Menggusur, Pertanda Walkot Medan Memang tak Layak

Sebarkan:

Catatan : Choking Susilo Sakeh

ADALAH hal lumrah dan semestinya, jika kini kawasan Kesawan menjadi salah satu spot wisata di Kota Medan. Sebab, memang begitulah yang diharapkan, saat Walikota Medan pada masa itu, Bobby Nasution, melakukan penataan kawasan Kesawan Medan, yang perencanaannya dimulai sejak tahun 2021 dan rampung pada tahun 2024 lalu.

Maka, bukan pula sesuatu yang aneh, jika kemudian di kawasan Kesawan kini ramai dipenuhi oleh pedagang angkringan UMKM yang hadir sejak  di awal malam. Kemunculan para pedagang yang mayoritas dilakoni oleh anak-anak muda tersebut, selintas terkesan sebagai upaya menjawab beragam kebutuhan para masyarakat yang berkunjung ke kawasan Kesawan, baik masyarakat setempat maupun wisatawan Nusantara dan luar negeri.

Dan, kalau kita mau lebih cermat lagi mengamati kemunculan para anak-anak muda pengusaha pedagang angkringan UMKM di kawasan Kesawan maupun di beberapa Kawasan Kota Medan lainnya, sesungguhnya itu merupakan upaya kreatif kalangan anak muda Medan di dalam menjawab keterbatasan dan ketidakmampuan pemerintah di dalam menyediakan lapangan kerja bagi warganya.

Kawasan Kesawan yang kini tertata, tentu saja semakin menjadi daya tarik tersendiri untuk semakin ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan. Terutama pada malam hari. Dan sangat wajar jika momen tersebut menjadi peluang bagi anak-anak muda kreatif, untuk menjajakan ketrampilannya di dalam mengelola usaha dengan model angkringan UMKM.

Model-model usaha angkringan semacam ini, ternyata juga ramai di kawasan lainnya. Misalnya di Guru Patimpus hingga Gatot Subroto dan Nibung Raya. Muncul di awal malam, dengan memanfaatkan halaman pertokoan yang telah tutup. Dan para pengusaha muda ini akan menutup usahanya di kala malam telah menunjukkan waktu dini hari.

Kehadiran ratusan anak-anak muda pedagang angkringan UMKM baik di kawasan Kesawan maupun di Guru Patimpus-Gatot Subroto-Nibung Raya, tanpa disadari telah menjadi magnit tersendiri bagi Kota Medan di malam hari. Lebih dari itu, puluhan bahkan mungkin ratusan juta rupiah uang beredar di kawasan ini  setiap malamnya. Juga ratusan anak-anak muda mendapat penghasilan dari tempat tersebut, baik sebagai juragan maupun sebagai pekerja. Belum lagi keterlibatan tukang parkir serta pedagang ikutan lainnya.

*

Lantas, layakkah para pedagang angkringan UMKM di Kota Medan tersebut digusur?

Menggusur, baik itu menggusur pedagang angkringan UMKM ataupun menggusur pedagang Kaki Lima, selalu dilakukan pemerintah daerah dengan alasan dalam upaya menciptakan ketertiban dan penataan kawasan agar tak kumuh, tak macet atau beragam alasan lainnya. Artinya, menggusur adalah cara mudah pemerintah untuk menciptakan kawasan yang, konon, agar dianggap sebagai kawasan yang tertib.

Itulah yang terjadi dan dilakukan Wali Kota Medan Rico Wa’as terhadap pedagang angkringan UMKM Kesawan maupun Guru Patimpus-Gatot Subroto-Nibung Raya. Pedagang angkringan Kesawan misalnya, kembali digusur oleh Satpol PP menjelang akhir bulan lalu (27/04-2026). Sedangkan pedagang angkringan Guru Patimpus-Gatot Subroto-Nibung Raya, telah berulangkali digusur sejak awal kepemimpinan Rico Wa’as.

Meski penggusuran sudah dilakukan berulang-ulang, uniknya, Wali Kota Medan mengaku masih mencari solusi terkait relokasi pedagang Kesawan. Begitu pula soal pedagang angkringang Guru Patimpus-Gatot Subroto-Nibung Raya, Rico Wa’as mengaku masih dalam tahap pembahasan. (“Satpol PP tegaskan Kesawan harus bersih dari pedagang”, Mistad.id., Selasa 28 April 2026).

Namun, di tengah kondisi perekonomian masyarakat yang nyaris lesu saat ini, ditambah lagi dengan keterbatasan kemampuan pemerintah menyediakan lapangan kerja yang signifikan untuk warganya, maka menggusur pedagang angkringan UMKM di Kesawan serta Guru Patimpus dan Gatot Subroto-Nibung Raya tanpa disertai dengan solusi yang jelas, telah menggambarkan tentang rendahnya kualitas kepemimpinan Wali Kota Medan, Rico Wa’as : kualitas kepemimpinan yang tidak cerdas, tidak adil, tidak manusiawi. Dan itu semua muncul, karena jabatan Walikota Medan tersebut memang kelewat berat buat Rico Wa’as yang tidak punya kualitas sebagai Wali Kota Medan. 

Dengan cara gusur-menggusur,  ini semakin memperjelas kepada kita bahwa hingga lebih setahun menjadi  Wali Kota Medan, sesungguhnya Rico Wa’as tak punya konsep tentang bagaimana idealnya menata pedagang angkringan UMKM tersebut. Yang penting, gusur lebih dahulu agar kawasan tersebut dianggap terlihat tertib dan tak kumuh. 

Padahal, banyak cara kreatif di dalam mengelola pedagang angkringan UMKM dengan standar kenyamanan : nyaman bagi Wali Kota Medan, nyaman bagi pedagang angkringan UMKM, juga nyaman bagi semua orang.

Kecuali, buat Rico Wa’as yang sesungguhnya memang tak layak menjadi Wali Kota Medan!

Mangkanya…

------------------------------------------

*Penulis adalah Jurnalis, warga Medan.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com