![]() |
| Tumpukan meterial batu, kayu dan sampah menutupi pemukiman warga desa. (foto:mm/subanta) |
JANUARI seharusnya menjadi harapan baru bagi para petani. Namun bagi ribuan petani di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), musim tanam 2026 justru menghadirkan kepedihan. Sawah yang menjadi sumber hidup mereka hingga kini masih tertimbun pasir, batu, dan kayu sisa banjir bandang.
Di wilayah Batang Angkola dan Sayur Matinggi, hamparan sawah berubah menjadi lautan material banjir. Lumpur, sirtu, dan kayu gelondongan menutup lahan dengan ketebalan mencapai beberapa meter. Padi tak bisa ditanam, cangkul pun tak sanggup menembus timbunan.
Di Saba Tonga, Desa Tolang Julu, Kecamatan Sayur Matinggi, sekitar 25 hektare sawah warga terbengkalai. Bukan karena malas mengolah, melainkan karena petani benar-benar tak berdaya menghadapi sisa amukan alam.
“Kami hanya bisa menatap sawah dari pinggir. Mau membajak bagaimana, pasir dan batunya rata menutupi areal sawah dan kolam,” tutur Kholid Daulay (62) dengan suara lirih.
Kholid memiliki sawah seluas satu lungguk (sekitar 2,7 rante) dan kolam ikan 1 hektare. Seluruhnya kini tak lagi menghasilkan apa-apa. Padahal, dari lahan itulah ia menghidupi keluarga.
“Sekarang sudah musim tanam. Kalau terlambat, kami kehilangan satu kali panen. Itu berarti beras di rumah juga terancam,” katanya.
Tak hanya sawah, kerusakan irigasi memperparah keadaan. Bendungan dan saluran air banyak yang jebol, tersumbat kayu besar, dan tertutup material banjir. Membersihkan secara swadaya mustahil dilakukan, sementara alat berat belum juga turun.
Data Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan mencatat sedikitnya 536 hektare sawah di empat kecamatan dan 36 desa/kelurahan terdampak dan tak bisa ditanami. Kecamatan Sipirok menjadi wilayah terluas dengan sawah rusak mencapai 249 hektare.
![]() |
| Areal persawahan rata tertup lumpur,batu dan kayu pascabanjir bandang. (foto:mm/subanta) |
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Tapsel, Taufik Batubara, mengatakan pihaknya telah melaporkan kondisi tersebut ke Kementerian Pertanian.
“Kami sudah menyampaikan laporan dan kementerian juga sudah turun meninjau. Penanganan membutuhkan alat berat karena timbunan material sangat tebal,” ujarnya.
Di tengah sawah yang membisu, para petani hanya berharap satu hal: bantuan cepat agar lahan mereka kembali bisa ditanami. Sebab bagi mereka, sawah bukan sekadar tanah, melainkan sumber kehidupan. (subanta)



