![]() |
| Sunarji Harahap, M.M. (foto/ist) |
HARI Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 diperingati pada Sabtu, 2 Mei 2026, yang berfokus pada penguatan kualitas, karakter, dan kolaborasi pendidikan yang inklusif. Semangat Ki Hadjar Dewantara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terus menjadi inspirasi bangsa untuk membentuk karakter dengan filosofi 3 pilar yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo (Di depan memberi teladan), Ing Madyo Mangun Karso (Di tengah membangun semangat dan ide), Tut Wuri Handayani (Di belakang memberi dorongan dan arahan) yang menekankan peran pendidik sebagai teladan, motivator, dan pendorong.
Pemerintah Indonesia berkomitmen kuat memajukan pendidikan nasional melalui peningkatan kualitas fasilitas, digitalisasi pembelajaran, dan peningkatan kompetensi guru hingga tahun 2028. Fokus utama meliputi perbaikan sarana fisik, integrasi teknologi di kelas, serta penguatan karakter untuk membangun SDM unggul.
Kebijakan ini juga melibatkan peran aktif pemerintah daerah dalam pemerataan pendidikan, menuntut evaluasi jujur, bukan sekadar seremonial, untuk mengatasi ketimpangan akses dan kualitas pendidikan yang belum merata. Momentum ini menekankan perlunya kolaborasi "partisipasi semesta" dari berbagai pihak untuk mewujudkan keadilan pendidikan serta menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan pembentukan akhlak (adab) di era transformasi digital.
Pendidikan karakter telah menjadi elemen penting dalam dunia pendidikan. Namun, di tengah tantangan era modern yang semakin kompleks, pentingnya pendidikan karakter kian menonjol. Guru dituntut untuk melampaui pengajaran akademik dan membantu siswa mengembangkan kepribadian yang seimbang, tangguh, dan bertanggung jawab.
Berdasarkan Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 tujuan pendidikan yaitu meningkatkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan menghormati Tuhan Yang Maha Esa, bermartabat, berpengetahuan, cakap, kreatif, mandiri, demokratis serta bertangung jawab.
Pendidikan memiliki peran sentral dalam membangun karakter individu, dan salah satu faktor kunci dalam proses ini adalah guru. Peran guru sangat penting d alam membangun karakter kemandirian peserta didik karena guru merupakan tauladan bagi peserta didik.
Dalam membangun karakter siswa, guru berperan sebagai pemandu, fasilitator, dan inspirator untuk membentuk masa depan dengan memberikan pendidikan yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk individu yang memiliki nilai-nilai moral dan keterampilan sosial yang kuat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tengah mengembangkan pendekatan pembelajaran mendalam yang menekankan pemahaman konsep secara holistik. Dengan metode ini, siswa diharapkan tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam berbagai situasi nyata.
Pendidikan karakter adalah usaha terencana untuk menanamkan nilai-nilai etika dan moral pada peserta didik, yang bertujuan untuk membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berintegritas, berempati, dan memiliki akhlak mulia. Fokus utamanya adalah membangun perilaku baik, memberikan pengetahuan tentang baik dan buruk, serta menyaring hal-hal yang tidak sesuai dengan norma dan nilai masyarakat.
Tujuan pendidikan karakter adalah membentuk “model” individu yang mampu mengambil keputusan etis dan bertindak secara bertanggung jawab dalam berbagai situasi, bahkan dalam kondisi “data” (situasi) yang baru dan tak terduga. Pendidikan karakter dalam integrasi pembelajaran mendalam (deep learning dalam konteks pedagogi, bukan kecerdasan buatan) adalah dua pendekatan yang saling melengkapi dan terintegrasi untuk menciptakan proses pendidikan yang bermakna dan transformatif.
Integrasi ini dilakukan dengan memasukkan nilai-nilai karakter ke dalam semua mata pelajaran dan kegiatan sekolah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, serta memerlukan kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk menciptakan kesinambungan.
Di era teknologi, pendidikan harus kembali ke fondasi ahlak, nilai, dan kemanusiaan agar generasi muda tidak kehilangan arah. Teknologi boleh melaju, akhlak tak boleh layu” bukan sekadar slogan, ia adalah peringatan. Teknologi hanyalah alat, tetapi akhlak adalah arah. Ketika alat melaju tanpa arah, yang lahir bukan kemajuan, melainkan kerusakan yang terstruktur
Sampai kapanpun, seorang guru memiliki peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Memang, kemajuan teknologi semakin canggih dan modern. Proses pembelajaran bisa dilakukan melalui berbagai media baik offline maupun online.
Wajah pendidikan kita mengalami banyak transformasi. Berawal dari gagap teknologi hingga berangsur menuju cakap berteknologi. Guru sudah bukan satu-satunya tempat bagi siswa untuk mendapatkan informasi. Bahkan, google lebih canggih dari itu. Apapun yang dibutuhkan, google menyediakan semuanya.
Namun, apakah google menyediakan sosok teladan bagi murid? Inilah peran dan tugas guru yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. Ing ngarso sung tuladha, di depan mampu memberi teladan. Lebih dari mengajar, guru memiliki tanggung jawab mendidik yang tentunya tidak bisa dilakukan oleh mesin pencari seperti google. Guru tidak hanya melakukan transfer of knowledge, melainkan juga transfer of values.
Kesuksesan sekolah dalam membangun pendidikan karakter dapat diukur melalui pembentukan karakter siswa yang bermoral, bertanggung jawab, dan berempati, yang terwujud melalui implementasi yang konsisten dari nilai-nilai inti di seluruh aspek sekolah, termasuk keteladanan guru, kurikulum yang terintegrasi, kegiatan ekstrakurikuler, dan lingkungan belajar yang positif dan kolaboratif. Keberhasilan ini juga didukung oleh keterlibatan aktif dari orang tua dan masyarakat.
Refleksi Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni atau slogan. Guru adalah ujung tombak yang perlu didukung dengan kebijakan yang pro-guru, Selamat Hari Pendidikan Nasional, Pendidikan Berkualitas Untuk Semua, Indonesia Mendunia. (*)
Penulis: Sunarji Harahap, M.M. : Dosen Terbaik FEBI UIN Sumatera Utara/Guru Best Teacher SMA Unggulan Al Azhar Medan.


