![]() |
| CHOKING SUSILO SAKEH. (foto/ist) |
SEBANYAK enam anak buahnya yang menjabat sebagai kepala dinas, mengajukan pengundurkan diri. Dan, Gubernur Sumut Bobby Nasution menanggapi aksi bawahannya itu dengan -- seakan-akan -- bijak bestari penuh makna yang dalam : “Alhamdulillah, Mereka Tahu Diri” (IDN Times, 14 Febr.2026).
Sungguh, ini adalah tanggapan berkelas. Dan itu dinyatakan oleh Bobby Nasution pada medio Februari 2026 lalu, saat ditanya wartawan prihal mundurnya enam kepala dinas di lingkungan Pemprov Sumut.
Tahu diri?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “tahu diri” berarti adalah “mengerti akan keadaan dirinya”. Secara umum, “tahu diri” bisa dimaknai sebagai kemampuan seseorang untuk memahami, menilai dan menyadari posisi, kapasitas, kelebihan serta kekurangan dirinya.
Di dalam Islam, tahu diri adalah kesadaran mendalam akan hakikat diri sebagai hamba Allah SWT yang lemah, terbatas dan membutuhkan rakhmat Allah SWT, serta sadar akan potensi, kelemahan dan tujuan hidup.
Kalaulah benar ke-enam kepala dinas di Pemprov Sumut itu mengundurkan diri karena mereka memang tahu diri -- sebagaimana dikatakan oleh Bobby Nasution -- maka, alangkah mulianya para kepala dinas tersebut. Mereka tidak berupaya mematut-matutkan dirinya agar dikatakan sebagai pejabat yang mumpuni. Mereka pun tidak memaksakan dirinya agar disebut sebagai pejabat yang siap bertanggungjawab. Sebab, ya, itu tadi, mereka tahu diri, bahwa menjadi pejabat adalah pengemban amanah yang mesti dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun kelak di akhirat.
Alangkah mulianya mereka! (Setidak-tidaknya menurut pengamatan Bobby Nasution, selaku atasan mereka). Lantas, bagaimana dengan Bobby Nasution? Adakah ia juga seorang pejabat yang tahu diri?
Wajarlah jika kemudian publik berharap, bahwa Bobby Nasution adalah Gubernur Sumut yang juga tahu diri. Sebab, jika Bobby Nasution mampu menilai mana bawahannya yang “tahu diri” dan mana yang “tidak tahu diri”, itu pastilah dikarenakan Bobby Nasution adalah atasan yang berkelas : pemimpin yang memang juga tahu diri!
*
Publik harus mengakui, bahwa saat empat tahun menjadi Walikota Medan (2021-2025), Bobby Nasution berani mewujudkan ide-idenya melakukan berbagai terobosan pembangunan fisik di Kota Medan. Selain itu, Bobby Nasution juga punya kemampuan mumpuni mendatangkan anggaran dari Pusat untuk ikut membiayai berbagai proyek pembangunan fisik yang dilakukannya di Kota Medan. Terlepas apakah kemampuan Bobby Nasution tersebut karena dia memanfaatkan statusnya sebagai menantu dari Jokowi (Presiden ke-7, 2014-2024) dan adik ipar dari Gibran (Wapres ke-14).
Beberapa proyek fisik yang digagasnya di Medan, diantaranya adalah revitalisasi Lapangan Merdeka, revitalisasi Kebon Bunga, revitalisasi Stadion Teladan, penataan Kawasan Kesawan khususnya pemindahan jaringan kabel atas ke bawah tanah, Pembangunan Gedung UMKM, Pembangunan Islamic Center, Underpass Gatot Subroto dan HM Yamin, Overpass Stasiun Kereta Api, Kolam Retensi Selayang dan Martubung, Floodway Sei Sikambing-Belawan di Selayang, serta beberapa lainnya. Kesemua proyek fisik itu bernilai triliyunan rupiah. Dan sebahagian besar anggarannya, diperoleh Bobby Nasution dari anggaran Pusat.
