PB IMSU Usulkan Hari Ulos Nasional ke Wapres Gibran, Target Pengakuan UNESCO

Sebarkan:
Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming, menerima audiensi Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara (PB IMSU) di Istana Wakil Presiden, Jakarta. (foto/ist)
JAKARTA — Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming, menerima audiensi Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara (PB IMSU) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (05/02/2026).

Audiensi tersebut membahas upaya pelestarian Ulos sebagai warisan budaya luhur bangsa yang tidak hanya dijaga melalui pendekatan tradisional, tetapi juga didorong masuk ke dalam ekosistem teknologi melalui pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) sebagai strategi pelestarian kebudayaan nasional di era digital.

Wapres Gibran mengapresiasi inisiatif dan semangat PB IMSU dalam mengangkat kembali nilai filosofis dan kultural Ulos sebagai identitas budaya Sumatera Utara sekaligus bagian dari kekayaan budaya Indonesia. 

Menurutnya, langkah tersebut selaras dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan nasional agar tetap lestari serta dapat diwariskan kepada generasi penerus.

Dalam pertemuan itu, Wapres juga menyampaikan dukungan terhadap upaya pengajuan Ulos sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Saat ini, Ulos diketahui telah masuk dalam daftar tunggu pengajuan pada organisasi internasional tersebut sebagai bagian dari penguatan legitimasi budaya Indonesia di tingkat global.

PB IMSU pada kesempatan tersebut turut mengusulkan penetapan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Ulos Nasional, merujuk pada tanggal ditetapkannya Ulos sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 17 Oktober 2014.

Usulan ini diharapkan menjadi momentum nasional tahunan, sebagaimana peringatan Hari Batik Nasional, guna memperkuat kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya pelestarian Ulos.

Ketua Umum PB IMSU, Lingga Pangayumi Nasution, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai jembatan antara tradisi dan teknologi.

“Merawat warisan budaya tidak cukup hanya dengan menjaga, tetapi juga dengan memodernisasi cara menjaganya. Ulos harus hidup tidak hanya di tenunan tangan, tetapi juga di ruang digital,” ujarnya.

Audiensi ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan kolaborasi antara generasi muda dan pemerintah dalam memastikan warisan budaya Indonesia tetap relevan di tengah perkembangan zaman.(lingga)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com