Serangan Hari Natal di Lebanon, Israel Bunuh 3 Warga Sipil

Sebarkan:
Lebanon mengatakan serangan Israel di dekat perbatasan dengan Suriah menewaskan 3 warga sipil, Kamis (25/12/2025). Sementara tenggat waktu semakin dekat bagi militer Lebanon untuk melucuti senjata kelompok militan Hizbullah di selatan negara itu. (Foto: X/@Aljareedalb).
BEIRUT (MM) – Hari Natal yang seharusnya menjadi simbol damai dan kemanusiaan justru berubah menjadi tragedi di Lebanon. Serangan udara Israel kembali menghantam wilayah negara itu, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai warga lainnya dalam rentetan serangan yang terjadi pada Kamis (25/12/2025).

Melansir Arab News, serangan tersebut menyasar Distrik Hermel di wilayah timur serta kota Janata di bagian selatan Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi jumlah korban, sementara militer Israel berdalih bahwa serangan itu menargetkan anggota Hizbullah, klaim yang berulang kali dibantah oleh berbagai pihak di lapangan.

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyampaikan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menempatkan seluruh persenjataan di bawah kendali negara, termasuk melalui proses pelucutan senjata yang disebutnya sedang berjalan sesuai kondisi keamanan nasional.

Menurut Aoun, Panglima Angkatan Darat Jenderal Rodolphe Haykal akan menyampaikan laporan resmi kepada kabinet pada awal tahun mendatang. Laporan itu mencakup penyelesaian tahap awal pelucutan senjata di wilayah selatan Sungai Litani, serta rencana lanjutan menuju Sungai Awali.

Sementara itu, ketegangan di udara terus meningkat. Sedikitnya delapan jet tempur Israel terpantau terbang rendah di atas Baalbek dan desa-desa sekitarnya, sebelum bergerak ke arah tenggara menuju kawasan pegunungan timur Lebanon.

Dalam serangan terpisah, sebuah drone Israel menghantam bus penumpang di persimpangan Al-Nasseriya–Hawsh al-Sayyed Ali, menewaskan dua orang, termasuk seorang warga sipil bernama Ali Abdulamir Salman. Serangan drone lainnya menghantam sebuah mobil di Janata, melukai seorang pejalan kaki yang segera dilarikan ke rumah sakit.

Tak berhenti di situ, drone Israel kembali melancarkan serangan pada sore hari dengan menargetkan sebuah truk pikap di pintu masuk Safad al-Battikh, Distrik Bint Jbeil, menyebabkan satu orang luka-luka. Militer Israel kemudian mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, sekali lagi menyebut targetnya sebagai anggota Hizbullah.

Militer Israel juga mengumumkan telah membunuh Hussein Al-Jawhari, yang mereka klaim sebagai tokoh senior unit operasi Pasukan Quds Iran, dalam salah satu serangan udara di Lebanon, klaim yang kembali menuai kecaman karena serangan tersebut berlangsung di wilayah sipil.

Kecaman keras datang dari Joseph El-Kosseifi, Ketua Serikat Editor Lebanon, yang mengutuk tindakan tentara Israel setelah menembaki kru televisi Al Mayadeen. Tim media tersebut diketahui sedang meliput di kota Dhayra, Lebanon selatan, dengan koordinasi resmi bersama Angkatan Darat Lebanon.

Sehari sebelumnya, pasukan Israel menghancurkan sejumlah rumah warga di kota perbatasan Kfar Kila. Di kota Houla, dua drone Israel menjatuhkan bahan peledak yang merusak alat berat dan kendaraan sipil. Drone lainnya menjatuhkan bom suara di Odaisseh, menambah teror psikologis bagi warga setempat. Pesawat pengintai Israel juga dilaporkan terbang rendah di atas Beirut dan wilayah pinggiran selatannya.

Data terbaru menunjukkan eskalasi serius. Sepanjang Desember, Israel rata-rata melancarkan enam serangan per hari, setara dengan satu serangan setiap empat jam. Pasukan penjaga perdamaian PBB, UNIFIL, mencatat lebih dari 10.000 pelanggaran gencatan senjata, termasuk sekitar 2.500 aktivitas darat ilegal dan lebih dari 7.800 pelanggaran wilayah udara Lebanon oleh Israel.

Berbicara kepada wartawan saat perayaan Natal di Bkerke yang dipimpin Patriark Maronit Bechara Al-Rahi, Presiden Aoun mengungkapkan harapannya akan “kelahiran Lebanon baru” yang terbebas dari kekerasan dan agresi. “Kami merayakan Natal sementara luka di selatan masih menganga,” ujarnya.

“Warga belum kembali ke desa mereka, tahanan kami masih mendekam di penjara Israel, dan serangan terus berlanjut, termasuk hari ini di selatan dan Bekaa. Saya berharap perang segera berakhir dan perdamaian benar-benar dimulai.”

Aoun menambahkan bahwa para diplomat Lebanon tengah bekerja intensif dengan Komite Mekanisme internasional bersama Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara-negara Arab untuk menahan eskalasi serta mendorong gencatan senjata yang nyata. “Dalam setiap perundingan, tuntutan memang meningkat. Namun saya tetap optimistis. Insya Allah, kita akan mencapai hasil yang positif,” katanya.

Presiden juga menegaskan bahwa tahun mendatang harus menjadi momentum reformasi institusional. “Kami ingin Lebanon dibangun oleh lembaga negara, bukan oleh partai, sekte, atau kepentingan sempit. Negara yang berdiri di atas transparansi dan akuntabilitas,” tegasnya.

Menanggapi pertanyaan soal laju reformasi, Aoun menyebut adanya kemajuan signifikan dalam setahun terakhir. Pemerintah, katanya, telah menerbitkan lebih dari 2.000 dekrit dalam 10 bulan terakhir.

Di sisi militer, Jenderal Haykal menegaskan bahwa Angkatan Darat Lebanon hampir menuntaskan fase pertama rencana nasional untuk menempatkan seluruh senjata di bawah otoritas negara. Ia menekankan bahwa tahap lanjutan akan dilakukan dengan perhitungan matang dan berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap situasi keamanan.

Haykal juga membela integritas militer Lebanon dari tudingan dan kampanye disinformasi Israel. “Kepercayaan internasional terhadap Angkatan Darat Lebanon dibangun dari rekam jejak kami dalam menjaga kedaulatan negara, khususnya di wilayah selatan, meski dengan sumber daya yang sangat terbatas,” ujarnya.(mm/era)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com