Wajarlah jika acungan jempol kita berikan kepada Bobby Nasution, untuk keberaniannya membangun proyek-proyek besar tersebut. Juga untuk kemampuannya mencari anggaran dari Pusat. Namun, Bobby Nasution punya satu kelemahan : Lemah pada aspek pengawasan. Bahkan, Bobby Nasution terkesan tak memberi peluang untuk terselenggaranya pengawasan secara ketat terhadap semua proyek fisik yang digagasnya tersebut, baik pengawasan secara internal maupun pengawasan eksternal.
Saat Bobby Nasution mengakhiri tugasnya sebagai Walikota Medan, beberapa proyek fisik tersebut sudah dinyatakan siap dan diresmikan, serta beberapa lainnya masih belum rampung dikerjakan. Di satu sisi, publik memuji bahwa semua bangunan fisik tersebut merupakan legacy yang diwariskan Bobby Nasuion kepada warga Medan. Namun, di sisi lainnya, publik pun secara gampang bisa menyimpulkan bahwa semua proyek fisik warisan Bobby Nasution di Medan itu diduga bermasalah, baik secara hukum maupun secara teknis.
Masih cupak-capiknya berbagai proyek fisik warisan Bobby Nasution di Medan, adalah bukti lemahnya aspek pengawasan pada kepemimpinan Bobby Nasution sebagai Walikota Medan. Pun, saat Bobby Nasution menjadi Gubernur Sumut, maka kasus OTT Kadis PUPR Sumut Topan Ginting oleh KPK, juga menjadi bukti akan lemahnya aspek pengawasan pada kepemimpinanya.
Saat Bobby Nasution menjabat sebagai Gubernur Sumut saat ini, keberaniannya tidak berkurang. Bobby Nasution menjadi satu-satunya Gubernur Sumut yang berani memberi perhatian berlebih kepada Pulau Nias. Tentunya, ini menggembirakan sekaligus mencemaskan. Menggembirakan, karena Pulau Nias mulai diperhatikan secara serius. Dan mencemaskan, karena semua proyek fisik di Nias dikhawatirkan bisa bernasib sama dengan proyek fisik di Medan, jika aspek pengawasan masih tetap saja lemah.
*
Dan, hari ini Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berulangtahun ke 78 Tahun.
Iseng-iseng, cobalah kita membayangkan : andai Bobby Nasution adalah Gubernur Sumut yang tahu diri.
Bahwa, satu-satunya yang abadi di dunia ini adalah perubahan. Jabatan dan pengaruh politik ‘ordal’ sebagai beking, tidak akan abadi. Semuanya akan berubah, cepat atau lambat, sesuai dengan garis dari Sang Maha. Karenanya, Bobby Nasution yang tahu diri, harus mulai mengurangi ketergantungannya kepada ‘Sang Ordal’, dengan lebih mengeksplore kemampuan dan kualitas dirinya sendiri.
Bahwa, aspek pengawasan adalah sisi lemah dari kepemimpinan Bobby Nasution sebagai pejabat publik. Karenanya, sebagai Gubernur Sumut yang tahu diri, Bobby Nasution harus mulai meningkatkan aspek pengawasan, terkhusus berani memberi peluang kepada aparat penegak hukum untuk menilai kinerjanya secara teknis dan hukum.
Selanjutnya, selamat ultah kepada Pemprov Sumut. Selamat kepada Bobby Nasution sebagai Gubernur Sumut yang tahu diri. Mari bayangkan juga : seandainya Sumatera Utara dipimpin oleh gubernur yang tahu diri, maka Sumatera Utara sangat berpeluang menjadi provinsi yang luar biasa!
Mangkanya…
------------------------------------------
*Penulis adalah Jurnalis, warga Sumatera Utara.


