![]() |
| Vokalis Slank bersama penulis Amudhy Manurung (kanan). (foto/ist) |
Slank, dengan gaya khasnya, menyuarakan kritik terhadap birokrasi negara yang penuh luka: sistem yang beku, pejabat yang rakus, dan kebenaran yang seringkali hanya permainan kata. Namun ironinya, konser itu diadakan di kampus yang Rektornya beberapa waktu lalu mangkir dari panggilan KPK, untuk dimintai keterangan terkait kasus korupsi di Sumatera Utara.
Sebuah simbol betapa paradoksnya negeri ini — ketika suara anti korupsi bergema di tempat yang juga sedang beraroma korupsi. Lalu saya berpikir: Mungkin benar, di Indonesia kebenaran hanyalah opini.
Kita hidup di zaman di mana yang bersalah bisa tampak berwibawa, dan yang benar sering dianggap pembangkang. Berita tentang korupsi kini bukan kejutan, tapi rutinitas. Setiap hari muncul nama baru: pejabat, rektor, bahkan kepala daerah.
Di Sumatera Utara sendiri, nama sang Gubernur sudah beberapa kali disebut di persidangan. Tapi entah mengapa, seperti biasa, semuanya menguap begitu saja. Kata-kata “kita hormati proses hukum” terdengar indah — tapi sering kali artinya adalah “kita tunggu sampai rakyat lupa.” Bangsa ini seperti sedang menjalani drama panjang, di mana keadilan bukan diperjuangkan, melainkan diatur.
Kebenaran bukan lagi soal fakta, tapi soal siapa yang punya kuasa membentuk narasi. Dan rakyat, seperti penonton bioskop yang pasrah, hanya bisa menonton sambil bergumam: “Yang penting filmnya seru.”
Kadang saya bertanya pada diri sendiri, Apakah kita masih percaya pada kebenaran? Atau kita hanya percaya pada siapa yang paling pandai meyakinkan kita? Sampai akhirnya, konser usai, lampu padam, dan saya pulang dengan satu kesimpulan sederhana:
Di negeri ini, korupsi bukan sekadar tindakan, tapi kebiasaan yang dilegalkan dengan opini. Dan kebenaran? Entah di mana letaknya.
Mungkin masih terselip di antara lirik Slank yang terus bernyanyi — tentang bangsa yang terus berharap, tapi tak pernah benar-benar berubah.(*)
-----------------------
Penulis: Amudhy Manurung adalah pengamat sosial, politik & budaya. Menetap di Medan.


