Setahun Walkot Medan Rico Wa’as : 'Masih Ikhlaskah Kita Menggajinya?'

Sebarkan:
CHOKING SUSILO SAKEH.
DI AWAL masa bhaktinya, Rico Wa’as diberi gelar bernada ejekan sebagai “Walikota Omon-omon”. Itu dikarenakan, Rico Wa’as yang dilantik menjadi Walikota Medan pada 20 Februari 2025,  kerjanya terlihat cuma ngoceh melulu. Sehari bisa lebih tiga kali. Baik saat menerima audiensi, saat berpidato pada sebuah acara, berkunjung ke kelurahan saat kegiatan sapa warga, dan lain sebagainya. Istilah Anak Medan, “kebanyakan cakap daripada jajan”.

Seiring ejekan Walikota Omon-omon itu, Rico Wa’as juga diejek sebagai “Walikota Glowing”. Maknanya, ngoceh melulu sambil tetap tampil necis. 

Meski telah diejek, e’eh, aksi ngocehnya semakin tancap gas. Malah dijadikan konten di media sosial. Semua kegiatan Rico Wa’as sebagai Walikota Medan, khususnya kegiatan omon-omon, tersaji sebagai konten di beberapa platform media sosial. Asyiknya, semua aktivitasnya yang dijadikan konten medsos tersebut, tak ada manfaatnya untuk membangun Kota Medan menjadi lebih baik. Untuk itulah kemudian Rico Wa’as diejek sebagai “Walikota Konten”. 

Lalu, Aliansi Cipayung Plus Kota Medan mengejeknya dengan gelar “Walikota Pomade”. Mereka sempat menggelar demo di depan Kantor Walikota Medan, beberapa saat menjelang setahun usia kepemimpinan Rico Wa’as sebagai Walikota Medan. Bahkan lebih seru lagi, aksi mereka disusul dengan pemasangan puluhan spanduk “Menggugat Mundur Walikota Pomade” di beberapa titik di Medan, persis saat setahun Rico Wa’as dilantik sebagai Walikot Medan.

Sayangnya, spanduk ini tak berusia panjang. Satpol PP Pemko Medan begitu bersemangat mencopoti spanduk aspiratif yang tak bersalah tersebut.

Dan terakhir, Rico Wa’as diejek sebagai “Walikota B2”. Ini bermula dari SE Walkot Medan No. 571/1540 tanggal 13 Februari 2026 tentang Penataan Lokasi dan pengelolaan limbah penjualan daging non-halal di wilayah Kota Medan. Akibat tidak adanya sosialisasi dan komunikasi sebelum surat tersebut diedarkan, maka para pedagang dan konsumen daging bagi di Medan, bahkan juga di Nusantara, serentak mengejak Rico Wa’as sebagai “Walikota B2”, walikota yang tak bisa kerja tapi malah ngurusin soal bagi.

Nyaris beriringan dengan itu, dimunculkan lagi gelar ejekan terbaru : “Walikota  Intoleran”. Kata para pemberi gelar ejekan ini, Rico Wa’as adalah Walikota Medan pertama dan satu-satunya sepanjang sejarah Kota Medan yang bersikap intoleran.

Aku tak berminat membahas berbagai gelar ejekan dari warga Medan kepada walikotanya tersebut. Sebab, salah-benarnya gelar ejekan tersebut sangat relatif dan debatable. Bagi para pemuja Rico Wa’as, ejekan itu dianggap tak berdasar. Sebaliknya, bagi para warga pengejek Rico Wa’as, ejekan itu muncul sesuai dengan fakta yang ada.

Aku lebih suka berpedoman pada pepatah para leluhur : “Tak ada asap kalau tak ada api”. Apa yang jadi gunjingan, tidaklah terjadi secara tiba-tiba. Tetapi karena ada sesuatu sebelumnya.

Ikhlaskah Kita?

“Sudahlah, kita ikhlaskan saja. Sudah banyak masukan dari berbagai fihak, namun Rico Wa’as ternyata memang tak mampu menjadi Walikota Medan,” ujar  seorang tokoh nasional asal Sumut kepadaku, beberapa saat lalu. Tokoh tersebut adalah sosok yang sangat berperan, di dalam mencalonkan dan memenangkan Rico Wa’as pada Pilkada Medan 2024 lalu.

