Gelombang Protes Besar-Besaran Iran Tewaskan 500 Orang Lebih

Sebarkan:
Cuplikan gambar dari rekaman yang beredar di media sosial ini menunjukkan para pengunjuk rasa menari dan bersorak di sekitar api unggun saat mereka turun ke jalan meskipun penindakan semakin intensif, di Teheran, Iran, Jumat, 9 Januari 2026. (Foto: AP).
DUBAI - Gelombang protes besar-besaran di Iran terus memakan korban jiwa. Kelompok pembela hak asasi manusia melaporkan bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat kerusuhan yang melanda negara tersebut telah melampaui angka 500 orang. 

Situasi kian memanas setelah Teheran melontarkan ancaman keras akan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat jika Washington benar-benar mencampuri urusan domestik Iran.

Melansir Arab News, menurut kelompok HAM berbasis di Amerika Serikat, HRANA, sedikitnya 490 demonstran dan 48 aparat keamanan telah tewas berdasarkan data yang mereka verifikasi dari jaringan aktivis di dalam dan luar Iran. 

Selain itu, lebih dari 10.600 orang dilaporkan telah ditangkap sejak unjuk rasa pecah. Namun demikian, angka-angka tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen oleh Reuters.

Ketegangan meningkat seiring pernyataan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, yang memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan “kesalahan perhitungan”. 

Dalam pidatonya di parlemen, mantan komandan Garda Revolusi itu menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan menjadikan Israel serta seluruh pangkalan dan kapal militer AS sebagai sasaran yang sah.

Aksi protes yang kini mengguncang Iran bermula pada 28 Desember lalu, dipicu oleh lonjakan harga kebutuhan pokok. Seiring waktu, tuntutan massa berkembang menjadi penolakan terhadap pemerintahan ulama yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979

Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang berada di balik kerusuhan tersebut.

Kepala Kepolisian Iran, Ahmad-Reza Radan, menyatakan bahwa aparat keamanan telah meningkatkan operasi untuk menindak apa yang mereka sebut sebagai “perusuh”. 

Arus informasi dari dalam negeri pun semakin terbatas setelah pemerintah memberlakukan pemadaman internet sejak Kamis lalu.

Meski demikian, sejumlah rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan besarnya skala demonstrasi. Video dari Teheran menunjukkan lautan massa memenuhi jalanan pada malam hari, bertepuk tangan dan meneriakkan slogan-slogan protes. 

Rekaman lain dari Mashhad, di timur laut Iran, memperlihatkan kobaran api, asap membubung ke langit, puing-puing berserakan di jalan, serta suara ledakan yang menggema. Reuters menyatakan telah memverifikasi lokasi video tersebut.

Televisi pemerintah Iran pada Minggu menayangkan gambar puluhan kantong jenazah di kantor forensik Teheran. Dalam laporannya, media pemerintah menyebut para korban tewas sebagai akibat dari aksi “teroris bersenjata”.

Di tengah situasi genting ini, sumber-sumber Israel mengungkapkan bahwa negara tersebut berada dalam status siaga tinggi, mengantisipasi kemungkinan campur tangan Amerika Serikat. 

Seorang pejabat militer Israel menyebut protes di Iran sebagai persoalan internal, namun menegaskan bahwa militer Israel terus memantau perkembangan dan siap bertindak jika situasi menuntut.

Ketegangan kawasan ini mengingatkan kembali pada konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang berlangsung selama 12 hari pada Juni tahun lalu, ketika Amerika Serikat turut menyerang fasilitas nuklir utama Iran. Saat itu, Teheran membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel dan pangkalan udara AS di Qatar.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, melalui unggahan di media sosial pada Sabtu, menyatakan dukungannya terhadap para demonstran. 

Ia menulis bahwa Iran tengah mengejar kebebasan dan menegaskan kesiapan AS untuk membantu. Dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Trump juga membahas kemungkinan intervensi AS, menurut sumber-sumber Israel.

Tokoh oposisi Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran, memuji keberanian rakyat Iran dan menyerukan agar demonstran tidak meninggalkan jalanan. 

Sementara itu, Maryam Rajavi, pemimpin Dewan Nasional Perlawanan Iran yang berbasis di Paris, menyatakan bahwa rakyat Iran telah mengambil alih ruang publik dan mengubah lanskap politik negara tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam rapat kabinet, mengatakan bahwa Israel terus mengamati perkembangan di Iran dengan saksama. Ia menambahkan harapannya agar bangsa Persia dapat segera terbebas dari apa yang ia sebut sebagai belenggu tirani.(mm/net)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com