada dinihari, serta pengap dan gerah saya bertugas di terik matahari.

***

Saat polisi melakukan rekayasa lalulintas dalam mengurai kemacetan di sebuah titik; apakah melalui cara contraflow, one way, penyekatan atau apapun itu, pasti ada pengendara yang merasa kesal karena dirugikan. Namun, atas nama kepentingan umum, mestinya kekesalan itu masih bisa dikendalikan oleh akal sehat.

Karenanya, aku merasa lucu kalau ada pemudik yang melampiaskan kekesalannya dengan memaki-maki petugas polisi. Misalnya, saat seorang penumpang Alphard memaki-maki petugas polisi di wilayah Polres Tasikmalaya, atau beberapa peristiwa lainnya yang viral di medsos.

Andaipun petugas polisi yang hadir di berbagai titik kemacetan lalulintas itu cumalah sebuah robot, namun mengingat kehadirannya sangat bermanfaat di dalam mengurai arus lalulintas, maka sangatlah tak layak untuk dicaci-maki.

Andaipun polisi yang mendisain rekayasa lalulintas di dalam mengurai kemacetan itu cumalah sebuah robot, namun mengingat manfaatnya sangat dirasakan oleh para pemudik, maka sangatlah tak layak untuk dilecehkan.

Dan ternyata, para petugas polisi itu bukan robot. Mereka sama seperti kita : manusia yang penuh emosi, rasa lelah dan sedih. Kedinginan saat diguyur hujan atau di saat mengatur lalulintas pada dinihari, serta pengap dan gerah saya bertugas di terik matahari.

Petugas polisi itu juga manusia. Karenanya, jika kalian punya rasa empati dan simpati atas kehadiran polisi mengatur arus lalulintas saat kalian mudik, sangatlah layak jika kalian mengirim parcel ke kantor polisi terdekat, sebagai ungkapan rasa hormat dan terimakasih kalian atas peran pak polisi.

Ya, pak polisi itu juga manusia…

-----------------------

*Penulis adalah jurnalis.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini