![]() |
| Astuty Marhaida Aritonang didampingi Simon Situmorang, Freddy Antonius Pardosi saat melaporkan akun facbook atas nama Ganra Sihotang ke Polres Tapteng, (foto:mm/ist) |
Astuty datang ke Polres Tapteng didampingi Simon Situmorang dan Freddy Antonius Pardosi. Ia menilai unggahan yang dibuat akun tersebut telah mencederai kehormatan dan nama baiknya di ruang publik.
Astuty menjelaskan, persoalan itu bermula ketika dia melihat sebuah unggahan di akun Facebook Ganra Sihotang pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Postingan itu kemudian turut disebarkan ke sejumlah grup Facebook lainnya.
Dalam unggahan tersebut tertulis kalimat yang menuding adanya pengumpulan dana proposal Natal kepada sejumlah stakeholder, pengusaha hingga perusahaan, namun kegiatan yang dimaksud tidak digelar.
Isi unggahan itu antara lain berbunyi: "Inilah tampang Rosita (Raja Olah Sibolga Tapteng). Membuat proposal Natal ke stakeholder dan pengusaha serta PT, terkumpul dana puluhan juta. Acaranya tak digelar alasannya bencana, padahal yang bencana saja merayakan Natal. Jangan-jangan yang dari donatur digelapkan panitia... kwkwkk."
Unggahan tersebut juga menyertakan potongan gambar berita dari salah satu media terkait kegiatan wartawan dan LSM Sibolga-Tapteng tahun 2025.
Astuty menegaskan tuduhan dalam postingan itu tidak benar dan sangat merugikan dirinya. “Bahwa tuduhan atau pernyataan tersebut tidak benar dan telah mencederai kehormatan serta nama baik saya di ruang publik, sehingga saya melaporkannya ke Polres Tapteng guna diproses secara hukum yang berlaku di NKRI,” kata Astuty kepada wartawan.
Ia berharap pihak kepolisian segera menindaklanjuti laporan tersebut sesuai ketentuan hukum yang berlaku. “Kami yakin dan sangat percaya bahwa Polres Tapteng akan mengusut tuntas apa yang jadi laporan saya hari ini,” ujarnya.
Sebagai bukti awal, Astuty menyerahkan empat lembar print out tangkapan layar unggahan Facebook yang diduga bermuatan pencemaran nama baik dan fitnah. Bukti tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi kepolisian untuk melakukan penyelidikan.
Kegiatan yang Dipersoalkan
Astuty juga menjelaskan unggahan yang beredar di media sosial itu berkaitan dengan kegiatan refleksi diri, doa bersama serta penyerahan tali asih kepada korban banjir bandang dan longsor di wilayah Sibolga dan Tapteng.
Kegiatan tersebut digelar oleh wartawan, LSM dan purna Sibolga-Tapteng pada Sabtu (7/2/2026) di Gereja GPdI Victory, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Pondok Batu, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapteng.
Acara berlangsung sederhana namun khidmat, diawali sambutan Ketua Panitia Simon Situmorang, dilanjutkan ibadah dan penyerahan tali asih kepada wartawan, LSM dan purna yang terdampak bencana.
Simon Situmorang dalam sambutannya pada acara itu sempat menceritakan pengalaman dirinya dan keluarga saat menghadapi banjir bandang dan longsor yang melanda Kecamatan Tukka pada 25 November 2025.
“Satu malam penuh kami berada di dalam rumah dengan genangan air bercampur lumpur dan dentuman kayu-kayu gelondongan yang melintas dari kiri dan kanan rumah. Dentumannya sangat keras sekali. Kalau kayu-kayu itu menghantam rumah kami, mungkin kami tidak selamat,” kata Simon.
Ia mengatakan keluarga mereka baru bisa dievakuasi warga pada pagi hari sekitar pukul 05.00 WIB. “Pagi hari warga sudah ramai di luar dan membantu mengevakuasi kami dari dalam rumah,” ujarnya.
Setelah dievakuasi, Simon bersama keluarga sempat tinggal sementara di rumah warga dekat SMA Negeri 1 Tukka selama tiga hari sebelum akhirnya mengungsi ke rumah mertuanya.
“Barang-barang yang ada di rumah tak ada yang bisa diselamatkan karena semuanya tergenang air dan tertimbun lumpur,” jelasnya.
Pada kesempatan itu, Simon juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur yang telah membantu terlaksananya kegiatan tersebut.
“Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada PT Agincourt Resources Tambang Emas Martabe, PT Pelindo, PLTU Labuhan Angin Indonesia Power, dan para donatur lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu,” ucapnya.
Sementara, Pendeta Suparlin Nainggolan dalam khotbahnya pada acara itu mengajak seluruh jemaat untuk selalu bersyukur atas setiap pertolongan Tuhan.
“Kita hanya memiliki rencana, namun Tuhan yang punya kuasa untuk mengatur segalanya. Apapun yang kita rencanakan, rencana Tuhan adalah yang terbaik,” katanya. (jhonny simatupang)


