![]() |
| Jembatan yang membentang sungai Batangtoru, Tapsel, ambruk diterpa banjir bandang. (foto:mm/subanta) |
SUDAH hampir dua bulan berlalu, namun bencana banjir bandang di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) masih meninggalkan luka mendalam bagi ribuan warganya. Tebalnya timbunan pasir, sirtu, batu, hingga kayu gelondongan yang menutup lahan pertanian warga, praktis mengubur mata pencarian utama masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani.
Di Kecamatan Batangtoru, kawasan persawahan Pulo Godang menjadi wilayah terdampak terparah. Hamparan sawah yang berada di tepian Sungai Batangtoru, tepatnya di Desa Telo, kini berubah menjadi lautan material banjir. Berdasarkan data Dinas Pertanian Tapsel dan hasil pantauan di lapangan, luas lahan yang rusak mencapai sekitar 157 hektare, meliputi sawah, kebun pisang, tanaman cabai, hingga perkebunan sawit.
“Dari dulu sampai sekarang, warga enam desa menggantungkan hidup dari bertani di Pulo Godang ini,” ujar Ahmad Harahap, warga Desa Telo, Kamis (kemarin). Enam desa tersebut yakni Wek I, Wek II, Wek III, Wek IV, Desa Telo, dan Kampung Napa.
Plt Kepala Dinas Pertanian Tapsel, Taufik Batubara, mengungkapkan seluruh areal persawahan di Kecamatan Batangtoru mengalami kerusakan berat akibat tertimbun material banjir setebal 3 hingga 5 meter. Pulo Godang disebut sebagai sentra persawahan terluas yang terdampak.
“Di lokasi itu terdapat 179 petani yang tergabung dalam enam kelompok tani. Informasi yang kami terima, banyak petani terpaksa beralih profesi menjadi buruh harian lepas di PTPN IV Kebun Batangtoru untuk menyambung hidup,” jelas Taufik saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.
Pantauan di lapangan memperlihatkan kondisi memprihatinkan. Permukaan sawah telah menyatu dengan badan sungai, tertutup pasir, batu, dan sirtu. Kayu gelondongan masih berserakan, sementara sisa pondok sawah terlihat roboh dan tak terawat. Saung tani yang dibangun melalui dana CSR PT AR pada tahun 2023 juga ambruk diterjang banjir.
Kerusakan paling fatal terjadi pada jembatan kayu (rambin) sepanjang 196 meter, satu-satunya akses menuju lahan persawahan Pulo Godang. Lantai jembatan hancur, jalan setapak hilang, bahkan sebagian jalurnya berubah menjadi aliran sungai. Ironisnya, jembatan yang dibangun perusahaan tambang emas PT AR ini sudah empat kali rusak akibat luapan Sungai Batangtoru, masing-masing pada tahun 2016, 2019, 2023, dan 2025.
Kini, posisi lantai jembatan nyaris sejajar dengan permukaan sungai. Padahal sebelum banjir, jarak permukaan air Sungai Batangtoru berada sekitar enam meter di bawah lantai jembatan.
Warga dan petani berharap adanya normalisasi Sungai Batangtoru melalui pengerukan sedimen secara menyeluruh. Material hasil pengerukan diusulkan dijadikan tanggul alami agar air sungai tidak kembali meluap dan merusak lahan pertanian. Saat ini, dua unit alat berat tampak mulai melakukan pengerukan sedimen di sejumlah titik sungai.
Bagi para petani Pulo Godang, normalisasi sungai bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan harapan terakhir agar sawah kembali ditanami dan kehidupan bisa perlahan bangkit dari lumpur bencana.(subanta)


