Catatan : Choking Susilo Sakeh
TAK ada yang salah, jika seorang wali kota tampil modis : pakaian rapi dan necis, glowing, rambut dibantu pomade, serta gerak dan bicara yang ditata. Pun tak ada yang salah, jika seorang wali kota dengan tampilan modis turun memantau parit yang mampet atau jalan yang rusak.
Tampilan wali kota yang sedemikian itu, baru menjadi masalah tatkala sang wali kota tak juga mampu mengatasi masalah sampah di kotanya, atau bahkan masalah sampah malah menjadi bertambah meriah. Pun menjadi masalah, ketika sang wali kota pergi meninggalkan lokasi parit mampet atau jalan rusak yang dipantaunya, maka tak lama kemudian jajarannya juga ikut pergi -- dan masalah yang dipantaunya itu, akhirnya tetap saja menjadi masalah.
Begitulah yang terjadi di Kota Medan. Itulah yang muncul dari sosok Wali Kota Medan, Rico Wa’as. Maka, wajarlah jika kemudian Tim Pansus LKPJ DPRD Medan Tahun 2025 menilai kinerja Rico Wa’as Wali Kota Medan sangat buruk. “Sangat mengecewakan, sangat memalukan….. Kita tidak butuh wali kota seperti itu,” ujar Ketua Pansus LKPJ DPRD Medan, Drs Godfried Effendi Lubis. (“Ketua Pansus LKPJ Tuding Kinerja Rico Wa’as Mengecewakan”, RMOL Sumut, 30 April 2026).
Soal sampah memang menjadi salah satu masalah yang sangat mengganggu warga Kota Medan, selama kepemimpinan Rico Wa’as sekitar 15 bulan terakhir ini. Keberadaan Tugu Adipura yang dibangun gagah di bundaran Adam Malik-Amir Hamzah, semestinya menjadi pengingat dan pemacu bagi Rico Wa’as untuk menjadikan Medan sebagai kota yang senantiasa tidak jorok.
Faktanya, tampilan Rico Wa’as yang modis tersebut, ternyata tak bermanfaat bagi Kota Medan di dalam menghadapi masalah sampah.
*
Konon, produksi sampah di Kota Medan saat ini berkisar antara 1.500-1.600 ton per hari. Dari jumlah tersebut, entah seberapa banyak sampah yang bisa diangkut setiap harinya ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Sampah di Kelurahan Terjun, Medan Marelan.
Yang kemudian sangat gampang ditemukan saat ini di Kota Medan, adalah tumpukan atau serakan sampah di pinggiran jalan pada beberapa lokasi. Banyaknya tumpukan dan serakan sampah tersebut, memberitahukan kepada kita bahwa tidak semua sampah yang diproduksi warga Medan pada hari itu bisa diangkut semuanya ke TPA Terjun. Mungkin terkendala karena keterbatasan jumlah petugas, atau keterbatasan jumlah kendaraan pengangkut sampah. Atau, mungkin pula ada kendala lainnya.
Adapun prihal Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), itu masih sebatas rencana. Sebab, sebahagian besar anggarannya berharap dari bantuan Pemerintah Pusat.
Prihal lemahnya pengelolaan sampah di Kota Medan yang berdampak kepada kondisi kota yang terkesan jorok, tentu tak bisa dilepaskan dari lemahnya manajemen kepemimpinan dari seorang Rico Wa’as, Wali Kota Medan yang dilantik pada 20 Februari 2025 lalu. Kemampuan Rico Wa’as memenej tampilannya agar senantiasa modis dan necis itu, tak diimbangi dengan kemampuannya memenej jajarannya untuk bagaimana menjadikan Kota Medan bisa tampil bersih dan necis pula.
Dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki Pemko Medan maupun keterbatasan kemampuan manajerial Rico Wa’as sebagai Wali Kota Medan tersebut, maka pada akhirnya menjadi sangat ideal dan penting untuk bagaimana bisa melibatkan peran masyarakat di dalam menciptakan Kota Medan yang tidak jorok.
Namun, pelibatan masyarakat dalam menanggulangi sampah tersebut, tentunya sangat tergantung pula kepada sejauh mana kemampuan kemimpinan Rico Wa’as sebagai Wali Kota Medan di dalam mengajak masyarakat. Konon, di kalangan aparat Pemko Medan saja, Rico Wa’as tak mampu menjadi pemimpin panutan. Bagaimana pula Rico Wa’as bisa mengajak masyarakat untuk membantunya menciptakan Kota Medan yang bersih. Bahwa, pemimpin yang kebanyakan ‘becakap’ ternyata tak elok di mata jajarannya maupun di hadapan warganya.
Pada akhirnya, fakta menyebutkan bahwa tampilan necis seorang wali kota tidaklah menjamin bahwa kota yang dipimpinnya bisa serta merta menjadi necis dan bersih pula. Fakta juga menyebutkan, ketrampilan berbicara seorang wali kota juga tidak menjamin bahwa kota yang dipimpinnya bisa menjadi tidak jorok. Dan, fakta berikutnya : “Necis untuk Semua….”, aikh, itu ternyata memang bukan tagline-nya Kota Medan.
Mangkanya…
------------------------------
*Penulis adalah Jurnalis, menetap di Medan.


