![]() |
| Nek Hasnah (70) dengan keterampilan barunya menjadi seorang penjahit. (foto:dok ist) |
DI BALIK setiap jahitan yang ia rajut dengan penuh cinta, tersembunyi kisah hidup yang penuh liku. Nenek Hasnah (70), seorang perias pengantin yang dulunya sering disambut tawa dan kebahagiaan, kini mengubah rasa sakit dan luka menjadi sebuah karya indah.
Setelah kecelakaan tragis yang membuat kakinya cacat, Hasnah tak hanya belajar untuk menerima kenyataan, tetapi juga menemukan jalan baru dalam hidupnya—sebuah hobi yang kini menjadi sumber kekuatan dan harapan.
Nenek Hasnah dulunya dikenal sebagai seorang perias pengantin yang sudah berpengalaman. Dengan tangan yang cekatan, ia mengubah pengantin wanita menjadi ratu sehari, memberikan sentuhan magis pada hari bahagia mereka.
Namun, hidupnya berubah drastic pada suatu pagi yang kelam. Pada saat melintas di perlintasan kereta api dekat rumahnya, kecelakaan tak terelakkan terjadi. Kereta menabraknya dan kakinya terluka parah, meninggalkan cacat yang mengubah hidupnya selamanya.
"Saat itu, saya nggak tahu harus bagaimana. Rasanya dunia berhenti, dan kaki saya tak lagi bisa bergerak dengan leluasa. Semua pekerjaan yang dulu saya jalani, harus saya tinggalkan," kenang Hasnah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Namun, seperti yang diketahui, kehidupan seringkali memberi kita ujian yang tak terduga. Nek Hasnah memilih untuk bangkit. Tak bisa lagi bergerak lincah seperti dulu, Hasnah mulai mencari cara untuk mengisi hari- harinya. Ia menemukan sebuah hobi yang selama ini hanya pernah ia coba-coba: menjahit.
Tangan yang dulu ahli merias kini mulai menari di atas benang dan jarum, menciptakan karya jahitan yang indah.
"Awalnya, saya merasa cemas. Saya takut jika saya tidak bisa melakukan apapun setelah kecelakaan itu. Tapi ketika mulai menjahit, saya merasa ada yang berbeda. Ini membuat saya merasa lebih hidup. Setiap jahitan yang saya buat, itu seperti menyembuhkan luka-luka hati saya," ujar Nenek Hasnah dengan senyum tipis.
Kini, di ruang tamunya yang sederhana, berbagai hasil jahitan seperti keset yang di satukan dari kain perca, taplak meja, dan bahkan sarung bantal, tersusun rapi. Setiap karya adalah simbol perjuangan dan ketekunan. Jahitan-jahitan nya semakin dikenal di lingkungan sekitar, dan banyak orang yang membeli hasil kerajinan tangannya.
Selain menyalurkan hobinya, Hasnah juga sering berbagi cerita tentang kekuatan mental dan pentingnya beradaptasi dengan setiap perubahan yang terjadi dalam hidup. Meski tak lagi bisa bekerja sebagai perias pengantin, ia merasa bersyukur karena menemukan jalan baru yang memberi kedamaian dalam hidupnya.
Cucunya, Dini (21), mengungkapkan, "Nenek selalu mengajarkan kami untuk tak pernah menyerah. Saat kecelakaan itu terjadi, kami sempat khawatir, tapi nenek justru memberikan kami pelajaran tentang bagaimana menghadapi hidup yang penuh dengan tantangan."
Karya Hasnah tak hanya menjadi sebuah terapi pribadi, tetapi juga memberi inspirasi bagi banyak orang. Banyak yang datang untuk belajar menjahit darinya, sementara beberapa tetangga membeli hasil rajutannya untuk digunakan di rumah.
Melalui setiap rajutan yang dibuatnya, Nenek Hasnah mengajarkan kita bahwa kekuatan sejati datang dari dalam diri. Meskipun hidup memberinya ujian yang berat, Hasnah tidak memilih untuk menyerah, tetapi malah menemukan cara untuk melangkah lebih jauh.
Ia kini tidak hanya memperindah dunia dengan sentuhan tangan, tetapi juga menyentuh hati banyak orang dengan kisah hidupnya yang penuh makna. (penulis: Dini Amaliah Hasibuan, Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi UINSU)


