![]() |
| Seorang pekerja Pabrik Peleburan PT INALUM saat melakukan pemeriksaan nomor seri dan kekuatan strapping band sebelum Billiet dikirim. (Foto: Dok. INALUM) |
GEMERCIK air Sungai Asahan dan rimbunnya hutan di kawasan Siruar menyambut siapa pun yang bertandang ke Paritohan, Kabupaten Toba. Suasana kian syahdu kala kabut tipis turun menyelimuti perbukitan; tanpa deru bising kota, hanya suara alam yang sesekali berpadu dengan dengung rendah dari pusat pembangkit listrik PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM).
Pemandangan ini tampak kontras dengan kabel-kabel transmisi raksasa yang membentang tegak, membelah cakrawala menuju pesisir Timur Sumatera. Energi itu mengalir jauh ke Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, tempat pabrik peleburan alumunium berdiri.
Di balik keasriannya, tersimpan "harta karun" berupa energi hidro yang stabil—tulang punggung keberlanjutan yang menyediakan energi bersih dan kompetitif bagi industri nasional. Inilah pemikat utama industri aluminium sejak dekade 70-an yang kini telah bertransformasi total dalam pelukan kedaulatan negara.
Sejarah mencatat langkah panjang perusahaan ini. Didirikan sebagai Perusahaan Modal Asing (PMA) pada 1976, INALUM awalnya berada di bawah kepemilikan ganda Pemerintah Indonesia dan konsorsium asal Jepang, Nippon Asahan Co. Ltd.
Titik balik terjadi pada 9 Desember 2013. Melalui pemutusan kontrak dengan pihak Jepang, Pemerintah Indonesia mengambil alih penuh kendali perusahaan. Secara de jure, INALUM resmi menjadi BUMN pada 19 Desember 2013.
Sejak itu, evolusi tak berhenti. Mulai dari pembentukan Holding Industri Pertambangan (MIND ID) pada 2017 hingga pemisahan fungsi operasional secara mandiri pada 2023, INALUM kian kokoh sebagai garda terdepan hilirisasi aluminium nasional.
Namun, kehadiran raksasa industri ini bukan tanpa tantangan. Bagi warga lokal, industri besar kerap dipandang sebagai "pedang bermata dua": membawa lapangan kerja, namun membayangi lingkungan dengan kecemasan.
"Pikiran negatif sempat muncul soal kualitas air dan polusi. Tapi ternyata tidak. INALUM bukan hanya mengejar profit, tetapi juga memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar," ujar warga setempat, E. Silalahi (56), akhir pekan lalu.
Baginya, kekhawatiran itu kini berganti narasi tentang pelatihan usaha dan beasiswa. "Kami merasa diperhatikan. Harapan kami, program ini bukan sekadar seremonial lomba atau penilaian PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup) semata," tambahnya.
Melahirkan Green Aluminium
INALUM kini tengah merias ulang wajah industri berat Indonesia. Direktur Utama INALUM, Melati Sarnita, menjelaskan bahwa penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) adalah langkah konkret untuk menggantikan energi fosil.
Dampaknya sangat signifikan. Pada 2024, sebesar 94,29% energi produksi berasal dari PLTA, dan angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 95,51% pada 2025. Mengingat peleburan aluminium sangat intensif listrik—sekitar 14.000 kWh per ton—efisiensi menjadi jantung operasional.
INALUM mengandalkan sistem manajemen energi ISO 50001 dan integrasi Life Cycle Assessment (LCA) dari hulu ke hilir. Inovasi di unit pembangkit bahkan mampu menghasilkan penghematan energi hingga 14.232 GJ.
Dari sisi lingkungan, pengelolaan limbah dilakukan secara sirkular; oli transformator diolah kembali dengan teknologi vacuum treatment, sementara limbah non-B3 diproses ulang menjadi bahan baku.
Konsistensi ini membuahkan pengakuan tertinggi: peringkat PROPER Emas dan Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pabrik Peleburan Kuala Tanjung, misalnya, telah meraih PROPER Emas pada tahun 2022, 2024, dan 2025. Sementara itu, operasional PLTA Paritohan meraih PROPER Emas pada tahun 2023.
PROPER peringkat Hijau juga dicatatkan secara berkelanjutan, masing-masing oleh operasional PLTA pada 2022, 2024, dan 2025, serta Pabrik Peleburan pada 2023. Rekam jejak ini menegaskan konsistensi implementasi prinsip ESG di seluruh lini operasional perusahaan.
"Strategi kami melampaui kepatuhan regulasi; ini adalah integrasi prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) melalui investasi teknologi hijau," tegas Sarnita. Komitmen ini juga nyata di lapangan melalui konservasi Daerah Tangkapan Air Danau Toba (DAT), sekitar 2.034 hektar sejak 2018 hingga 2025.
Langkah konservasi ini mendapat apresiasi dari Bupati Asahan, Taufik Zainal Abidin Siregar. "Apa yang terjadi di hulu pasti berpengaruh ke hilir. Dan kita, dilibatkan menentukan wilayah prioritas agar manfaatnya terasa bagi lingkungan maupun ekonomi," ungkap Taufik kepada medanmerdeka.com, Rabu (29/4/2026). Ia berharap capaian PROPER Hijau INALUM menjadi benchmark bagi perusahaan lain agar industri berkembang tanpa mengabaikan kelestarian alam.
Bagi masyarakat, transformasi paling nyata menyentuh nadi kehidupan melalui skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Pemberdayaan UMKM dan pengembangan desa mandiri kini menjadi investasi kapasitas yang terukur melalui terciptanya lapangan kerja baru.
Taufik mengakui respons cepat INALUM dalam bantuan pascabencana dan pembangunan fasilitas pendidikan sangat membantu mengurangi pengangguran. "Transformasi ke industri aluminium hijau adalah peluang emas, mengingat posisi Asahan yang strategis, dekat dengan kawasan Kuala Tanjung," imbuhnya.
INALUM adalah kisah tentang Indonesia yang sedang mendewasakan diri. Perusahaan ini membuktikan bahwa kekayaan alam tidak boleh dieksploitasi hingga habis, melainkan dikelola sebagai warisan. Keuntungan ekonomi tak boleh mengorbankan kesejahteraan manusia di sekelilingnya.
Visi jangka panjang menuju Net Zero Emission sesuai Paris Agreement kini menjadi kompas perusahaan. Melalui transparansi pelaporan dan teknologi ramah lingkungan, INALUM membuktikan bahwa keberlanjutan adalah strategi bisnis yang tangguh.
Di balik kemilau perak aluminium yang dihasilkan, ada air Toba yang harus terus mengalir jernih, hutan yang tetap rimbun, dan harapan masyarakat yang harus terus dipupuk agar tetap tumbuh. Di sini, di jantung Sumatera Utara, industri dan alam akhirnya belajar untuk saling memuliakan. (*)