Ikhlas? Mari kita berandai-andai. Jumlah uang rakyat yang dipergunakan untuk menggaji dan membayar biaya operasional Rico Wa’as sebagai Walikota Medan plus isterinya sebagai Ketua TP PKK Medan, setiap bulannya anggaplah berjumlah sekitar 80 juta rupiah. Maka, uang rakyat yang dihabiskan untuk Rico Wa’as dalam setahun, berjumlah sekitar satu miliar rupiah. Belum lagi intensif lainnya. Kesemua duit itu, tentulah berasal dari berbagai pajak dan retribusi yang dibayar warga Kota Medan. 

Hasilnya? Selama setahun menjadi Walikota Medan, nyaris tak ada hasil kerja Rico Wa’as untuk kemashlahatan Kota dan warga Kota Medan. Hal-hal sepele, semisal tumpukan sampah yang sangat gampang ditemukan di banyak tempat, banyak jalan kota dengan kondisi yang cupak-capik, trotoar yang berantakan, kemacetan jalan raya terutama di Lokasi pasar/pajak, pengelolaan parkir yang hubar-habir, tawuran yang masih terus terjadi di kawasan Belawan, dan banyak lainnya.

Masalah banjir masih terus berulang. Puncaknya, adalah lambatnya respon Pemko Medan saat terjadinya banjir besar pada akhir November 2025 lalu. Belum lagi nasib beberapa proyek pembangunan warisan walikota sebelumnya, yang semakin tak jelas upaya penyelesaiannya. Misalnya Lapangan Merdeka, Stadion Teladan, Gedung UMKM, Islamic Center, Kolam Retensi, drainase dan lain-lainnya.

Begitu pula masalah di internal pemerintahan. Diantaranya, masih banyaknya jabatan eselon dua yang kosong, lemahnya pengawasan pengelolaan pendapatan asli daerah, dan seterusnya dan seterusnya.

Dan, omon-omon Rico Wa’as yang jumlahnya mungkin ada sekitar seribuan item dalam setahun ini,  namun ternyata tak mampu menyelesaikan masalah yang ada di Kota Medan. 

Sumber dari semua permasalahan yang ada di Kota Medan tersebut, terutama adalah dikarenakan lemahnya manajemen kepemimpinan seorang Rico Wa’as. Selebihnya, di satu sisi, Rico Wa’as sesungguhnya minim pengalaman di bidang pemerintahan maupun di dalam bersosialisasi melalui kegiatan kemasyarakatan. Namun di satu sisi lainnya, Rico Wa’as merasa jabatannya sebagai Walikota Medan adalah segala-galanya  : merasa paling tahu, merasa paling layak dan sejenisnya. Rico Wa’as adalah Walikota Medan yang terkesan bersikap mentang-mentang dan jauh dari sikap rendah hati.

Beberapa kelemahan Rico Wa’as itu, membuatnya bahkan tak mampu memaknai jargon yang diusungnya sendiri : “Medan untuk Semua”. Lebih jauh lagi, visi Kota Medan 2025-2030 yang diusungnya : “Mewujudkan Medan BERTUAH (berbudaya, energik, ramah, tertib, unggul, aman dan humanis) yang inklusif, maju dan berkelanjutan  melalui semangat transformasi menuju Medan Satu Data”, menjadi semakin tak jelas penerapannya di dalam semua  aktivitas pemerintahan Kota Medan.

Yang terlihat kemudian, semua kelemahan Rico Wa’as selama setahun memimpin Kota Medan, berupaya ditutupi dengan narasi-narasi yang ditargetkan untuk membangun citra Rico Wa’as sebagai seorang walikota idaman. Tanpa disadari, upaya semacam ini malah menjadi bumerang, mengingat mayoritas masyarakat Kota Medan adalah warga terdidik. Apalagi kini adalah era yang sangat terbuka.

Apapun itu, tak bisa dibantah bahwa berbagai gelar ejekan yang disematkan warga Medan kepada Rico Wa’as itu,  muncul dikarenakan lemahnya aspek kepemimpinan Rico Wa’as. Aku sudah sering menuliskan, bahwa menjadi Walikota Medan itu jauh lebih berat dibandingkan dengan memenangkan Pilkada Medan 2024. Apalagi Pilkada Medan 2024 itu adalah pilkada terburuk sepanjang sejarah Pilkada Kota Medan. Tentunya, kita berharap Pilkada Medan yang terburuk itu, tidak serta merta menghasilkan Walikota Medan terburuk sepanjang sejarah Kota Medan. 

Lantas, masih ikhlaskah kita tetap membayar gaji Rico Wa’as dari uang pajak dan retribusi yang kita bayarkan? Jawabannya, tentu kembali kepada Rico Wa’as!

Mangkanya….

-------------------------------------

*Penulis : Choking Susilo Sakeh, Jurnalis Utama; lahir dan menua di Kota Medan.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com