![]() |
| CHOKING SUSILO SAKEH. |
TAWURAN terjadi lagi di Belawan. Bahkan, kali ini disertai dengan penjarahan rumah warga. (“Heboh, Rumah eks Polisi di Belawan Dijarah….”, detiksumut, Sabtu 04/04-2026). Lho, kok…
Sepanjang setahun menjabat sebagai Walikota Medan, sudah lebih dari tiga kali Rico Wa’as berbicara tentang Belawan. Sudah lebih tiga kali pula Rico Wa’as berkunjung ke Belawan, yang ujung-ujungnya diakhiri dengan omon-omon tentang Belawan. Bahkan, Rico Wa’as pun pernah memimpin penggrebekan narkoba di Belawan, dengan hasil kosong melompong. Lantas, apa manfaatnya omon-omon Walkot Medan Rico Wa’as tentang Belawan? Apakah omon-omon Rico Wa’as tentang Belawan cumalah koyok-koyok kosong belaka?
“Koyok-koyok” (Diksi Anak Medan = cakap-cakap alias omon-omon) Walikota Medan Rico Wa’as tentang Belawan tersebut, menjadi bukti bahwa sesungguhnya dari seorang walikota tak dibutuhkan koyok-koyok -- apalagi jika koyoknya kebanyakan. Lebih tegas lagi, sesungguhnya koyok-koyok takkan pernah menyelesaikan masalah yang ada.
Selain permasalahan Medan Utara, khususnya Belawan, yang selama setahun ini cuma disikapi Rico Wa’as dengan koyok-koyok saja, maka tumpukan berbagai masalah lainnya, juga minta segera diselesaikan. Misalnya adalah masalah kondisi jalan yang ada di Kota Medan -- baik jalan nasional, jalan provinsi maupun jalan kota -- seperti berikut ini.
*
Seorang warga kota pemilik mobil Avanza melaporkan, ban mobilnya bagian depan sebelah kiri, pecah karena terperosok ke lobang drainase tanpa penutup, yang terdapat persis di badan jalan di dekat perlintasan kereta api di Jalan Perintis Kemerdekan Medan (ig matatelingacom, 13 maret 2026). Beberapa Nitizen kemudian berkomentar, bahwa ini merupakan peristiwa yang kesekian kalinya terjadi di lokasi itu.
Beberapa saat sebelumnya, Muhsin (62 thn), warga Jalan HM Yamin Medan, meninggal dunia karena terjatuh dari sepeda motornya (Sabtu, 14/02-2026), sekitar pukul 23.00 wib. Informasinya, roda sepeda motornya terperosok ke lobang yang ada di tengah badan jalan, di Jalan Perintis Kemerdekaan dekat Sekolah Metodhis 3 Medan. (“Jalan Rusak Kota Medan Makan Korban,……” strateginews, 25/02-2026).
Dan sekitar setahun lalu, seorang warga Medan, David Silitonga (27), tewas ditabrak bus Listrik di Kawasan Jalan Yos Sudarso Medan Labuhan (Kamis, 22/05-2025). Tabrakan terjadi, saat korban mencoba menghindari lobang jalan di lokasi tersebut. (“Terjatuh Saat Hindari Lubang, ….”, detiksumut, Jum’at 25 Mei 2025).
Ini adalah beberapa korban dari kondisi jalan raya di Medan. Masih ada korban-korban lainnya. Dan kesemua korban meninggal atau luka-luka tersebut, gampang ditemukan dengan mengulik dunia maya.
*
Seorang tukang ojek, Al Amin, menggugat perdata Gubernur Banten dan Bupati Pandeglang sebesar Rp 100 miliar. Dasar gugatan itu, dikarenakan penumpang ojeknya, seorang anak SD, tewas saat motornya terperosok ke lubang yang ada di badan jalan raya Labuan-Pandeglang. (“Gugat Pemkab Pandeglang-Pemprov Banten, Ojek Minta Ganti Rugi Rp 100 Miliar”, detiknews, Rabu 25 Febr.2026).
Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusuma, menyebutkan gugatan tersebut menjadi pengingat bagi pemerintah bahwa tata Kelola infrastuktur harus terus diperbaiki secara terintegrasi antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. (“Digugat Rp 100 Miliar Gara-gara Jalan Rusak, Wagub Banten….”, radarbanten, 27/02-2026).
Jauh sebelumnya, Pemko Medan pernah digugat perdata oleh seorang warganya, Galung Hutabarat, pada tahun 1986. Saat mengendarai sepeda motor Vespa membonceng cucunya, sepeda motor Galung Hutabarat terperosok ke lobang yang menganga di tengah badan jalan di dekat Bioskop Astanaria, di kawasan Pringgan Medan. Saat itu, kondisi lubang jalan tersebut tertutup oleh genangan air hujan.
Mahkamah Agung kemudian mengabulkan gugatan Galung Hutabarat. Dan Walikota Medan saat itu, Kolonel (Purn) Bachtiar Djafar, diputuskan membayar ganti rugi serta biaya perobatan.
Menurut Alamsyah Hamdani, Direktur LBH Medan saat itu selaku kuasa hukum Galung Hutabarat, gugatan tersebut memakai jurisprudensi dari kasus yang terjadi di Kota Tiel, Belanda. Pengadilan setempat menghukum Walikota Tiel, karena seorang warganya yang menunggang kuda, terjatuh akibat kelalaian pemerintah kota yang membiarkan kabel telepon semrawut di tengah jalan.
Kini, kita berharap, mudah-mudahan, tidak ada korban akibat lobang di badan jalan yang menuntut Pemko Medan. Dan lebih dari itu, tentunya tidak ada lagi lubang yang menganga di badan jalan di Kota Medan.
*
Selama setahun menjabat sebagai Walikota Medan, entah sudah berapa banyak koyok-koyok kosong yang diucapkan oleh Rico Wa’as. Baik koyok-koyok tentang Belawan, tentang kondisi jalan, tentang kabel yang semrawut, bahkan juga tentang segala hal.
Dan memasuki tahun kedua kepemimpinannya, tak terlihat ada upaya Rico Wa’as untuk mengurangi koyok-koyoknya. Bahwa memang benar, cuma koyok-koyoklah ketrampilan dan kemampuan yang dimiliki Ricio Wa’as menjadi Walikota Medan. Namun, berhentilah kebanyakan koyok. Sebab, sekali lagi, koyok-koyok seorang Walikota Medan Rico Wa’as -- setrampil apapun koyok-koyoknya -- dipastikan tak akan bisa menyelesaikan masalah yang ada.
Masalah Belawan adalah bukti dari tak bermanfaatnya koyok-koyok seorang Walikota Rico Wa’as. Juga kondisi jalan raya di Kota Medan -- berikut beberapa warga yang menjadi korban, pun merupakan bukti lainnya tentang betapa tidak bermanfaatnya koyok-koyok Rico Wa’as. Apalagi jika koyok-koyoknya itu sudah kelewatan banyaknya.
Yang pasti, masih sangat banyak masalah di Kota Medan. Dan kesemua masalah tersebut, tak akan pernah selesai hanya dengan koyok-koyok seorang Rico Wa’as.
Mangkanya…
-----------------------------
*Penulis: Choking Susilo Sakeh, Jurnalis Utama, menetap di Medan.


