Catatan : Choking Susilo Sakeh
BUKAN sesuatu yang aneh, tatkala DPRD Medan menilai bahwa kinerja Wali Kota Medan Rico Wa’as adalah buruk dan memalukan, gagal menjalankan visi dan misi melanjutkan pembangunan. Bahkan lebih tegas lagi : “Kita tidak butuh Wali Kota seperti ini.”
Penilaian keras ini dilontarkan oleh Drs Goodfried Effendy Lubis, Ketua Pansus Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Wali Kota Medan tahun anggaran 2025. (“DPRD Medan Nilai Rico Wa’as sebagai Wali Kota Gagal dan Memalukan”, Sumut Pos, Selasa 28/04-2026).
Yak, sesungguhnya ini adalah penilaian yang teramat masuk akal, dan karenanya bukan sesuatu yang aneh. Sejak awal menjabat sebagai Wali Kota Medan sejak dilantik pada 20 Februari 2025, aku sudah berulang kali dan terus menerus menulis tentang kinerja Rico Wa’as. Dan, kesimpulanku sama persis dengan kesimpulan DPRD Medan : Kinerja Rico Wa’as sebagai Wali Kota Medan adalah buruk dan memalukan!
Dari sekian banyak tugas dan tanggungjawab seorang Wali Kota Medan, misalnya berdasarkan UU No 9 Tahun 2015 tentang Perubahan UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, publik melihat cuma fungsi seremonial belaka yang sukses dilaksanakan secara baik oleh oleh Rico Wa’as. Tampil dengan pakaian necis lengkap dengan atribut, glowing dan rambut pomade, lalu memanfaatkan durasi yang disediakan untuk koyok-koyok panjang lebar. Lalu tepuk tangan, salaman dan foto-foto, untuk kemudian diposting di media sosial.
Akan halnya tentang berbagai permasalahan Kota Medan yang ada selama ini, masih sangat gampang kita temui di setiap saat. Sebab, berbagai permasalahan tersebut, memang tak pernah terselesaikan secara tuntas oleh Rico Wa’as.
*
Sebelumnya, sedikitnya ada dua kali Gubernur Sumut Bobby Nasution nge-gas Wali Kota Medan Rico Wa’as. Pertama, soal penyelesaian akhir Stadion Teladan Medan (“Soal Revitalisasi Stadion Teladan, Gubsu Bobby Nst Sental Walikota Medan”, metro24jam.id, 10/03-2026). Tiga minggu kemudian, Gubsu ingatkan Walkot Medan soal lapangan Kebon Bunga (“Bobby Nst Ingatkan Walkot Medan soal Perawatan Lapangan Kebon Bunga, Dinilai Belum Maksimal”, kaldera.id., 31/03-2026).
Ada beberapa hal yang bisa menjadi pembenar, dari apa yang dilakukan Gubsu Bobby Nasution terhadap Wali Kota Medan Rico Wa’as tersebut. Pertama, ada beberapa proyek kebanggaan dan menjadi legacy Bobby Nasution selama sekitar empat tahun Bobby Nasution menjabat sebagai Wali Kota Medan. Terlepas bagaimana kemudian hasil akhir dari berbagai proyek legacy Bobby Nasution tersebut, maka kelanjutan berbagai proyek tersebut sepenuhnya menjadi tanggungjawab Rico Wa’as sejak Rico Wa'as dilantik menjadi Wali Kota Medan.
Dan Kedua, Bobby Nasution sebagai Gubernur Sumatera Utara adalah ‘atasan’ dari Wali Kota Medan. Karenanya, sangat masuk akal jika Bobby Nasution nge-gas Rico Wa’as, setelah menilai tak terlihat adanya upaya Rico Wa’as untuk mempercepat penyelesaian Stadion Teladan, atau melihat amburadulnya pemeliharaan rumput lapangan bola Kebon Bunga.
Bahwa jika beberapa saat kemudian Wali Kota Medan Rico Wa’as mencopot Benny Sinomba Siregar, paman Bobby Nasution, dari jabatan sebagai Kadis Pendidikan dan Kebudayaan untuk kemudian digeser menjadi Kadis Perpustaan Kota Medan, mudah-mudahan itu bukanlah sebagai upaya ‘balas dendam’ Rico Wa’as kepada Bobby Nasution.
Sebab, jika kemudian terjadi ‘konflik’ antara Bobby Nasution dengan Rico Wa’as, maka sudah bisa dipastikan Rico Wa’as akan semakin tak mampu melakukan apapun untuk Kota Medan.
Apapun itu, kritik DPRD Medan terhadap setahun kinerja Rico Wa’as sebagai Wali Kota Medan tersebut, harus menjadi cambuk bagi Rico Wa’as untuk menjadi lebih baik lagi. Jika memang tak mampu, maka sudah selayaknya Rico Wa’as pamit undur diri saja. Sebab, begitulah penilaian yang dilontarkan oleh politisi senior DPRD Medan, Drs Goodfried Effendy Lubis : “Kita tidak butuh Wali Kota seperti ini.”
Mangkanya…
------------------------------------------
*Penulis adalah Jurnalis, warga Kota Medan.


