![]() |
| GMKI Siantar–Simalungun Peringati Dies Natalis ke-76 Nasional dan ke-64 Cabang. (foto/ist) |
Perayaan Dies Natalis sebuah refleksi di mana GMKI telah lama berdiri sejak (9 Februari 1950). Untuk itu perlu adanya mengingat dan merefleksikan bahwasanya GMKI juga telah banyak melahirkan kader-kader GMKI untuk menjadi pemimpin dan penggerak dan melayani di Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat.
Acara Dies Natalis tersebut berlangsung dengan hikmat dan penuh refleksi yang dihadiri oleh Senior GMKI dan Anggota GMKI Pematangsiantar-Simalungun.
Rangkaian kegiatan Dies Natalis tersebut berupa ibadah, upacara nasional dan upacara organisasi, pembacaan pidato ketua umum, kata sambutan dan pemotongan kue.
Ketua cabang 'Yova Ivo Cordiaz Purba' menyampaikan terima kasih kepada senior-senior dan anggota GMKI-PSS yang telah hadir dalam acara ini dan bersama-sama mensukseskan acara tersebut.
"Dalam perayaan Dies Natalis ini GMKI secara nasional sudah berumur 76 tahun dan cabang Pematangsiantar-Simalungun 64 tahun. Di usia yang sudah bertambah ini GMKI sudah melalui proses panjang baik itu dinamika internal dan eksternal yang telah dilalui. Sejarah panjang tersebut dapat kita refleksi untuk memberikan semangat juang baru dalam melakukan pelayanan di Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat," pesannya.
"Kader GMKI harus bisa menjadi Pemimpin bukan di lihat dari gender mau itu perempuan ataupun laki-laki dan memposisikan dirinya sebagai Pelayanan untuk memuliakan nama Tuhan," ujarnya.
Sebagai kader GMKI harus tetap percaya dalam pendiriannya bukan ikut-ikutan, tetapi berproses sesuai dengan talenta yang di miliki, tidak ada orang yang selesai dalam belajar, Tiga Medan Layan GMKI harapannya kader GMKI dapat melaksanakannya.
Dalam perayaan ini, merupakan momentum refleksi bagi anggota GMKI untuk merefleksikan perjalanan dan perjuangan dari pada pendahulu yang sudah pertama menampakkan kaki untuk melayani di GMKI.
Oleh karena itu di perayaan Dies Natalis ini adalah panggilan untuk kembali kepada sumber yaitu Yesus Kristus sebagai Sang Kepala Gerakan. Tanpa fondasi rohani yang kuat, gerakan akan kehilangan arah. Tanpa keberanian moral, iman akan menjadi formalitas. Kiranya api pelayanan tidak padam, dan keberanian tidak surut oleh zaman.(davis)


