Sebulan Lebih Terendam, Warga Tiga Desa di Tapsel Bertahan di Tengah Banjir

Sebarkan:
Air sungai Batangtoru, Tapsel, terus mengalir ke pemukiman warga karena terjadinya pendangkalan alur sungai. (foto/ist)
SUDAH lebih dari satu bulan banjir melanda Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Hingga kini, sedikitnya tiga desa di Kecamatan Batangtoru dan sekitarnya masih terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 100 sentimeter.

Pantauan di lapangan menunjukkan wilayah yang terdampak banjir meliputi Dusun Maju Benteng dan Dusun Kemuning di Desa Hapsong Baru, Kecamatan Batangtoru. Selain itu, banjir juga merendam Desa Bandar Tarutung, Kecamatan Angkola Sangkunur, serta Dusun Mabang Pasir, Desa Hutaraja, Kecamatan Muara Batangtoru.

Puluhan rumah warga dan sejumlah fasilitas umum seperti sekolah terendam banjir. Mayoritas permukiman yang terdampak berada di sepanjang aliran Sungai Batangtoru. Sungai yang dulunya cukup dalam kini mengalami pendangkalan dan dipenuhi pasir serta bebatuan, sehingga air mudah meluap ke permukiman warga.

Di Dusun Benteng, puluhan kepala keluarga terpaksa mengungsi ke masjid dan posko pengungsian, baik yang dibangun pemerintah maupun secara swadaya oleh masyarakat. Aktivitas warga lumpuh, sementara genangan air belum menunjukkan tanda-tanda surut.

Tokoh agama setempat sekaligus Ketua BKM Masjid Al Iman, Ahmad Hulu, mengaku cemas dengan kondisi tersebut. Ia menyebut banjir kali ini sebagai yang terparah sejak ia menetap di wilayah tersebut.

“Saya tinggal di sini sejak 1998, dan ini banjir paling parah. Dari 84 rumah, ada 76 rumah yang terendam. Dahulu kawasan ini rawa-rawa, saya berkebun tomat dan jeruk sebelum akhirnya membangun rumah,” ujar Ahmad Hulu, Kamis (8/1/2026).

Kondisi serupa juga dirasakan warga Desa Bandar Tarutung. Proses belajar mengajar terpaksa dihentikan sementara karena gedung sekolah ikut terendam banjir dengan ketinggian air lebih dari 50 sentimeter.

Warga menilai banjir diperparah oleh pendangkalan Sungai Batangtoru serta tumpukan kayu sisa banjir yang menyumbat aliran air di sepanjang bantaran sungai. Akibatnya, air meluap dan mencari jalur baru hingga menggenangi rumah warga dan jalan desa.

Masyarakat berharap adanya langkah konkret berupa normalisasi sungai, termasuk pengerukan dasar sungai dan pembersihan kayu-kayu sisa banjir, agar bencana serupa tidak terus berulang dan kehidupan warga dapat kembali normal. (Subanta)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com