Pasca Banjir Bandang, Ribuan Warga Tapanuli Selatan Masih Bertahan di Pengungsian

Sebarkan:
Warga Dusun Pulo Lubang, Desa Hapesong Baru, Kabupaten Tapanuli Selatan, bertahan di lokasi pengungsian darurat di areal kebun PTPN IV Hapesong pascabencana banjir bandang dan longsor.(foto:mm/subanta)
TAPANULI SELATAN – Bencana banjir bandang, longsor, dan gerakan tanah yang melanda Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) masih menyisakan duka mendalam. Hingga awal Januari 2026, ribuan warga dilaporkan masih bertahan di lokasi pengungsian akibat rumah mereka hancur dan kawasan permukiman dinilai tidak lagi aman untuk ditinggali.

Bencana yang terjadi sejak akhir November 2025 tersebut tercatat berdampak pada 13 dari total 15 kecamatan di Tapsel. Sebagian besar pengungsi merupakan warga yang kehilangan tempat tinggal karena rumah mereka terseret arus banjir bandang atau rusak berat akibat longsor. Selain itu, sejumlah permukiman berada di zona rawan, seperti di bantaran sungai, lereng bukit terjal, serta wilayah dengan struktur tanah yang mengalami retakan.

Di lokasi pengungsian Batu Hula, mayoritas pengungsi berasal dari Desa Garoga yang nyaris seluruh wilayah desanya hancur akibat terjangan banjir bandang. Sementara itu, di areal perkebunan PTPN IV Simarpinggan, sebanyak 187 kepala keluarga (KK) warga Desa Tandihat mengungsi setelah tanah tapak kampung mereka mengalami retakan dan dinyatakan tidak layak huni.

Kondisi serupa juga terjadi di perumahan perkebunan PTPN IV Hapesong, yang menjadi lokasi pengungsian warga Kampung Taman Sari. Permukiman mereka sebelumnya berada tepat di tepi Sungai Batangtoru dan kini sebagian besar wilayahnya berubah menjadi alur sungai akibat banjir bandang.

“Kami terpaksa tetap tinggal di barak-barak ini sementara waktu sampai hunian sementara (huntara) dibangun di Hapesong. Kami takut kembali ke kampung karena kondisinya sudah tidak aman,” ujar Misdi (65), warga Dusun Pulo Lubang, Senin (5/1/2026).

Pantauan wartawan di lapangan menunjukkan, wilayah Batangtoru menjadi salah satu kawasan paling parah terdampak bencana. Selain dilanda banjir bandang Sungai Batangtoru, kawasan ini juga diterjang luapan Sungai Garoga. Sejumlah warga masih bertahan di pengungsian dengan kondisi yang memprihatinkan.

Salah satu pengungsian terberat dialami 27 KK warga Dusun Pulo Lubang, Desa Hapesong Baru. Mereka terpaksa mendirikan pondok-pondok darurat di lahan perkebunan PTPN IV, tanpa fasilitas bangunan permanen, dan bergantung pada bantuan logistik.

Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Selatan, hingga saat ini masih terdapat 4.220 jiwa terdampak, dengan 1.073 KK atau 4.192 jiwa mengungsi di lokasi pengungsian terpusat, serta 28 jiwa lainnya mengungsi secara mandiri. Para pengungsi tersebar di 15 titik pengungsian.

Kepala Pelaksana BPBD Tapsel, Julkarnaen Siregar, mengatakan jumlah pengungsi diharapkan dapat terus berkurang seiring dengan percepatan pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak.

“Kami berharap jumlah pengungsi terus menurun sesuai dengan realisasi pembangunan huntara. Meski demikian, BPBD tetap melakukan pemantauan setiap hari, terutama untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi tetap terpenuhi,” ujar Julkarnaen.(subanta)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com