Kasihan Rico Wa’as...

Sebarkan:
CHOKING SUSILO SAKEH
KASIHAN Rico Wa’as

WAKTU delapan bulan sudah cukup bagi warga Kota Medan untuk bisa memahami secara tepat, bahwa ternyata Rico Wa’as sangat tidak layak menjadi Walikota Medan. Kinerja dan kualitasnya, ternyata jauh dari harapan Warga Kota Medan. Baik berdasarkan  UU No 23 Tahun 2013 tentang Pemerintahan Daerah, terkhusus : di dalam menjawab berbagai permasalahan yang ada di Kota Medan. Spec (spesifikasi) Rico Wa’as, bahkan ternyata bukan sebagai walikota, melainkan sebagai “juru omon-omon”.

Lho, kok?

Yak, secara kasat mata, semua warga Kota Medan mengetahui beragam permasalahan yang ada di Kota Medan dan hingga kini sepertinya tak mampu diatasi. Masalah unggulannya, pastilah soal banjir. Proyek U-Ditch, Kolam Retensi, Floodway dan proyek-proyek lainnya yang telah menghabiskan ratusan miliar uang rakyat, entah bagaimana kelanjutannya kini, dan entah apa manfaatnya di dalam menanggulangi banjir. Sebab, faktanya, banjir Kota Medan semakin hari semakin asyik saja.

Kemudian, masalah kemacetan lalulintas. Kemacetan ini bisa disebabkan oleh pertumbuhan jumlah panjang jalan yang tidak seimbang dengan pertumbuhan jumlah kenderaan bermotor. Bisa pula disebabkan oleh penataan parkir dan pedagang pasar/pajak yang tetap saja marsamburetan. Prihal parkir misalnya, diantaranya adalah tentang tarif parkir yang tak jelas dan mengundang keributan antara pemilik kenderaan dengan petugas parkir, masih banyaknya petugas parkir liar, termasuk penataan parkir yang sesukanya. Akan halnya pedagang pasar/pajak, terkesan ketidakmampuan menertibkan pedagang yang bebas memakai badan jalan. 

Permasalahan lainnya yang juga gampang ditemukan di Kota Medan, adalah banyaknya badan jalan, terutama jalan kota maupun jalan provinsi, yang kondisinya cupak-capik. Terkesan, jalan rusak itu terbiarkan, dan nyaris tak pernah terdengar ada upaya memperbaikinya.

Tak kalah pentingnya, adalah sejauhmana penertiban terhadap bangunan liar, reklame outdoor maupun hal-hal yang berdampak langsung dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Termasuk, tentunya, adalah pengawasan terhadap disiplin dari para aparat di seluruh jajaran Pemko Medan.

Lantas, apa saja yang sudah dilakukan oleh Rico Wa’as selama delapan bulan menjadi Walikota Medan di dalam mengatasi berbagai masalah yang ada tersebut?

*

Kasihan Rico Wa’as…

Rico Wa’as terkesan memang diperlihatkan sebagai seorang Walikota Medan yang setiap harinya mesti ngomong  --  ngomong segala hal, ngomong apa saja dan di forum apa saja. Tak peduli, apakah omongannya bermanfaat di dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di Kota Medan, atau cuma sekedar omon-omon belaka.

Alkissah, akan ada sekelompok elit birokrat pemda yang melihat keberadaan seorang kepala daerah baru sebagai ‘ancaman’ atau ‘peluang’. Mereka adalah para aparat yang selama ini mendapatkan ‘kenyamanan’ dari kepala daerah sebelumnya. Dan karenanya, mereka akan berupaya mempertahankan kenyamanan tersebut kelak bersama kepala daerah yang baru.

Dan itu, sangat tergantung kepada sosok sang kepala daerah yang baru : apakah ia sosok yang kuat, ataukah lemah. Indikasi kuat atau lemahnya seorang kepala daerah baru, bisa dilihat dari, antara lain apa partai politiknya, siapa ‘orang dalam’-nya, bagaimana latar belakangnya dan beberapa hal lainnya.

Andai kepala daerah baru itu ternyata sosok yang kuat, maka para kelompok elit birokrat yang sebelumnya mendapatkan kenyamanan dari kepala daerah sebelumnya, tidak akan berani bertingkah macam-macam. Sebaliknya, jika kepala daerah baru itu ternyata sosok yang lemah, maka kelompok elit birokrat ini akan memainkan strateginya agar tetap bisa menikmati kenyamanan mereka dari kepala daerah yang baru.

Dalam konteks Rico Wa’as, ada beberapa kemungkinan. Pertama, bahwa Rico Wa’as sesungguhnya adalah sosok kepala daerah yang masuk dalam kategori “lemah”. Namun ia tak mau dianggap lemah. Lantas, dia merasa “pantang tak hebat”. Maka, Rico Wa’as pun berjalan sendiri, nyaris tanpa dukungan penuh dari seluruh jajarannya. Dia bahkan kemudian menyusun ‘framing’ sendiri, tentang osok ideal seorang Walikota Medan.

Kemungkinan kedua, Rico Wa’as sadar bahwa ia tak begitu memahami sistim kerja birokrasi pemerintahan. Karenanya, dia mencoba memberi kepercayaan kepada jajarannya untuk membantunya. Namun di satu fihak, sekelompok elit birokrat yang selama ini mendapatkan kenyamanan dari kepala derah sebelumnya, memanfaatkan kelemahan Rico Wa’as tersebut. Di satu sisi, mereka menyatakan kesiapannya membantu Rico Wa’as. Namun di sisi lainnya, mereka juga menyusun framing tentang sosok ideal seorang Walikota Medan yang mesti dilakoni Rico Wa’as sebagai Walikota Medan yang ideal.

Apapun kemungkinan tersebut, namun yang kemudian terlihat oleh warga Kota Medan, adalah bahwa spesifikasi Rico Wa’as ternyata bukanlah Walikota Medan yang bisa menjawab berbagai permasalahan yang ada, serta bukanlah pula Walikota Medan yang ideal sebagaima aturan yang ada. Spesifikasi Rico Wa’as, ternyata cumalah bagaikan pengajar, motivator, marketing, juru bicara dan sejenisnya :  “juru omon-omon”.

*

Kasihan Rico Wa’as…

Eh, cop, kasihan warga Kota Medan. Selama delapan bulan terakhir ini, warga Medan membayar pajak dan berbagai retribusi yang salah satunya digunakan untuk membayar gaji seorang walikota dengan spesifikasi “juru omon-omon”.

Mangkanya…

---------------------------------

Choking Susilo Sakeh: Penulis adalah Jurnalis, warga Medan taat pajak.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com